Jumat, 24 September 2010

Quo Vadis Musafir? -

Oleh Aajin Sangmusafir
by Spiritual Indonesia on Saturday, September 25, 2010 at 9:12am

Pengembaraan hidupku membawaku berjalan menyisiri sebuah jalanan kuno di suatu tempat yang tidak begitu ku kenal. “Dari cuacanya yang begini panas mungkinkah ini jalanan di Arab?” Aku bertanya dalam hatiku. Tapi anehnya tidak nampak padang gurun atau rombongan para kalifah dan unta-untanya. Ataukah aku sedang berada di Turki di masa kekuasaan Utsmaniah? Sepertinya cuaca yang kurasakan mengindikasikan hal itu. Sambil terus melangkahkan kaki ini aku mencoba menajamkan kesadaran akan keberadaanku di tempat itu.



Ternyata jalanan sempit ini dua arah. Orang berlalu lalang berjalan ataupun naik kereta kuda hendak pergi dan balik dari dua arah yang berbeda. Ah bodoh sekali aku. Tentu saja jalanan di masa kuno selalu jalan dua arah, emang ini jalanan hotmix di abad 20 atau 21 yang mengharuskan jalan2 tertentu hanya satu arah, atau diberlakukan 3 in 1/



Namun ketika kaki ini melangkah terus, seorang laki-laki muda berjalan dari arah yang berlawanan. Langkahnya yang enteng dan gerakannya yang anggun mencerminkan keceriaan dan keteduhan batinnya. Hal ini menarik perhatiannku. Semakin dekat nampak jelas bagiku dari wajahnya ia bak seorang Arab. Tepat ketika ia berpapasan denganku, ia berhenti dan menyapaku,



“Quo vadis, Musafir?”.



Tersentak kaget aku dengan sapaannya, aku pikir ia akan menyapaku “assalammu alaikum”. Orang Arab apaan ini?



Namun secepat kilat aku tersadarkan. Ternyata sapaan Quo Vadis ini, di ambil dari legenda tentang percakapan Yesus dan Petrus. Suatu saat Petrus yang sudah tua ini, kira-kira berumur 70 tahun lebih, dicari-cari oleh penguasa Romawi karena mengajarkan pengikutnya tentang seorang raja yahudi yang kemuliaannya melebihi kaisar Nero. Padahal hukum di Roma sudah jelas : tidak boleh ada dewa lain bagi bangsa romawi selain sang kaisar, gusti / tuan/ tuhan dan anak dewa. Hanya Kaisar yang layak di dewakan. Kaisar adalah putra Zeus. Mereka yang menyembah raja lain atau menyekutukan sesembahannya melebihi kaisar harus dihukum mati.



Petrus yang sudah renta itu diingatkan oleh para muridnya agar menyingkir ke tempat yang lebih aman, di luar kota Roma. Pagi-pagi buta ia meninggalkan kota Roma, namun di tengah jalan ia “bertemu” gurunya yang 37 tahun ia tak temui lagi setelah peristiwa penyaliban itu. Melihat sang guru berjalan sontak petrus bertanya,



“Quo vadis, domine? Hendak pergi kemanakah engkau, gusti?”.



“Aku akan pergi ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya.” Yesus menjawab.



Mendengar itu menangislah Petrus. “Tadinya aku hendak meninggalkan Roma untuk mencari aman. Namun sekarang aku memutuskan untuk kembali ke kota Roma bersamamu guru. Biar sekalipun aku di salib, asalkan bersama engkau aku rela.”



Demikianlah cerita yang melatar belakangi penangkapan petrus oleh tentara Romawi. Ia disalib terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Ia merasa tak layak untuk disalib dengan kepala di atas seperti gurunya. Dan itu terjadi sekitar tahun 67 M.



“Quo vadis, Musafir?” sapanya sekali lagi. Membangunkan aku dari lamunanku.



“Yesus? Engkaukah yesus? Isa as?” tanyaku tergagap-gagap.



“Sangkamu siapakah aku?”



“Engkau tak seperti yang sering aku lihat di lukisan-lukisan. Seandainya engkau berjanggut tebal dan bersorban, wajahmu cenderung seperti Osama Bin Laden dari pada Ariel Sharon.”



“Hahahha engkau suka bercanda. Ya memang dia masih sepupu jauhku. Tapi kami berbeda misi dan visi.”



Aku tak tahu harus berkata apa atau bertindak apa. Aku diajarkan bahwa para pengikut Nabi Muhammad sering menyapa ‘baginda, rasul’, terhadap yesus yang sederhana ini aku mau sebut apa? Nabi Yesus? Rasul Yesus? Ah….. Aku sudah jengah dengan monopoli kata nabi dan rasul oleh agama2 langitan yang nantinya cuman memperebutkan siapa nabi terakhir dan sempurna. Lebih baik memakai sapaan lain.



Bagaimana dengan kata ‘kyrios’ yang berarti gusti atau Yang Dipertuan? Ini adalah sapaan umum orang yahudi abad 1 masehi untuk orang yang dianggap agung atau suci. Kyrios yesus, gusti Yesus. Tapi justru inilah pangkal masalahnya. Pada jaman yesus, masyarakat dunia masih hidup dalam feodalisme alias mental tuan dan hamba. Begitu pula masyarakat yahudi saat itu sering memanggil orang ternama dengan sapaan kyrios yang berpadanan dengan tuan, gusti, lord, dominggos, monsigneur atau yang dipertuan. Sebenarnya ini sapaan yang lumrah pada jaman itu.



Namun ketika orang Kristen menyapa Yesus dengan sapaan tuan / tuhan Yesus, mereka salah memahaminya. Terutama umat kristen Indonesia dan orang islam seluruh dunia. Mereka pikir sapaan ini sama hakekatnya dengan kata tuhan / theos, atau deus seperti makna sila pertama dalam pancasila, ketuhanan yang maha esa. Mereka tidak bisa membedakan perbedaan makna dari allah dan tuhan, god dan lord, theos dan domingos, gusti allah dengan gusti.



Seandainya saja Yesus lahir di India, pasti dia akan disebut Sri Bagavan, Maharaja atau Guru Ji, dan sapaan2 seperti ini jauh lebih manusiawi. Inilah batu sandungan selama 2000 tahun. Ada baiknya Yesus disapa master saja oleh umat kristen modern. kesalahpahaman ini berawal pada pembahasaan lokal yang dipaksakan pada budaya-budaya lain dan dijadikan mutlak untuk segala jaman dan di segala tempat. Celakanya agama yang menyanjung Kyrios Yesus ini berabad-abad diremajakan oleh bekas bangsa2 politheistik. Sehingga Yesus dideifikasikan jauh melebihi akar-akar kemanusiaannya yang wajar. Dan tidak perlu disebutkan lagi perdebatan kusir antara islam dan Kristen tentang status ketuhanan yesus.



Aku manusia produk abad 21. Panggilan-panggilan berbau feodalis seperti gusti, domingos, bahkan junjunan nabi, sudah tidak layak dipakai dalam era demokratis. Sudah semestinya kita merobohkan tembok2 mitos yang berabad-abad menjulang menutupi cakrawala berpikir kita.



Di tengah-tengah ambiguitas itu, Yesus malah memelukku, mencium kedua pipiku, sebagaimana adat orang Timur Tengah.



“Saudaraku, mengapa begitu kaku dengan segala tuntutan tradisi? Ayo bebaskan dirimu dari semua itu.”



Wah… betapa bingung, tersanjung dan terharunya aku. Seumur hidup aku tidak pernah dicium pipi oleh seorang laki-laki, apalagi oleh seorang Yesus yang lebih muda dariku. Cakep lagi. OMG.



“Mari kita duduk-duduk dan makan di kedai pinggir jalan itu.” Tangannya menunjuk ke sebuah kedai makanan yang tidak aku sadari keberadaannya dari tadi.



Kami duduk, dan yesus memilih-milih makanan. Roma adalah kota metropolitan waktu itu. Segala macam makanan ada. Mulai dari kambing, babi, rusa dan ikan. Dan Yesus memilih panggang sarden yang didatangkan dari pulau Sisilia sebagai menu utamanya. Ia seorang yahudi, tentu tidak pernah memakan daging babi. Aku tak tahu entah harus berkata sial atau alhamdullilah karena ia lebih memilih panggang sarden dari pada panggang babi yang diolesi minyak zaitun yang nampaknya lezat itu.



Dengan sigap ia memecahkan roti yang besar ke dalam piringku (waktu itu nasi belum dikenal di daerah mediterania, coy) dan menaruh ikan2 terbesar kedekatku, sedang ikan2 kecil ia taruh dipiringnya. Begitu pula anggur dan buah2an lain ia taruh dijangkauan tanganku. Tidak lupa pula air anggur langsung dari kirbatnya didatangkan dari Kana di Israel. “Jangan takut bro, aku yang bayar.”katanya.



Waduh…aku terheran-heran. Pantas saja ketika ia hidup banyak orang mencintai dan memujanya. Ia mampu membuat setiap orang merasa spesial dengan caranya yang menyentuh dan hangat. Padahal dalam agama yahudi ada larangan buat kaum yahudi untuk makan bersama dengan seorang kafir. Aku bukan yahudi, tentu saja aku kafir di mata orang yahudi. Tapi sekarang justru Yesus yang yahudi, makan bersama dengan aku yang bukan kerabat dan umatnya. Gratis pula.



Sampai sekarang kebanyakan orang islam memandang kaum dari agama lain sebagai kafir, padahal justru menurut orang yahudi , semua orang non yahudi adalah kafir. Kafir berarti bukan yahudi. Dunia agama memang dunia penuh diskriminasi. Dan kita orang yang dewasa sudah seharusnya menghancur-luluhkan tembok-tembok diskriminasi itu.



“Silahkan dimakan sampai habis. Jangan ada yang tersisa ya,” undang Yesus.



Sementara aku masih terpana, terdiam seribu bahasa tidak tahu harus berkata apa. Aku ucapkan terima kasih dan kemudian kami makan. Tak lama kemudian aku mencoba mencairkan suasana.



“Mmmmm Yesus, aku tak tahu harus memanggilmu apa? Mungkin aku harus memanggilmu Shahhid (yang berarti yang bersaksi – dan juga diambil dari asma Allah ash-shahid - sang penyaksi), dari pada memanggil namamu langsung.”



“Wah, kenapa mesti sungkan sungkan seperti itu? Kau boleh memanggilku, Yesus, bro, atau Comrade- J

(Kamerad Jesus, maksudnya).” Tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata sebuah topi. Astaga, Yesus seperti Che Guevara. Cakep, keren, sedikit kumal dan tetap menawan. Proletar banget nih nabi.



Kelucuan Yesus membuatku tertawa.



“….atau kau boleh panggil nama kecilku, Josh”



“Josh?”



“Yah, nama lain ‘Yesus’ itu kan Yeshua atau Yoshua atau Joshua. Makanya waktu kecil aku dipanggil Josh.”



“Rasanya aku pernah dengar kata Joshua itu….dimana yah?”



“Mungkin kau tidak tahu, menurut bible, Joshua adalah penerus dari Musa.”



“Oh ya……. Aku ingat nama ini. Joshua yang memimpin bangsa Israel merubuhkan tembok besar itu khan?”



“Yahhhh tembok kota Jericho.”



“Dan itu cerita mitos itu khan? Bohongan khan? …..hehehehehe mana mungkin ada tembok yang dikelilingi oleh orang yang bernyanyi2 langsung bisa rubuh. Mitos -mitos sahibul ngibul hikayat…… Upppppsss," aku menutup mulut. Keceplosan.



“Hahahha tidak apa2. Aku tahu itu. Tenang saja. Bro, kamu harus ingat, budaya berpikir modern yang runut, rasional dan analitis baru benar-benar lahir pada masa renaisans dan mendapat bentuk yang lebih rigid pada jaman Aufklarung di abad 18 & 19. Sebelum itu budaya manusia didasarkan pada mitos-mitos dan tradisi oral. Sehingga ada benturan cara berpikir.”



Aku terpesona dengan cara berpikir yesus ini. Ternyata dia tahu masalah mitos2 yang menyelubungi sejarah agama2.



“Apa kau pikir aku tidak belajar selama dua ribu tahun terakhir ini? Sory-sorry sorry bro, jangan kau remehkan aku,” candanya sambil meniru gaya Sinta dan Jojo yang lipsing lagu Keong Racun.



Aku tertawa terpingkal-pingkal.



“Tapi mengapa ketika engkau berkarya di bumi, engkau tidak jelas mengatakan bahwa itu semua mitos? Bahwa Adam-hawa, Nuh, Ibrahim, Musa dan Yoshua itu mitos?”



“Aku terlahir sebagai seorang mistikus, penggiat kebajikan dan jalan kesucian. Aku bukan seorang kritikus sastra dan theolog. Untuk apa aku asyik membongkar-bangkir mitos, tapi di depan mataku banyak orang tidak diperlakukan manusiawi? Adilkah bagiku, sebagai seorang Yahudi abad 1, dipaksa harus menjungkirbalikan mitologi padahal metodologi berpikir seperti itu baru ada belasan abad sesudah kematianku?”



“Hmmmmmm benar juga yah…..?”



“Apakah engkau tidak ingat tahapan peradaban menurut August Comte? Bagaimana mungkin aku dituntut untuk mencerdaskan bangsaku berpikir positivistic padahal kemajuan berpikir manusia belum secanggih itu? Sebagai seorang manusia yahudi abad 1 masehi cakrawala berpikirku tidak mungkin jauh melampaui worldview orang-orang sejamanku.



Namun, seandainya aku boleh excuse …… adalah bangsa yahudi yang memulai mitos-mitos itu, namun adalah bangsa yahudi pula yang menghancurkan mitos-mitos tersebut. Lihatlah selama ratusan tahun terakhir ini cucu-cicit sepupu2ku seperti Spinoza, Freud, Karl Marx, Einsten, Erich Fomm, Abraham Maslow, Morrie Schwartz, Theodore Adorno, Jurgen Habermas dan begitu banyak saintis baik yang meraih Nobel atau tidak, yang berasal dari kaum yahudi. Mereka berkarya mencerahkan peradaban lewat cara mereka masing-masing, dengan kelebihan dan kekurangan agar manusia sejagad mulai beranjak dewasa.



Begitu pula beberapa ahli kepurbakalaan seperti Silbermann dan Finkelstein yang memprakarsai penyelidikan tentang tembok Jericho secara independen yang kau sebut-sebut tadi. Di tempat mana kesalahan itu berasal, di tempat itu pula koreksi harus dilakukan.



Bro, bagi penggiat kemanusiaan sederhana sepertiku, segala alat kebaikan yang ada di depan mata, jadikan itu alat kebaikan untuk meningkatkan kemanusiaan dan kedalaman makna hidup. Mengapa mesti terjebak dengan masalah fiksi atau fakta saat di depan mata ini nilai-nilai kemanusiaan di renggut?



Ingat bahwa aku bukanlah teolog. Aku seorang mistikus. Adalah tugas teolog untuk menafsirkan kitab sesuai konteks jaman. Dan sedari awal aku selalu katakan bahwa hukum rohani itu terpatri dalam hati dan pikiran yang mengarah pada kebenaran. Kitab hanyalah kitab. Begitu terbatas, multitafsir dan mudah mengandung debat kusir. Apa pernah aku menulis sebuah kitab?



Lihatlah alam semesta, berkacalah pada alam, dan hiduplah selaras dengannya, maka dengan sendirinya engkau akan melampaui kitab-kitab. “



Gila. Yesus ini benar-benar seorang naturalis. Maka dari itu khotbah2nya selalu berkenaan dengan keindahan alam, bunga bakung di padang, rumput , serigala dan lubangnya, domba, burung pipit, ikan dsb.



Luar biasa Yesus ini. Seakan-akan aku tidak sedang berbicara dengan seorang nabi atau rabbi, melainkan seorang romo katolik sekaligus professor filsafat. Aku tak pernah ragu bahwa orang-orang Yahudi pada umumnya pintar. Mereka adalah bangsa kecil yang selalu hidup di ujung tanduk. Eksistensi mereka selalu terancam punah. Dengan tempaan yang begitu hebat, otak mereka diasah, mau pintar atau terhapus dari muka bumi.



Kenyataan ini yang membuat orang arab dan islam iri. Dan alih-alih rasa iri ini dijadikan alat untuk berkompetisi, kita malah berbalik menjadi benci. Sudah jadi pemahaman umum bahwa orang islam menganggap kaum yahudi sebagai laknatullah, kaum yang dikutuk allah ta’ala. Dari dulu sampai sekarang disebarkan isu bahwa kaum yahudi merajai ekonomi, licik, penuh tipu daya. Para pemimpin arab tidak pernah merasa PeDe sebelum mereka didepan umum menyumpah-serapahi yahudi dan berniat mengenyahkan Israel dari peta dunia, spt halnya Ahmaddinejad. Sungguh seorang pemimpin rasis, fasis dan berotak kadal. Seandainya ia dilahirkan jadi orang yahudi, apa ia mau orang lain menyumpah serapahi kaumnya?



Kita sering menikmati gossip-gosip murahan bahwa islam dijadikan korban oleh barat dan yahudi. Bahwa yahudi menguasai ekonomi dunia dll. Dan kita dengan teganya mengiblis-ibliskan mereka. Kita bereaksi emosional ketika tentara Israel membalas serangan Hamas, namun kita pura-pura tidak tahu bahwa anak-anak yahudi yang sedang bersekoleh diroketi oleh Hamas. Mengapa kita tidak bisa jadu manusia yang sepenuhnya manusiawi?



Kita mencaci maki yahudi dan barat, “ Down with Israel!” Padahal di saat yang bersamaan kita menikmati berkah dari buah otak mereka, yaitu penemuan2 sains, dan IT seperti halnya Microsoft, google, dan FB. Tidak bisakah arab dan islam beranjak dari inferioritas kekanak-kanakan ini dan mulai berpikir manusiawi dan dewasa?



Kebencian Muhammad dan islam pada yahudi diawali karena inferioritas. Dan inferioritas yang ditemani senjata pada gilirannya melahirkan tindakan anarki. Kaum yahudi digenosida dan umat non islam lain dipaksa jadi islam atau harus rela dijadikan dhimmi. Bukannya kita merasa malu dengan sejarah tidak manusiawi ini, malahan sebagian dari kita ingin kilafahisme ini ditegakkan lagi di Nusantara. Sungguh bodoh. Bodoh sekali cara berpikir ini.



Oh Ibu Pertiwi menangislah engkau, karena anak-anak bangsa ini telah menghempaskan harga dirinya jauh-jauh hanya demi ideologi buta. Oh Nusantara meraunglah bagaikan ibu yang baru kehilangan anak yang dilahirkannya, karena anak-anak bangsa ini lebih memilih ajaran-ajaran cangkang dari pada isi. Mereka mengaggung-agungkan ajaran2 lahiriah dan menyanjung-sanjung kulit dari pada inti.



Lihatlah hai putra-putri Indonesia, jika engkau terus menerus melekat pada agama-agama lahiriah, maka anak-cucumu bahkan akan lebih bodoh dari pada generasi-generasi sebelumnya. Mereka akan hidup dalam keterbelahan jiwa. Jiwa mereka terbelah antara syahwat romantisme psikologis akan kilafahisme, dan realitas dunia yang memulti-wajah dan terus berubah.





“Shahid , apa pendapatmu tentang konflik Israel dan Palestina?” tanyaku.



Yesus tertunduk sedih. Ia tak kuasa meneteskan air mata.



“Jujur aku tidak bisa berkata apa2. Semua umat manusia adalah saudaraku. Kalian yang hidup 20 abad dariku jaman aku hidup kenapa tidak melangkah lebih maju, berpikir jernih melampaui batas-batas budaya, ras, dan agama? Tangggalkanlah senjata, jauhi kekerasan dan kedepankan perdamaian. Namun itu selalu nampak mustahil di depan tembok-tembok keangkara murkaan, radikalisme agama dan kecurigaan agama.”



“Bagaimana dengan status kota Yerusalem Timur?” pancingku.



“Mau jawaban jujur atau jawaban liar?” jawabnya sambil tersenyum.



“Dua-duanya.”



“Hahhahahaa. Jawaban jujur: aku tak tahu, dan please jangan paksa aku melakukan hal yang tak kusukai yaitu meramal ‘akhir zaman’. Jawaban liar : sebaiknya penduduk Yerusalem diungsikan saja ke daerah yang lebih subur. Kota Yerusalem itu di ratakan saja dengan tanah, kemudian dikeruk dan dijadikan danau buatan. Di sekelilingnya ditumbuhi pohon2 hijau. Jangan ada pemukiman penduduk, tapi bangunlah pusat2 kepedulian pada manusia dan bumi seperti halnya Greenpeace, WWF dan rumah sakit-rumah sakit dsb.”



“Wah Shahid, anda benar2 revolusioner,” pujiku.



“Sedari awal pelayananku di bumi sudah kukatakan bahwa allah adalah roh, menyembah allah adalah menyembah roh, karena ia adalah roh maka ia tidak menempati suatu ruangan tertentu, ia tidak melekat pada kota tertentu, ia tidak di dapatkan di bait Salomo, Tembok Ratapan dan Mesjid Kubah Emas di Yerusalem. Ia tidak akan ditemui di Kabah di Mekkah, ia tidak akan ditemui di sungai Gangga dan Sungai Yamuna. Ia tidak menempati ruang masjid, gereja, pura dan vihara.



Dan jikalau allah itu roh dan roh itu itu hidup, maka roh itu hadir nyata dan mewujud dalam tubuh ini. Dalam nafas ini. (dalam bahasa yunani roh adalah spirit & pneuma, bahasa ibrani ruakh dan nefesh, begitu jg bhs arab ruh dan nafs, semuanya berarti angin dan nafas ). Dalam tubuh yang masih bernafas inilah tuhan, allah, theos, bapa, adonai, kyrios, dapat ditemukan. Dalam tubuh inilah surga neraka tuhan dan iblis terwujudkan. “



Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku teringat masalah nyata di Indonesia selama tahun-tahun belakangan ini, pembakaran gereja-gereja, penghancuran mesjid ahmadiah…….. oh ibu pertiwi sampai kapan darah dan air mata bersimbah di negeri ini.



Mengapa bangsa ini gemar akan agama-agama lahiriah yang hanya mengedepankan bentuk dan dogma? Kenapa tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal?



Begitu pula pemerintah selalu ketakutan menghadapi emosi mayoritas, sehingga kebijakannya tidak pernah obyektif. Pemerintah dan partai politik hanya mendengar kaum minoritas manakala ia ingin mengumpulkan suara dalam pemilu saja.



Di akar rumput, berjemaah di mesjid dan bergereja hanyalah identitas sosial agar ia diakui masuk ke dalam kelompok tertentu – asalkan tidak disebut atheis atau agnotis - dan bukan karena panggilan batin untuk memanusiakan diri ini. Gereja-gereja dibangun sering kali hanya atas dasar syahwat pemujaan dan identitas kelompok. Berapa banyak umat Kristen yang sering merenungkan kata-kata yesus ini?



“Runtuhkan bait allah ini dan dalam 3 hari aku akan membangunnya kembali.”



Tubuh inilah gereja sejati. Dunia inilah ladang ilahi. Bukan ladang agar umat lain jadi kristen atau setuju dogma kristen, melainkan ladang dimana cinta kasih dan kemanusiaan ditabur, dibuahi, disemai dan dituai.



Waktu mengalir tanpa terasa. Kami hanya berdiam dan menyelesaikan makan kami. Namun dalam diam dan hening justru getaran sejuta makna mengalir tak terbendung.



Akhirnya waktu membawa kami pada saat-saat yang tak diinginkan. Saat perpisahan. Maka Yesus bertanya kepadaku,



“Quo vadis, musafir? hendak kemanakah engkau hai petualang hidup?”



“Oh Shahid, aku akan kembali ke negeriku. Akan aku sampaikan kepada umat manusia tentang kisah ini, tak peduli begitu tebal tembok ketegaran hati mereka. Tak peduli betapa sukar kata-katamu untuk diselami baik itu oleh umat kristen dan islam.”



“Kita sama-sama ditakdirkan untuk menghancurkan kebodohan dan kemunafikan agama, oh Musafir.”



“Dan engkau Shahid, quo vadis? Hendak kemanakah engkau pergi setelah ini?”



Yesus bediri dan tersenyum.



“Musafir, engkau tidak akan pernah tahu apa yang aku telah lakukan pada umat manusia selama 2000 tahun ini. Namun inilah rahasia yang bisa kukatakan kepadamu :



Hakikat sejati tidak pernah pergi kemana-mana. Ia tidak datang ataupun pergi.

Diri yang sejati tidak kotor, pula tidak murni. Ia tidak terlahirkan, tidak pula mati. Karena ia tidak terlahir, maka ia tidak pernah mati. Ia tidak membentuk dan tiada pula melebur.



Ia tidak muncul dan tidak pula lenyap. Karena ia tidak mengambil suatu bentuk maka ia tidak melekat pada sesuatu. Karena ia tidak melekat pada sesuatu, maka tidak ada kesedihan padanya.



Ia hanya sadar akan 'ada'nya. Ada bukan karena ada dan tiada, namun Ada yang melebihi ada dan tiada.”



Mendengar ucapannya yang lembut namun menggelegar, berisikan rahasia tak terselami, tak disadari bibir ini berucap:



“gate-gate paragate parasam gate bodhi svaha. ”



Mendengar itu Yesus mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum renyah.



Kemudian ia memelukku. Mencium kedua pipiku, sambil berucap salam. “assalammu alaikum.”



Karena ia memakai bahasa Arab, maka sebagai balasan akan keramahannya akupun menjawab dalam bahasa Ibrani, “Aleichem shalom”.



Dari langit terdengarlah suara-suara yang indah menggelegar menembus sukma. Nada-nada indah tak terperikan menggema di udara dan di relung hatiku. Kidung pujian semesta mengantarkan perpisahan kami. Cakrawala nampak berpendar-pendar. Warna-warni menyilaukan berganti.



Dan kemudian….gelap.



Aku membuka mataku, mencoba menyadari keberadaanku dalam ruang dan waktu yang nyata. Ternyata aku jatuh tertidur di meja kantorku dan bermimpi. Saat itu aku tengah mempersiapkan jadwal kerja untuk besok pagi. Sementara MP3 yang aku pasang sedari tadi masih berjalan. Tepat pada saat ini mengalun lagu yang indah dari Sarah Brightman Time to Say Goodbye. Apakah lagu ini yang aku dengar dalam mimpiku? Lagu yang menghantarkan perpisahanku dengan Yesus?



Lapat terdengar lirik lagu yang penuh arti ini …… mengiringi air mataku yang jatuh berderai mengingat pertemuanku dengan Yesus.

Sesungguhnya kesadaran ilahi itu tak pernah pergi dari manusia. Jalan dan jembatan yg menghubungkan yang ilahi dan yang insani sebenarnya tidak pernah ada.



Karena yang ilahi dan yang insani tidak pernah terpisahkan.



Oh yang ilahi dalam diriku, bersamamu akan kuarungi samudra raya hidup…menuju pantai seberang. Amin. Sadhu.Svaha.

………

When you were so far away

I sit alone and dream of the horizon

Then I know that you are here with me, with me

Building bridges over land and sea

Shine a blinding light for you and me To see, for us to be 



Time to say goodbye

Horizons are never far

Would I have to find them alone

without true light of my own with you

I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye



so with you I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye



so with you I will go...



I''ll go with you!

(saya tak tahu persis apa yang ada dalam benak si penulis lagu ini, namun bisakah anda memahami makna terindah dari lagu ini sebagai pengembaraan rohani dalam hidup ini?)

Rabu, 22 September 2010

Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara

- Oleh -Adi Putra IWayan-
by Spiritual Indonesia on Thursday, September 23, 2010 at 9:24am

Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam kejawen, karena bukan lah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar. "Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya".



Semoga hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi





MELURUSKAN MAKNA



Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “memayu hayuning bawana”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.



Aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan jagad besar alam semesta.





PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN & HARMONISASI



Sesaji atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari benernya sendiri). Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.





HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN WAHYU TUHAN



Dalam konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki. Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.



Mekanisme kehidupan di alam semesta adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.





WAHYU PURBA



Anugrah tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.



Walaupun manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.





WAHYU DYATMIKA



Barang siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan “jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika. Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.





HUBUNGAN MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN



Mantra adalah Teknologi Kuno



Perlu kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam. Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni;



1. Khusus menurut fungsinya; hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk penyembuhan.



2. Mantra khusus menurut sifatnya; dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah ajal.





Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah Kaprah



Terdapat pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet, itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan” atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi primitif.





Hamemayu Hayuning Bawono & RAT, serta Pangruwating Diyu



Di atas telah kami singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada. Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden. Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating diyu” (lihat posting; “Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono). Dalam rangka panembahan pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil (pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.



Bentuk panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan (harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya seisinya. Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.



Sayang sekali, zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif, yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis ! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom), pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.



Itulah, wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina).





Frequently Asked Questions…??!!



Lantas…di mana sih peran agama (ku), peran ajaran, budi daya, katanya kita berada di dalam bangsa yang agamis, budaya yang luhur, penuh ajaran spiritual, peran ilmu pengetahuan, teknologi tinggi. Cukupkah hanya berdoa dan berzikir di mulut saja, sambil berharap-harap Tuhan bersedia merubah nasib bangsa ini ??? Atau jangan-jangan terlalu sibuk saban hari berpamrih menghitung-hitung pahala ??? MASIH KURANGKAH TUHAN MEMBERI ANUGRAH ??? Kapan mau bersyukur ? Teramat pentingkah bersukur HANYA di mulut saja dengan ucapan 100 kali, 1000 kali, bahkan 1.000.000 kali ? Atau mau enaknya saja tanpa susah-susah mewujudkan syukur dalam perbuatan nyata ? NURANI sendiri yang tahu jawabnya.



Lir sarkara, wasianing jalmi Ambudiya budining sasatnya Memayu yu buwanane, Ing reh hardaning kawruh, Wruhing karsa kang ambeg asih, Sih pigunane karya, mBrasta ambeg dudu, Mengenep nenging cipta, Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik, Memuji tyas raharja



- Kelimis Ireng -

Senin, 20 September 2010

SYEKH SITI JENAR THE SECRETSYEKH SITI JENAR THE SECRET

by Kandjeng Pangeran Karyonagoro


Setuju atau tidak, kehadiran mistik Syekh Siti Jenar telah mewarnai kehidupan mistik Kejawen. Mistik ini memang unik dan banyak menimbulkan kontro versi. Terlebih lagi, ketika Syekh Siti Jenar berbicara tentang Tuhan dan kematian, mungkin dapat mengundang kebencian. Namun, sebagai sebuah wacana kultur mistik kejawen hal ini pun patut diketahui. Ada yang berpendapat bahwa ajarannya termasuk golongan keras, bukan lembut dan sejuk. Dia lebih banyak menyampaikan mistik tajam, bukan lembut.

Berbicara tentang Syekh Siti Jenar dalam konteks mistik memang sering diperdebatkan. Setidaknya, banyak pihak selalu meneror bahwa dia penganut ajaran sesat. Dia menyimpang dari petuah wali. Sementara itu, ada juga yang masih angkat topi terhadap paham mistik dia. Paling tidak, yang setuju ini akan berkilah bahwa Syekh Siti Jenar bukan penganut mistik yang sesat. Jika ada yang mengatakan demikian, berarti pemahaman mistiknya masih sepotong-potong.

Memang, belakangan sempat muncul dua versi kematian Syekh Siti Jenar – yang mengimplikasikan dia berada di pihak yang salah atau benar. Pertama, di kalangan pesantren selalu ditekankan bahwa kematian Syekh Siti Jenar dihukum pancung. Alasan hukuman adalah ajaran dia yang dianggap menyesatkan masyarakat. Kedua, seperti yang pernah dikisahkan Abdul Munir Mulkan dalam bukunya Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2002) dan Achmad Chodjim dalam bukunya Syekh Siti Jenar, Makna Kematian (2002) - dia mati karena memilih kematiannya sendiri. Proses semacam itu, senada pula dengan kematian pujangga besar Jawa R. Ng. Ranggawarsita – di satu pihak ada yang mengisahkan dia mati terbunuh dan di lain pihak di mati karena mimilih jalan kematiannya.

Bagi pemerhati mistik kejawen, yang penting bukan pada masalah ajaran Syekh Siti Jenar sesat atau tidak, melainkan perlu dipahami – mengapa Siti Jenar memandang dunia se-bagai “alam kematian”. Sedangkan para Wali Sanga tidak demikian halnya. Inilah tesis mistis Siti Jener yang luar biasa di zamannya. Karena, dia justru telah jenius memikirkan hidup sebagai hakikat. Dia super cerdas dan lebih berpikir tasawuf atau mistis ketimbang berpikir yang lugas.

Mari kita renungkan ajarannya tentang hidup dan kehidupan secara mistis. Dia berpendapat bahwa hidup yang selalu sedih, sengsara, kebingungan, dan sejenisnya adalah penjara. Ini bukan hidup di alam kehidupan, melainkan hidup di alam “kematian”. Manusia yang demikian sedang terpuruk dalam kematian hidup. Manusia yang terdegradasi nilai, yang curang, yang keras, yang korup, dan sebagainya adalah manusia yang telah mati menurut Siti Jenar. Jika demikian, berarti dunia ini telah dipenuhi berjuta-juta mayat yang kotor, bangaki yang amis, dan struktur kehidupan yang mati tak karuan pula. Tak sedikit mayat yang kejar-kejaran mengais rejeki yang haram. Tak sedikit pula mayat yang berebut kedudukan. Apakah asumsi mistis semacam ini sesat???

Dia berpendapat bahwa di era kematian ini, manusia terikat oleh pancaindera. Kondisi ini bukan eksistensi yang sesungguhnya. Hidup nyata baru akan ditemukan setelah mati. Di sana keadaan terang benderang, dan semua hal yang mengandung kebaruan. Manusia tak lagi harus didampingi siapa-siapa. Manusia akan hidup mandiri. Siti Jenar berpandangan bahwa hidup setelah mati lebih indah dan lebih segalanya. Karena itu, dia rindu kematian. Dia sangat rindu terhadap alam real ketika dia belum jatuh ke kematian. Dia ingin kembali dalam keadaan suci atau semula, ketika belum kotor.

Untuk itu, Siti Jenar mengajarkan bahwa hidup manusia akan mengalami proses mistis. Ajaran dia, tersimpul ke dalam lima pokok wejangan, yaitu :

1.

Ajaran asal-usul kehidupan atau Sangkan Paraning Dumadi,
2.

Ajaran tentang pintu kehidupan,
3.

Ajaran tentang tempat manusia esok hari yang kekal dan abadi,
4.

Ajaran alam kematian yang sedang dijalani manusia sekarang,
5.

Ajarang tentang Yang Maha Luhur yang menjadikan bumi dan angkasa.

Kalau demikan, apakah ajaran dia memang gelap? Tidak. Dari lima jalan kehidupan yang dia ajarkan, jelas positif. Yang menjadi masalah, mengapa dia selalu mendapat “cap merah” ketika itu? Mengapa konteks ajaran demikian membuat wali sanga marah? Pasalnya, ajaran Syekh Siti Jenar yang demikian dianggap tak sejalan dengan ajaran wali.

Kiranya, semua itu yang keliru adalah penerapan mistik Siti Jenar yang disalah artikan. Tak sedikit memang orang yang menerima wejangan dia, lalu berbuat onar, bernuat jelek, bunuh diri, dan seterusnya. Pendek kata, tak sedikit di antara mereka yang segera ingin mati, karena hidup di kelak kemudian hari justru lebih sempurna. Kalau begitu, yang keliru adalah cara menjalani ajaran Siti Jenar, bukan ajaran itu sendiri. Cinta mati kan sebenarnya bagus, tetapi jika mereka segera ingin mati dengan jalan tak wajar, ini yang salah. Padahal, sejauh pemahaman saya, Siti Jenar tak mengajarkan orang harus bunuh diri, ini masalahnya.

Guru Mistik Sejati

Syekh Siti Jenar sesungguhnya tergolong guru midtik yang brilian. Dia guru mistik sejati yang tahu berbagai hal. Dia juga dikenal sebagai guru sekaligus wali yang menyebarkan Islam Jawa di tanah Jawa secara kontekstual. Dasar penyampaian ajarannya adalah realita, karenanya dalam berbagai hal ada yang disesuaikan dengan kondisi Jawa. Karena itu, ketika Ki Ageng Pengging tidak mau sowan ke Demak Bintara sebagai pembangkangan atas ajaran Siti Jenar, peristiwa ini masih perlu ditinjau lagi. Bukankah di dalam karya berjudul Syekh Siti Jenar itu, Ki Ageng Tingkir juga telah mengingatkan secara politis terhadap tindakan Ki Ageng Pengging??

Dalam kaitan itu, Ki Ageng Pengging memang menjadi manusia bebas. Ia hidup di bumi Tuhan, bukan bumi Demak. Paham semacan ini, kalau dipahami secara politis tentu akan keliru. Paham ini perlu diterjemahkan dari aspek mistis bahwa hakikat hidup memang kebebasan itu. Manusia bebas hidup di mana saja. Manusia bebas menentukan apa saja, sejauh dalam kerangka Tuhan. Kalau begitu apakah pandangan Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga itu salah? Tokoh yang semula tergores mistis dalam syair Semut Ireng lalu ada baris berbunyi : kebo bongkang nyabrang kali Bengawan (kerbau besar yaitu Kebokenangan yang menyeberang ke sebelah barat Majapahit), sebenarnya mulia. Dia pernah lari dari Majapahit, karena tak mau mengikuti ajaran yang disampaikan Sabdopalon dan Nayagenggong.

Itulah sebabnya, dengan mengikuti paham Siti Jenar, Ki Kebokenanga tidak taku menghadapi resiko hidup. Hidup bagi dia adalah pilihan. Kematian bagi dia bukan hal yang sengsara, andaikata harus menerima hukuman mati. Bahkan menurut dia, takdir baginya sulit ditunda. Bagi dia, yang selalu dikendalikan Yang Maha Kuasa. Biarpun utusan Demak datang, dia tidak takut menhadapi bahaya. Karena, di situlah dia berjuang untuk hidup. Dalam perjuangan itu, jika selesai tugas kejiwaannya akan segera kembali ke alam aning anung yaitu alam bahagia, tentram, abadi.

Yang menarik lagi dari pandangan dia adalah persoalan belajar (berbudaya). Jika hewan berdasarkan insting, manusia Jawa mengikuti guru. Dalam pandangan Islam Jawa, setidaknya ada empat macam guru :

1.

Guru Ujud, yaitu seorang guru biasa, seperti guru di sekolah, guru mengaji, dsb.
2.

Guru Pituduh, yaitu guru yang bertugas memberi petunjuk kepada murid-muridnya.
3.

Guru Sejati, yaitu guru yang memahami hakikat hidup. Guru ini akan mengajarkan bagaimana menempuh jalan kematian, kesempurnaan, kelepasan.
4.

Guru Purwa, yaitu guru yang tertinggi. Ia ibarat manifestasi Tuhan. Dia mengetahui kodrat dan iradatnya.

Tampaknya, Syekh Siti Jenar meletakkan dirinya pada guru sejati dan guru purwa. Hal ini tampak pada pembahasan tentang kematian dia. Masalah proses dan makna kematian, digambarkan dari aspek psikologi Islam Jawa. Proses kematian dan maknanya ditinjau dari aspek kehidupan kejiwaan (psikologi Jawa), manusia harus melepaskan nafs (napas), napas adalah batin (rasa) yang keluar masuk dalam raga. Nafs terdiri dari tujuh tataran kejiwaan, yaitu : jiwa al amarah, jiwa lawwa-mah, jiwa mulhamah, jiwa mutmainah, jiwa spiritual, jiwa lubbi-yyah (kosmik), dan jiwa rahsa (nirwana).

Jiwa al-amarah yang berfungsi mengoperasikan organ tubuh, tak sekedar membuat orang marah. Jiwa lawwamah, yaitu jiwa yang letaknya lebih dalam lagi, lebih halus, yang ketika orang tidur akan menciptakan mimpi yang menembus ruang dan waktu. Jiwa mulhamah yaitu batin manusia yang menyebabkan mereka dapat menerima petunjuk Tuhan. Jiwa mutmainah, yaitu batin manusia yang tenang. Jika ini diaktifkan manusia Jawa akan mampu melihat apa yang disebut clairvoyance, yaitu obyek atau peristiwa di luar fisik (metafisik). Namun, jiwa ini masih bersifat semu, misalkan kenikmatan seksual, misalkan suami impoten atau isteri figrid nyatanya tak diperoleh kenikmatan. Berarti masih lahiriah atau batin semu.

Jiwa spiritual, yaitu batin manusia yang mampu melakukan kontak dengan alam gaib. Dalam masyarakat Jawa, tradisi semacam ini dinamakan alam supena, alam mimpi yang mempengaruhi jiwa manusia mampu menerawang terhadap kejadian mendatang. Batin ini ke arah futuristik atau jangka (ramalan), orang Jawa menyebut ngerti sadurunge winarah. Artinya mengetahui yang bakal terjadi. Misalkan lagi, gerak pikiran (batin) merasa nikmat secara otomatis. Ketika kita harus menganggukkan kepala, menyembah, melambaikan tangan pada saat berhubungan dengan orang lain, adalah wacana batin spiritual. Jiwa lubbiyyah (kosmik), telah meninggalkan alam pikiran, masuk ke alam intuisi. Kehidupan tak dapat selalu melalui kesadaran panca indera. Misalkan saja ketika orang berdzikir atau pun meditasi, mereka merasa hilang, yang ada hanyalah halusinasi dan ilusi. Dari sini orang akan menerima wisik. Jiwa rahsa (nirwana), yaitu keadaan nafs yang melukiskan bahwa alam ini adalah alam langit, alam murni, penuh ketiadaan (sunyaruri).

Begitulah esensi apa yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar, yang kadang-kadang merasakan ketiadaan Tuhan, dan yang ada adalah ingsun (aku). Tapi pada baik lain, dia juga mengakui adanya Tuhan, misalkan kutipan berikut : Syekh Lemahbang darmastuteng karsa / sumarah ing Hyang dhawuhe. Kata Hyang yang merupakan bukti sinkretisme dengan ajaran Hindu, sebenarnya juga menunjukkan bahwa dia percaya kepada Tuhan. Ia pasrah total kepada Tuhan. Pada suatu saat, dia memang meremehkan sarengat dan pada bait lain juga menganggap sarengat itu penting dan seterusnya. Tegasnya, ajaran Syekh Siti Jenar masih merupakan teka-teki. Kemungkinan adanya rekayasa kultural dan politisasi ajaran juga sangat mungkin. Maka, pemahaman menyeluruh ajaran dia memang perlu, guna menyelami hakikat Islam Jawa.

Tampaknya, bagi dia ajaran memang diramu dengan mistik kejawen. Jika ajaran ini dipahami sepenggal, maka orang awam akan menyatakan dia musyrik. Padahal, bagi dia hidup adalah proses untuk menemukan “ananeng, ananing, uninung, uninang”. Artinya, hidup untuk mencari kejernihan batin. Hidup untuk mencari dunung (tujuan). Tujuan hidup akan tercapai melalui sangkan paraning dumadi. Ini paham Islam Jawa yang selalu menjadi misterius.

Minggu, 19 September 2010

Kebijakan Orang Besar

onfusius (551-479 SM) pernah berkata, "Bunga anggrek tumbuh di hutan dan mengeluarkan aroma wangi walau tidak ada orang di sekitarnya yang menghargai. Demikian pula, orang berbudi luhur tidak akan membiarkan kelemahan menghalangi mereka untuk kultivasi dan membangun kebajikan. " Orang Besar tahu kebenaran tentang kehidupan. Terlepas dari apa keadaannya , ia berpegang pada prinsip moral dalam melakukan sesuatu dan mengikuti ajaran-ajaran orang-orang suci. Kemanapun ia pergi, ia menyebar kebaikan dan mempengaruhi mereka yang berhubungan dengannya, sehingga orang lain menghormati nilai etika dan keadilan. Efektivitas ajaran dan pengaruhnya menjadi contoh karakter yang saleh. Berikut ini adalah beberapa cerita tentang Konfusius dan murid-muridnya yang didokumentasikan dalam The Analects of Confucius and The School Sayings of Confucius.

Orang Besar Berbicara dengan Perbuatannya



Pada satu kesempatan, Yan Hui bertanya kepada Konfusius, "Apakah ciri-ciri orang bermoral rendah? Konfusius menjawab, "Orang Besar berbicara dengan perbuatannya. Kata-katanya sama dengan perbuatannya. Segala sesuatu yang dikatakan dan dikerjakan, dia berbuat berdasarkan prinsip-prinsip yang disampaikan oleh orang-orang saleh. Seorang bermoral rendah hanya menunjukkan kefasihannya. Dia cepat dalam membuat tuntutan dan menemukan kesalahan orang lain, tanpa kontribusi apa pun. Orang Besar memperlakukan orang lain dengan ketulusan. Ketika ia melihat teman-teman melanggar etika, dia mengingatkan mereka tentang konsekuensi dan membujuk untuk bertindak benar. Kata-katanya berasal dari hatinya karena dia benar-benar peduli akan kebahagiaan orang lain. Sehingga persahabatan cenderung semakin erat. Orang-orang bermoral rendah tampak telah membentuk aliansi untuk membuat masalah. Namun, mereka tidak bisa membantu, bisa bertengkar dan menarik pisau dari punggung masing-masing. "

Konfusius juga mengatakan, "Orang besar berpikir kebajikan; orang bermoral rendah memikirkan kenyamanan. Orang besar berpikir hukuman; orang Inferior berpikir tentang nikmat yang ia dapat." Ini menggambarkan perbedaan dalam pikiran kedua orang. Orang besar tidak mengikuti orang banyak, apalagi bersekongkol dengan orang lain. Ia berpikir bagaimana berbuat bajik dan adil. Orang bermoral rendah khawatir tentang diri sendiri sepanjang waktu. Orang besar taat hukum dan disiplin diri. Orang bermoral rendah demi keuntungan pribadi di atas segala sesuatu dan pikirannya dipenuhi dengan keuntungan kecil dan kenyamanan. Ini Standar Siswa yang ditulis pada masa Dinasti Qing (1644 - 1912), "Ingatkan pihak lain dengan kebaikan; sehingga kebajikan ditegakkan di kedua sisi. Sedangkan orang bermoral rendah tidak perduli terhadap kesalahan orang lain; sehingga kebajikan hilang di kedua sisi. " Ini adalah satu lagi contoh bagaimana Orang bermoral rendah bertindak berbeda dari orang Besar.


Kata-kata dan perbuatan orang besar didasarkan pada pikirannya. Orang Besar mengisi pikiran dengan kebaikan dan rasionalitas. Kata-kata dan perbuatan secara konsekuen penuh cinta, kebaikan dan kemurahan hati. Ketika orang Besar muncul di suatu daerah, kemurnian pikirannya akan mempengaruhi orang di sekelilingnya, membangkitkan hati nurani orang lain dan menanam benih integritas dan kebaikan.
Menggunakan Kebijaksanaan untuk Hindari Perselisihan



Konfusius memimpin murid-muridnya berjalan ke Kuang, sebuah daerah di Kerajaan Song. Orang-orang setempat mengira Konfusius adalah Yang Hu, seorang pria brutal yang menyerang orang Kuang. Mereka segera memberitahu Jianzi, kepala daerah Kuang. Jianzi buru-buru mengumpulkan prajurit dengan baju besi lengkap dan mereka menunggang kuda untuk mengepung Konfusius dan para pengikutnya.

Zilu, salah satu murid Konfusius, bereaksi secara alami. Dia merasa tersinggung begitu dia melihat orang-orang Kuang mengepung mereka. Dia merebut senjata dan bersiapan untuk melawan. Konfusius menghentikannya dan berkata, "Bagaimana mungkin orang-orang yang berkultivasi dan berprilaku baik dan adil tidak mampu menghentikan kebrutalan ini? Ini adalah kesalahan saya tidak banyak mengajarkan puisi kuno, karya-karya besar dan mengenalkan etiket serta musik.

“Mari Zilu, mainkan musik, nyanyikan lagu dan saya akan bergabung dengan anda.” Zilu meletakkan senjatanya dan mengeluarkan sebuah alat musik. Dia mulai bermain dan bernyanyi. Konfusius mengikutinya. Setelah tiga putaran bernyanyi, rakyat Kuang menyadari bahwa Konfusius adalah orang suci, bukan Yang Hu brutal. Mereka menanggalkan baju besi mereka dan pergi.

Bahkan di bawah pengepungan, Konfusius tetap tenang. Dia pertama kali melihat dirinya sendiri untuk melihat apakah ia bersalah. Jika tidak, ia kemudian melanjutkan dengan ajaran-Nya dan mempengaruhi melalui etiket dan musik. Tindakan-Nya menunjukkan perbedaan antara dia dan Yang Hu. Orang-orang dari Kuang menyadari bahwa Konfusius adalah orang besar, suci, meskipun penampilannya serupa dengan Yang Hu. Mereka akhirnya pergi dan malu. Sehingga mereka menanggalkan baju besi dan kembali damai. Konfusius mengubah orang dengan kebajikan-Nya, ia membalik situasi berbahaya di sekitar. Konfusius memberi contoh kebaikan manusia dengan hati yang baik. Orang lain bisa merasakan kemurahan hatinya dan rasa tanggung jawab membawa kebudayaan tradisional.


Fokus pada Hal Utama

Suatu hari Duke Ai dari Lu bertanya kepada Konfusius, "Pada zaman kuno, topi jenis apa yang dipakai Raja Shun?" Konfusius tidak menjawab. Duke bertanya lagi, "Saya mencoba belajar dari Anda Mengapa kau tidak menjawab?." Konfusius membungkuk dan menjawab, "Karena pertanyaan yang Mulia tidak difokuskan pada persoalan utama. Itu sebabnya saya berpikir tentang bagaimana untuk menjawab." Duke menjadi penasaran dan bertanya, "Apakah persoalan utamanya?" Konfusius menjawab, "Selama pemerintahan Raja Shun, beliau mencintai orang sebagai anak-anaknya sendiri. Beliau mengedepankan berbudi luhur dan mampu melaksanakan. Kebajikan-Nya meluas di seluruh negeri. Namun, beliau tetap sederhana dan rendah hati. Beliau mengubah sesuatunya, seperti empat siklus perubahan makhluk hidup di alam. Beliau mendorong pertumbuhan karakter orang. Menyebar kebaikan untuk makhluk hidup agar menjadi baik. Itulah mengapa ajarannya menyebar jauh dan luas. Bahkan burung legendaris phoenix dan Kirin muncul di tanah wilayahnya, bersaksi untuk kebajikannya yang tinggi. Semua ini terjadi karena dorongan Raja Shun untuk kehidupan dan peningkatan. Yang Mulia Anda bertanya tentang jenis topi Raja Shun daripada persoalan penting dan itu sebabnya saya tidak bisa menjawab dengan benar. "


Hidup Orang Seperti Masuk Ruang Anggrek

Konfusius pernah berkata kepada Zeng Can, "Zixia akan meningkat cepat karena ia menghabiskan waktu bersama orang-orang yang lebih saleh daripada dia. Tinggal dengan orang-orang seperti hidup di rumah dengan anggrek mekar. Berasimilasi terhadap lingkungan. Jadi orang besar harus berhati-hati dalam memilih siapa yang ia ajak tinggal bersama. " Hal ini juga dinyatakan dalam Standar untuk Siswa, "Hal ini sangat bermanfaat jika kita tetap dekat dengan orang-orang baik hati. Dengan berlalunya setiap hari, kebajikan seseorang meningkat dan kesalahan seseorang berkurang. Tinggal jauh dari orang-orang semacam ini berbahaya . Salah satunya adalah tertarik pada orang bermoral rendah yang akan menghancurkan segalanya. "

Ini memberitahu kita bahwa dengan tetap dekat dengan orang-orang baik hati, bajik, sebagai teman dan guru, seseorang bisa memperluas pengetahuan serta meningkatkan integritas. Orang Besar menjadi contoh yang baik. Orang lain di sekitar dia akan belajar untuk melihat kelemahan mereka dan selalu menetapkan standar yang lebih tinggi bagi diri mereka sendiri. "Sering mencari kekurangan sendiri, daripada menyalahkan orang lain " seseorang harus transparan dalam kata-kata dan tindakan. Menerapkan standar yang ketat untuk diri sendiri, namun menjadi toleran terhadap orang lain mencerminkan karakter kemurahan hati. Kebaikan tertinggi adalah seperti air. Memfasilitasi semuanya tanpa menginginkan apa-apa.


Karakter yang saleh dari orang besar membawa keharmonisan dan perdamaian. Ini membantu untuk mengingatkan semua orang untuk latihan dan disiplin diri agar tidak bertindak melawan hati nurani. Dalam dunia materi hari ini, di mana banyak orang yang didorong oleh keserakahan dalam mengejar ketenaran dan keuntungan, lebih penting untuk mematuhi etika batin seseorang dan aspirasi. (Erabaru/art)


Selasa, 07 September 2010

Menyusun Kembali Puing yang Telah Diruntuhkan

Dalam notes sebelumnya, saya begitu kritis dan mencemoohkan jargon- jargon agama yang sudah tidak berdasar. Saya membawa para pembaca kepada pemahaman bahwa agama harus didemitologisasi agar dapat dipahami dengan wajar bagi orang modern. Kita menempatkan mitos sebagai mitos dan pesan moral sebagai pesan moral. Bagian I artikel ini

Lewat logika sederhanapun mudah bagi kita untuk mendapati bahwa cerita- cerita agama berasal dari mitos-mitos dan legenda setempat. Bagaikan memisahkan susu dari buihnya, kita mengias- ias apa yang bisa kita ambil untuk mencari makna hidup kita di bumi ini.

AGAMA BATHIN VS AGAMA BENTUK

Mengapa dalam note di atas saya menampilkan cuplikan pengadilan Yesus? Tentu bukan tanpa alasan yang jernih.

Bagi para sufis dan spiritualis lainnya ada hal yang menarik dari manusia Yesus yang tidak didapati dalam nabi-nabi lain baik itu dalam agama Yahudi maupun Islam. Apakah itu? Kalau kita perhatikan dengan seksama di seluruh cerita injil baik itu yang diakui ataupun tidak diakui oleh gereja, maka kita akan dapatkan suatu ciri khas yang tidak mungkin kita dapatkan dari nabi-nabi lain sebelum dan sesudah Yesus, yaitu: ketika nabi lain bersabda, “Demikianlah firman tuhan…. ," atau mengatakan, “Malaikat anu turun padaku dan menyampaikan pesan anu.” Hal tersebut tidak pernah Yesus lakukan. Ia selalu dalam sikap sadar, tidak trance, ketika berkata, “…aku berkata kepadamu, sesungguhnya kerajaan Allah itu ada di antaramu…“ , “…aku berkata kepadamu, cintailah sesamamu manusia...” dsb.

Apakah artinya ini?

Bagi Yesus kebenaran itu bukan terletak pada suatu pribadi di luar sana, kebenaran bukan sesuatu catatan dilangit tentang apa yang halal dan haram, boleh dan tidak boleh, bukan karena adanya pribadi adikodrati yang bertahta di atas arhsy dengan Jibril sebagai perantara ke pada manusia, namun suatu keputusan untuk masuk dalam kehidupan nyata dan berbagi kasih dengan sesama. Ia tidak peduli dengan syariat dan penyeragaman keyakinan. Bagi Yesus otoritas wahyu tidak berada di balik pengaku-akuan karena si nabi bertemu Jibril atau sebagainya. Baginya wahyu adalah kebijaksanaan intuitif dalam hidup sebagai produk dari hidup yang kontemplatif, lembut dan ceria, bukan suatu catatan yang turun dari langit yang hanya bisa ditangkap oleh seorang nabi seperti yang orang Islam pahami.

Dalam share hati ke hati dengan seorang romo, beliau pernah mengatakan. “Mempelajari ketuhanan tidak akan menambah pengetahuan apa-apa tentang Yesus, justru dengan mempelajari manusia Yesus maka kita akan memahami apa itu idea ketuhanan dalam pemahaman manusia.”

Ketika ketuhanan ini ditelanjangi, maka yang nampak adalah kemanusian dan pencarian makna hidup itu sendiri. Inilah concern kami yang mendalami spritualisme.

Pendekatan hukum – syariah dalam agama, hanyalah negative reinforcement yang menganggap bahwa manusia itu pada dasarnya bodoh, liar dan harus dikekang dan diseragamkan.

Pendekatan penyeragaman ini selalu memandang manusia sebagai agen kejahatan dalam dirinya sendiri.

Manusia yang terilusi dengan bentuk dan fenomena akan semakin terpinggir dari gerusan jaman yang begitu cepat berubah. Mungkin dalam abad ini juga, manusia harus hidup di dasar lautan dengan membangun kubah-kubah besar karena daratan sudah terpolusi dengan zat radioaktif dan penipisan ozon, pada saat itu dimanakah kita berkiblat ketika shalat? Di manakah sungai Gangga? Dimanakah Yerusalem, kota damai yang penuh dengan kutuk kekerasan?

Dalam abad-abad mendatang manusia akan mengarungi alam semesta, dimanakah manusia relijius akan berkiblat ketika shalat? Mereka yang begitu terilusi dengan agama bentuk, tidak akan mampu menjawab hal ini.

Apa yang mendesak dalam diri kita adalah menemukan makna hakiki dibalik apa yang tersurat. Meretas dari cangkang menuju isi, dari eksoteris menuju esoteric. Beralih dari agama bentuk kepada agama bathin, bahkan bisa saja kita katakan itu bukan agama, namun suatu perjalanan diri atau apapun sebutannya.

KANT, DAN REALITAS KEBENARAN.

Dalam note sebelumnya saya menyitir kalimat dari Immanuel Kant seorang filsuf Jerman, “Bintang gemintang di atas langit, dan hukum moral ada di dalam dadaku.”

Saya percaya bahwa kebenaran hakiki itu ada, namun sebagai mana bintang gemintang yang begitu jauh dilangit, tak mampu kita raih, begitu pula kebenaran hakiki itu tidak bisa kita pahami dengan logika kita yang mencerap dalam pandangan dualistic.

Didalam dunia non saintifik, ding an sich atau realitas pada dirinya sendiri, tidak akan pernah dipahami. Yang bisa kita pahami adalah ding fur uns, realitas kebenaran bagi kita, yang sudah dipermak oleh intelektualitas, budaya, ruang dan waktu.

Mencari kebenaran hakiki dalam agama bentuk adalah naïf dan tidak layak diusahakan.

Kebenaran hakiki tersebut hanya bisa kita rasakan dalam keindahan, kelembutan, dan penerimaan diri sebagaimana saya ceritakan tentang bunga Dandelion yang hampir tidak dipedulikan orang namun nampak keindahannya ketika kita duduk tenang. Memandang keindahan dunia dalam kelembutan dan keterpanaan, disanalah tujuan dalam hidup dan kebermaknaan hidup itu didapatkan. Saya pribadi mendapat ilham tersebut dari cerita tentang Buddha yang menjelaskan tentang transmisi kebenaran tertinggi kepada Sariputtra, muridnya yang paling cerdas . Menurut tradisi buddhis, darma yang tertinggi adalah tiada darma itu sendiri, karena darma yang dicerap oleh akal manusia masih merupakan negasi dari a-darma.

Begitu pula dalam mistisme hindu, saya temukan tentang kisah seorang brahmana tua yang ditanya oleh muridnya tentang realitas kebenaran mutlak. Sang brahmana tua tidak menjawab dengan jawaban verbal, namun dengan mengupas sebiji bawang lapisan demi lapisan sampai terus sampai ke lapisan terdalam, dan tiada lagi lapisan apa-apa. Tiada berinti, sunyi. Kosong.

Manusia Yesus, manusia Gautama dan manusia Krishna adalah manusia- manusia lembut yang melihat dan memasuki realitas kebenaran dengan lirih dan manusiawi. Begitu luar biasa orang- orang macam mereka sehingga selama ribuan tahun hanya sedikit sekali orang yang memahami dan memasuki kawasan pengalaman mereka. Para pengaggum tokoh-tokoh ini tidak bisa melihat kebenaran ini karena selumbar dogma dan mitos yang tebal di mata mereka. Lebih sukar lagi bagi saya untuk menjelaskan ini bagi umat Islam. Karena Islam dibentuk dari agama bentuk, bukan agama bathin. Maukah para pembaca menolong saya membagikan ini kepada saudara kita umat islam di negeri ini?

Bagi saya pribadi, melakukan kebajikan dan kebenaran, bukan untuk membuat diri kita sesuai dengan tuntutan agama, syariah, pahala surga dan ancaman neraka.


Saya melakukan kebajikan karena itu sudah terpatri dalam hati dan akal saya. Bukan karena suatu daftar apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan, namun semata-mata sebagai produk dari pembatinan dari kebermaknaan hidup ini. Seperti halnya angin puting beliung yang memuntahkan apa saja yang ada dalam jangkauannya, begitu pula orang yang berintegritas melakukan kebajikan karena memang itu keluar spontan dari dalam bathinnya.

Saya sangat percaya bahwa nature dari manusia adalah baik. Dalam didikan rasionalitas dan kejujuran, manusia justru akan lebih bertanggung jawab ketimbang terus diiming-imingi pahala dan ditakut-takuti neraka abadi.

Hari ini saya mendapat kabar bahwa setelah sekian lama pemerintah Belanda memberlakukan kebebasan bagi para pecandu narkotika, ternyata justru penjara semakin sepi danbeberapa akan ditutup karena tidak ada yang menempatinya. Terbukti bahwa dalam kebebasan dan kedewasaan ada tanggung jawab.

Berbeda jauh dengan masyarakat kita dimana jargon- jargon agama selalu digembar-gemborkan namun nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak dan kejujuran di hempaskan jauh-jauh dari kehidupan berbangsa.

TOKOH YANG DIMUNCULKAN

Sejak tulisan- tulisan saya di FB & SK dipublish, banyak pembaca yang menanyakan sesuatu dan meminta saran. Banyak pula yang ingin copy darat dengan saya. Seakan-akan tokoh Lutfi ini tahu segalanya bak juru selamat. Kita tahu bahwa tidak ada juru selamat, satria pininggit, imam mahdi, kalki, dsb. Semua agen mitologis itu merujuk pada kedewasaan dan kesadaran tertinggi dalam diri kita sendiri.

Ada yang menebak Lutfi ini adalah tokoh ini atau itu, namun hanya sedikit sekali pembaca bisa meraba-raba alasan

keberadaan atau raison d’etre dari tokoh narsis, sok tau, polos, sompral dan vocal ini. Dalam note lalu saya mengetengahkan isu tentang teologi cerita , mitos kontra mitos, bahwa lewat cerita dan tokoh- tokoh kita menumbangkan nilai-nilai lama dan memunculkan nilai-nilai baru, mengapa anda tidak bisa menjadikan tokoh Lutfi ini sebagai bagian dari mitos baru itu sendiri?

Lutfi yang adalah – yang lembut hatinya, akan muncul dengan sendirinya di dalam hati dan pikiran orang yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas dan kejujuran. Dan pada mereka yang memiliki kualitas inilah maka salam, rahmat dan damai turun atasnya (alaihi salam).

Bertanya pada Lutfi adalah bertanya pada diri sendiri. Menemui Lutfi adalah menemui diri anda sendiri. Mencaci Lutfi adalah mencaci diri anda sendiri. Tokoh mitologis mistis ini hanya mencoba meretas benih-benih potensi terbaik dalam diri anda sendiri agar berkembang. Ia dimunculkan karena kegundahan si penulis akan kehidupan beragama dan berbangsa kita.

Jika sekarang para pembaca menyadari bahwa tokoh Lutfi as hanyalah tokoh mitologis mistis yang mengaduk emosi dan inspriatif karangan sang penulis anonimus, mampukah anda memahami bahwa baik itu Gautama, Musa, Yesus dan Muhammad adalah sangat mungkin tokoh-tokoh mitologis yang dibentuk oleh para pujangga, ahli agama, mistikus dari jaman-jaman tertentu untuk maksud-maksud moral dan politis kaum tertentu?

Suatu saat akun ini akan diblokir karena terlalu kritis. Namun Lutfi–Lutfi lain akan tumbuh dan terus bersemi dalam diri manusia Indonesia yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas, kejujuran dan integritas. Saya sendiri akan tetap berjuang semampu saya dengan satu cara atau lainnya.

Selamat menempuh jalan menuju summum bonum, insan kamil, kesadaran kristus, kebudhaan, moksa, atau tidak sama sekali karena itu cuman pilihan dalam hidup, kita-kita sendiri yang menentukan hidup ini. Salam ceria, salam kemanusiaan. Tidak ketinggalan pula… seru sekalian alam.




LIST OF COMMENTS

1/5. Kebenaran, Kebahagiaan dan Real Life
Written by Guest - Friday, September 03 2010

Kebenaran dibatasi oleh kemampuan otak manusia memahami. Kebahagiaan merupakan pengalaman bathin seseorang saat ini, sekarang dan sangat temporarily. Kebahagiaan bisa hakiki dan bisa palsu dan manipulatif. Real Life tidak seindah dalam tulisan.

2/5. Kelembutan, Rasionalitas, Kejujuran dan Integritas
Written by Guest - Friday, September 03 2010

Kelembutan, Rasionalitas, Kejujuran dan Integritas merupakan moralitas yang sangat Ideal untuk semua orang dimuka bumi ini. Tetapi itu saja tidak cukup dalam kehidupan nyata. Ini hanya mudah diucapkan saja, karena manusia fitrahnya tidak konsisten.

3/5. Perjalanan Seoarng Sufi
Written by Guest - Friday, September 03 2010

Pencapaian tertinggi seorang sufi adalah ketika dengan tulus sepenuh hati meminta ampun kepada Tuhan siang dan malam tidak berhenti. Astaghfirullahalngadhim.

4/5. Kelihatan bodoh saja!
Written by Guest - Sunday, September 05 2010

Orang negara maju yang terbiasa berpikiran empiris mudah sekali menjungkirkanbalikkan meja yang berat dipenuhi oleh tumpukan ajaran manusia padang pasir tandus. --- Bagaimanapun juga orang beragama kelihatan bodoh saja dalam pikiran mereka yang terang-benderang.

Lutfi As: Apakah Kebenaran Itu? I

Dengan mantap saya melangkahkan kaki menuju kelas yang akan saya ajar. Jarak antara kantor saya yang kecil namun asri dengan kelas memang cukup jauh, melewati beberapa lekukan koridor dan sebuah taman yang cukup luas dimana terdapat beberapa pohon rindang tempat para mahasiswa mengobrol, dan memadu janji kasih tentunya. Ruang kelas yang saya tuju berada di sisi lain dari taman itu.


Ketika kaki ini melenggang di atas rumput nan hijau, langkah saya terhenti.

Seluruh mahasiswa yang akan saya ajar berdiri di taman membentuk ‘barikade’, seakan-akan menghalangi jalan saya masuk.

“Eit….. tunggu dulu Pak Lutfi. Kami semua bersepakat. Kami hanya akan ikut kelas bapak hanya apabila bapak bisa menjawab pertanyaan dari kami. Dan apabila bapak tidak bisa menjawab, maaf-maaf aja nih, kite2 bakal absen satu semester dengan jaminan bapak.” Kata seorang yang paling kritis di antara mereka.


“Betul-betul-betul” seru beberapa mahasiswa penggembira dengan serempak, dengan nada seperti tokoh kartun kembar berkepala pelontos kesayangan anak saya.

Semua mata menatap saya dengan tajam, menantikan jawaban dari saya.

Wah saya tersentak. Rasanya gaya2 narsis, kritis, kocak dan sompral saya dikelas berbalik menjadi pedang bermata dua.


“Oke silahkan. Apa yang kalian akan tanyakan?”


“begini Doktor Lutfi, ada 2 pertanyaan buat bapak:


1. Apakah kebenaran itu?

2. Kenapa kita harus melakukan kebenaran? Jawablah dengan singkat, padat dan jelas.”


Saya menghela nafas panjang. Tidak bergeming untuk seketika. Ini bukan main-main.

Sepanjang pengetahuan untuk pertanyaan yang maha dasyat itu, khususnya yang pertama, saya kira hanya satu orang manusia di muka bumi ini yang pernah tercatat dalam sejarah, dialah Yesus, atau Isa. Dalam pengadilan yang diadakan dengan tergesa-gesa dan tendensius, gubernur jendral Pontius Pilatus mengintrogasi Yesus yang telah dituduh makar terhadap pemerintahan jajahan bentukan Romawi.



“Aku datang ke dalam dunia ini supaya aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraku.” Kata Yesus.

“Apakah kebenaran itu?” Tanya Pontius Pilatus.

Dan Yesus hanya diam. Tidak menjawab apa-apa.

Suasana begitu tegang. Sementara di luar pengadilan banyak orang menanti-nantikan putusan Pilatus.

“Tiada kudapati kesalahan dalam diri orang ini. Apakah yang kamu mau aku lakukan atas orang ini?” kata Pilatus.

“Bebaskan Barabas, dan salibkan dia. Bebaskan Barabas dan salibkan dia” Gema puluhan dan mungkin ratusan orang serempak meminta Yesus disalibkan. Barabas adalah seorang pemberontak yahudi yang ditahan penguasa romawi karena suatu kasus makar.

Kemudian Pilatus menyerahkan Yesus kepada bangsa yahudi. Dengan dilengkapi dengan jubah raja dan mahkota berduri, ia berkata kepada bangsa yahudi itu, sambil telunjuknya mengarah kepada Yesus,

“Lihatlah manusia itu.” maka dibawalah Yesus untuk disalib. Dan itu terjadi kira-kira jam 12 malam.

Mengapa Yesus tidak menjawab? Apakah Yesus tidak tahu jawabannya atau ia pura-pura tidak tahu?

Bukan.

Jawabannya : karena percakapan itu tidak pernah benar-benar terjadi.


Benar bahwa Yesus disalib, namun bukan atas permintaan bangsa Yahudi, melainkan oleh karena konspirasi para agamawan dan Pontius Pilatus sendiri. Karena pergolakan politik yang begitu massive, baitullah yang menjadi kiblat kaum yahudi di hancurkan tentara rumawi tahun 70 M, dan kaum yahudi melemparkan kesalahan ini kepada kaum Kristen. Begitu bencinya kaum yahudi kepada pengikut Yesus ini, sehingga anggota keluarga mereka yang mengikuti sekte ini harus dikeluarkan dari hubungan kekeluargaan dan darah mereka di halalkan untuk dibunuh. Dalam kegalauan yang begitu mencekam, si penulis injil yohanes membawa komunitasnya untuk memahami bahwa dalam kematian Yesus yang tragis itu, termaktublah perjalanan hidup dan iman mereka.

Seiring dengan eskalasi kekejaman kaum yahudi kepada sekte Kristen ini, sadar atau tidak sadar, kekejaman Pilatus ini diperlunak, seakan-akan ia tidak bersalah, dan semua kesalahan atas penyaliban Yesus itu ditimpakan kepada kaum yahudi. Mungkin ini terjadi agar kaum Kristen mendapat tempat bernaung dalam kekuasaan romawi dari ancaman kaum yahudi. Suatu emosi yang berlebihan dari penulis injil yohanes ini, yang mengakibatkan jutaan bangsa yahudi yang tidak tahu apa-apa atas penyaliban itu, harus menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan selama 2 milenia sesudahnya.

Tidak ada murid Yesus yang berani mengikutinya sampai di pengadilan, jadi mana mungkin ada orang yang tahu apa yang sedang terjadi di pengadilan tersebut?

Injil Yohanes ditulis kira-kira 70 tahun setelah Yesus wafat oleh seseorang mistikus yang mungkin tidak pernah melihat Yesus sendiri, namun pasti tergugah luar biasa akan pribadi Yesus yang kharismatik ini.

Dalam ingatannya akan Yesus, sang penulis injil itu melihat manusia sebenar-benarnya yang tulus, apa adanya,berani menolak tradisi dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan atas nama agama. (lihat catatan saya ttg manusia Yesus di note Tuhan itu ada sebanyak mereka yang memikirkannya).

Ia melihat dalam diri guru yang mati begitu muda ini, tersimpan semangat perubahan besar. Dalam kenaifan Yesus yang masih muda ini, mengalir darah pemberontakan kental atas ketidak adilan dan ketidak manusiawian yang dilakukan oleh 2 pilar, pilar keagamaan yang diwujudkan oleh otoritas agama yahudi di yerusalem yang memonopoli apa yang benar dan apa yang salah, dan pilar kekuasaan yang diwujudkan oleh kejumawaan dan kedigdayaan penjajah romawi.

Dalam manusia Yesus yang tidak berdaya ini, ia melihat mereka yang minoritas, miskin, terbuang oleh gerusan budaya feodalis , paternalistic dan male chauvinistik, tercampakan oleh syariat2 agama yang mengutamakan superioritas ras dan gender, terpedaya oleh kebodohan jaman.

Dan dalam manusia Yesus inipun termaktublah mereka yang terpinggirkan dan harus tinggal di bantaran kali-kali Jakarta, mereka yang terusir dari rumah dan tanah mereka demi pembangunan mall-mall, mereka yang tak berumah karena korban lumpur lapindo, mereka - kaum ahmadiah yang mempertaruhkan nyawa mereka suatu keyakinan, para wanita Indonesia yang harus meninggalkan keluarga demi menjadi tkw di luar negeri, penuh dengan bahaya dan taruhan maut. Dalam penderitaan Yesus, termaktub juga penderitaan kaum hawa yang hidup dalam kungkungan agama male chauvinistic yang memaksakan kepada mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dipakai, suatu erangan kesakitan dan kepasrahan kaum hawa yang harus rela diperlakukan tidak senonoh oleh laki-laki. Singkatnya dalam manusia Yesus, kemanusiaan ikut mati tersalib oleh dua pilar ini, kekuasaan dan kepongahan agama.

Manusia Yesus ini, bahkan tidak pernah mengkonsepkan apa kebenaran itu sendiri. Ia tidak pernah tertarik dengan mitos-mitos tentang wahyu ilahi, jibril, syariat dan isu mayoritas-minoritas.Baginya kehidupan adalah untuk dirayakan. Adalah para pengikutnya yang mengkonsepkan kebenaran, surga, kelahiran dari perawan maria, keselamatan surgawi, dsb.

Dalam kesakitan yang amat sangat, jeritan yang menyayat hati keluar dari kejujuran yang tak bisa disembunyikan,

“allahku, allahku mengapa engkau meninggalkan aku?” setelah itu wafatlah manusia Yesus.

Dan tidak ada yang menemaninya, selain ibunya dan para pengikut wanita yang melihat kejadian itu dari kejauhan, dalam ketakutan dan ketidak berpengharapan

Demikianlah takdir tragis sang pembawa keceriaan dunia bagi si miskin, terpinggirkan dan tak berpengharapan.

--------------- +++++ --------------------------
Jika Yesus sendiri tidak menjawab, atau setidaknya si mistikus penulis injil Yohanes sendiri tidak menjawab, maka jawaban apa yang harus saya berikan kepada murid-murid saya?

Suasana begitu hening. Senyap dan mencekam.

Kemudian saya menanggalkan sepatu saya. Saya melonggarkan baju saya. Duduk bersila dengan rileks di atas rumput dan terdiam.

Sambil saling menatap, para mahasiswa mengikuti hal yang sama. Satu persatu mengambil tempat di atas rumput yang hijau indah. Tak seorangpun membuka suara.

Tepat di hadapan saya, ada setangkai bunga Dandelion yang indah. Begitu ringkih dan ignorable, tidak ada yang memperhatikan kehadirannya sampai saya duduk di dekatnya. Bunga dandelion yang tumbuh hari ini dan langsung di injak-injak kaki manusia, tak ada satu orangpun peduli untuk memujinya.

Saya memetik bunga itu, saya tatap dengan lembut. Semua mata memandang bunga itu.

Saya tersenyum kepada bunga itu, dan saya hembuskan nafas saya. Tak terbilang serpihan putik bunga itu bertebaran di atas marcapada. Begitu lambat rasanya waktu berlalu sampai semua serpihan turun menyentuh rumput. Hening. Luruh.Runtuh.

Dan air matapun berderai….. tidak laki-laki -tidak wanita, mereka saling berpelukan. Semua haru-biru diekspresikan saat itu juga.

“Itulah kebenaran, teman”.

Mereka memahami apa yang saya maksud. Tidak dalam kata. Tapi dalam rasa. Suatu yg melampaui bahasa dan penalaran.

Kemudian saya berdiri dengan tegap, dengan telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit dan telapak tangan kiri ini mendekap dada, saya katakan:

“Bintang gemintang di atasku, dan hukum moral ada di dalam dadaku.

Inilah kenapa aku melakukan kebenaran. “

Tanpa di undang semua murid berdiri, berlari dan memeluk, merangkul saya. Kami menangis bersama-sama. Seluruh rasa lebur terkuras dalam momen cinta.

Tiada ruang – tiada waktu – tiada kata yang dapat membatasi rasa itu. It’s a moment of truth.

Setelah itu saya menenangkan mereka. Saya menggugah mereka ke dalam ruang kelas.

Kami memungut sepatu kami, dan sambil langkah kaki ini berderap maju menuju kelas – kami menyanyikan lagu kebangsaan kami


Imagine there's no heaven, It's easy if you try, No hell below us, Above us only sky, Imagine all the people living for today...

Imagine there's no countries, It isn’t hard to do, Nothing to kill or die for, No religion too, Imagine all the people living life in peace...

Imagine no possessions, I wonder if you can, No need for greed or hunger, A brotherhood of man, imagine all the people Sharing all the world...

You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope some day you (FB readers) will join us, And the world will live as one.

Inilah saya dan inilah panggilan dalam hidup saya, menjadikan kelas mahasiswa saya sebagai ladang yang subur, dimana akan saya semai benih-benih kemanusiaan, benih-benih anti diskriminasi ras, agama, dan orientasi seksual, benih-benih rasionalitas , integritas dan kejujuran.

*** (Sebelum beranjak ke bagian ke dua, mohon pembaca pahami bagian 1 dengan seksama, kalau berkenan)


Apakah kebenaran itu? - Senyap dan Sunya (bagian 2 selesai )

Menyusun kembali Puing-puing yang telah diruntuhkan

Dalam notes sebelumnya, saya begitu kritis dan mencemoohkan jargon2 agama yang sudah tidak berdasar. Saya membawa para pembaca kepada pemahaman bahwa agama harus didemitologisasi agar dapat dipahami dengan wajar bagi orang modern. Kita menempatkan mitos sebagai mitos dan pesan moral sebagai pesan moral.

Lewat logika sederhanapun mudah bagi kita untuk mendapati bahwa cerita2 agama berasal dari mitos-mitos dan legenda setempat. Bagaikan memisahkan susu dari buihnya, kita mengias-ias apa yang bisa kita ambil untuk mencari makna hidup kita di bumi ini.

Agama bathin vs agama bentuk

Mengapa dalam note di atas saya menampilkan cuplikan pengadilan Yesus? Tentu bukan tanpa alasan yang jernih.

Bagi para sufis dan spiritualis lainnya ada hal yang menarik dari manusia Yesus yang tidak didapati dalam nabi2 lain baik itu dalam agama yahudi maupun islam. Apakah itu?



Kalau kita perhatikan dengan seksama di seluruh cerita injil baik itu yang diakui ataupun tidak diakui oleh gereja, maka kita akan dapatkan suatu ciri khas yang tidak mungkin kita dapatkan dari nabi-nabi lain sebelum dan sesudah Yesus, yaitu: ketika nabi lain bersabda, “demikianlah firman tuhan …. ," atau mengatakan malaikat anu turun padaku dan menyampaikan pesan anu. Hal tersebut tidak pernah Yesus lakukan. Ia selalu dalam sikap sadar, tidak trance, ketika berkata ….. “aku berkata kepadamu, sesungguhnya kerajaan allah itu ada di antaramu….. “ , “aku berkata kepadamu cintailah sesamamu manusia ...dsb ”


Apakah artinya ini?

Bagi Yesus kebenaran itu bukan terletak pada suatu pribadi di luar sana, kebenaran bukan sesuatu catatan dilangit tentang apa yang halal dan haram, boleh dan tidak boleh , bukan karena adanya pribadi adikodrati yang bertahta di atas arhsy dengan jibril sebagai perantara ke pada manusia, namun suatu keputusan untuk masuk dalam kehidupan nyata dan berbagi kasih dengan sesama Ia tidak peduli dengan syariat dan penyeragaman keyakinan. Bagi Yesus otoritas wahyu tidak berada di balik pengaku-akuan karena si nabi bertemu jibril atau sebagainya. Baginya wahyu adalah kebijaksanaan intuitif dalam hidup sebagai produk dari hidup yang kontemplatif, lembut dan ceria, bukan suatu catatan yang turun dari langit yang hanya bisa ditangkap oleh seorang nabi seperti yang orang islam pahami.


Dalam share hati ke hati dengan seorang romo, beliau pernah mengatakan. “mempelajari ketuhanan tidak akan menambah pengetahuan apa-apa tentang Yesus, justru dengan mempelajari manusia Yesus maka kita akan memahami apa itu idea ketuhanan dalam pemahaman manusia.”


Ketika ketuhanan ini ditelanjangi, maka yang nampak adalah kemanusian dan pencarian makna hidup itu sendiri. Inilah concern kami yang mendalami spritualisme.


Pendekatan hukum – syariah dalam agama, hanyalah negative reinforcement yang menganggap bahwa manusia itu pada dasarnya bodoh, liar dan harus dikekang dan diseragamkan. Pendekatan penyeragaman ini selalu memandang manusia sebagai agen kejahatan dalam dirinya sendiri.


Manusia yang terilusi dengan bentuk dan fenomena akan semakin terpinggir dari gerusan jaman yang begitu cepat berubah. Mungkin dalam abad ini juga, manusia harus hidup di dasar lautan dengan membangun kubah2 besar karena daratan sudah terpolusi dengan zat radioaktif dan penipisan ozon, pada saat itu dimanakah kita berkiblat ketika shalat? Di manakah sungai Gangga? Dimanakah Yerusalem, kota damai yang penuh dengan kutuk kekerasan

Dalam abad2 mendatang manusia akan mengarungi alam semesta, dimanakah manusia relijius akan berkiblat ketika shalat? Mereka yang begitu terilusi dengan agama bentuk, tidak akan mampu menjawab hal ini.

Apa yang mendesak dalam diri kita adalah menemukan makna hakiki dibalik apa yang tersurat. Meretas dari cangkang menuju isi, dari eksoteris menuju esoteric. Beralih dari agama bentuk kepada agama bathin, bahkan bisa saja kita katakan itu bukan agama, namun suatu perjalanan diri atau apapun sebutannya.


Kant, dan realitas kebenaran.

Dalam note sebelumnya saya menyitir kalimat dari Immanuel Kant seorang filsuf Jerman, “Bintang gemintang di atas langit, dan hukum moral ada di dalam dadaku.”

Saya percaya bahwa kebenaran hakiki itu ada, namun sebagai mana bintang gemintang yang begitu jauh dilangit, tak mampu kita raih, begitu pula kebenaran hakiki itu tidak bs kita pahami dengan logika kita yang mencerap dalam pandangan dualistic.



Didalam dunia non saintifik, ding an sich atau realitas pada dirinya sendiri, tidak akan pernah dipahami. Yang bisa kita pahami adalah ding fur uns, realitas kebenaran bagi kita, yang sudah dipermak oleh intelektualitas, budaya, ruang dan waktu. Mencari kebenaran hakiki dalam agama bentuk adalah naïf dan tidak layak diusahakan.



Kebenaran hakiki tersebut hanya bisa kita rasakan dalam keindahan, kelembutan, dan penerimaan diri sebagaimana saya ceritakan ttg bunga Dandelion yang hampir tidak dipedulikan orang namun nampak keindahannya ketika kita duduk tenang. Memandang keindahan dunia dalam kelembutan dan keterpanaan, disanalah tujuan dalam hidup dan kebermaknaan hidup itu didapatkan. Saya pribadi mendapat ilham tersebut dari cerita tentang Buddha yang menjelaskan ttg transmisi kebenaran tertinggi kepada Sariputtra, muridnya yang paling cerdas . Menurut tradisi buddhis, darma yang tertinggi adalah tiada darma itu sendiri, karena darma yang dicerap oleh akal manusia masih merupakan negasi dari a-darma.



Begitu pula dalam mistisme hindu, saya temukan ttg kisah seorang brahmana tua yang ditanya oleh muridnya tentang realitas kebenaran mutlak. Sang brahmana tua tidak menjawab dengan jawaban verbal, namun dengan mengupas sebiji bawang lapisan demi lapisan sampai terus sampai ke lapisan terdalam, dan tiada lagi lapisan apa2. Tiada berinti, sunya.kosong.



Manusia Yesus, manusia Gautama dan manusia Krishna adalah manusia2 lembut yang melihat dan memasuki realitas kebenaran dengan lirih dan manusiawi. Begitu luar biasa orang2 macam mereka sehingga selama ribuan tahun hanya sedikit sekali orang yang memahami dan memasuki kawasan pengalaman mereka. Para pengaggum tokoh2 ini tidak bisa melihat kebenaran ini karena selumbar dogma dan mitos yang tebal di mata mereka. Lebih sukar lagi bagi saya untuk menjelaskan ini bagi umat islam. Karena islam dibentuk dari agama bentuk, bukan agama bathin. Maukah para pembaca menolong saya membagikan ini kepada saudara kita umat islam di negeri ini?



Bagi saya pribadi, melakukan kebajikan dan kebenaran, bukan untuk membuat diri kita sesuai dengan tuntutan agama, syariah, pahala surga dan ancaman neraka.



Saya melakukan kebajikan karena itu sudah terpatri dalam hati dan akal saya. Bukan karena suatu daftar apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan, namun semata-mata sebagai produk dari pembatinan dari kebermaknaan hidup ini. Seperti halnya angin puting beliung yang memuntahkan apa saja yang ada dalam jangkauannya, begitu pula orang yang berintegritas melakukan kebajikan karena memang itu keluar spontan dari dalam bathinnya.



Saya sangat percaya bahwa nature dari manusia adalah baik. Dalam didikan rasionalitas dan kejujuran, manusia justru akan lebih bertanggung jawab ketimbang terus diiming-imingi pahala dan ditakut-takuti neraka abadi.

Hari ini saya mendapat kabar bahwa setelah sekian lama pemerintah Belanda memberlakukan kebebasan bagi para pecandu narkotika, ternyata justru penjara semakin sepi dan beberapa akan ditutup karena tidak ada yang menempatinya. Terbukti bahwa dalam kebebasan dan kedewasaan ada tanggung jawab.



Berbeda jauh dengan masyarakat kita dimana jargon2 agama selalu digembar-gemborkan namun nilai2 kemanusiaan diinjak-injak dan kejujuran di hempaskan jauh-jauh dari kehidupan berbangsa.


Tokoh yang dimunculkan


Sejak tulisan2 saya di FB & SK dipublish, banyak pembaca yang menanyakan sesuatu dan meminta saran. Banyak pula yang ingin copy darat dengan saya. Seakan-akan tokoh lutfi ini tahu segalanya bak juru selamat. Kita tahu bahwa tidak ada juru selamat, satria pininggit, imam mahdi, kalki dsb. Semua agen mitologis itu merujuk pada kedewasaan dan kesadaran tertinggi dalam diri kita sendiri.

Ada yang menebak lutfi ini adalah tokoh ini atau itu, namun hanya sedikit sekali pembaca bisa meraba-raba alasan keberadaan atau raison d’etre dari tokoh narsis, sok tau, polos, sompral dan vocal ini. Dalam note lalu saya mengetengahkan isu tentang teologi cerita , mitos kontra mitos, bahwa lewat cerita dan tokoh2 kita menumbangkan nilai2 lama dan memunculkan nilai2 baru, mengapa anda tidak bisa menjadikan tokoh lutfi ini sebagai bagian dari mitos baru itu sendiri?

Lutfi – yang adalah – yang lembut hatinya, akan muncul dengan sendirinya di dalam hati dan pikiran orang yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas dan kejujuran. Dan pada mereka yang memiliki kualitas inilah maka salam, rahamat dan damai turun atasnya (alaihi salam).

Bertanya pada Lutfi adalah bertanya pada diri sendiri. Menemui lutfi adalah menemui diri anda sendiri. Mencaci lutfi adalah mencaci diri anda sendiri. Tokoh mitologis mistis ini hanya mencoba meretas benih2 potensi terbaik dalam diri anda sendiri agar berkembang. Ia dimunculkan karena kegundahan si penulis akan kehidupan beragama dan berbangsa kita.


Jika sekarang para pembaca menyadari bahwa tokoh Lutfi as hanyalah tokoh mitologis mistis yang mengaduk emosi dan inspriatif karangan sang penulis anonimus, mampukah anda memahami bahwa baik itu Gautama, Musa, Yesus dan Muhammad adalah sangat mungkin tokoh2 mitologis yang dibentuk oleh para pujangga, ahli agama, mistikus dari jaman-jaman tertentu untuk maksud-maksud moral dan politis kaum tertentu?

Suatu saat akun ini akan diblokir karena terlalu kritis. Namun Lutfi – Lutfi lain akan tumbuh dan terus bersemi dalam diri manusia Indonesia yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas, kejujuran dan integritas. Saya sendiri akan tetap berjuang semampu saya dengan satu cara atau lainnya.

Selamat menempuh jalan menuju summum bonum, insan kamil, kesadaran kristus, kebudhaan, moksa, atau tidak sama sekali karena itu cuman pilihan dalam hidup, kita2 sendiri yang menentukan hidup ini. Salam ceria, salam kemanusiaan. Tidak ketinggalan pula … seru sekalian alam.

Keunggulan Bangsa Arab

Pendapat Ibn Taymiyah tentang keunggulan bangsa Arab ini menurut saya mewakili suatu simtom yang menarik dalam masyarakat Islam. Simtom ini bukan saja ada dalam umat Islam saja tetapi gejala yang lumrah dalam hampir semua agama. Yakni, seri...ng kita jumpai adanya perbedaan antara apa yang dikatakan oleh Kitab Suci (dalam hal ini Quran dan hadis) dan apa yang dikatakan oleh para penafsir Kitab Suci.

Di satu pihak kita membaca sejumlah ayat dan hadis yang menjelaskan tentang doktrin Islam mengenai kesederajatan umat manusia. Sebuah hadis yang terkenal bahkan menegaskan bahwa “al-nasu sawasiyatu ka asnan al-musyth” (manusia adalah setara dan rancak seperti gerigi sisir). Tetapi di pihak lain kita membaca interpretasi seperti dikemukakan oleh Ibn Taymiyah di atas yang terang-terangan berlawanan dengan prinsip kesederajatan itu.

Yang menarik adalah bahwa interpretasi Ibn Taymiyah tentang keunggulan ras Arab itu merupakan doktrin atau akidah kaum Sunni. Mereka yang berpandangan bahwa ras Arab dan ras non-Arab sederajat justru dipandang oleh Ibn Taymiyah sebagai mereka yang mempunyai motif buruk dan “sesat” (nifaq). Bahwa pendapat seperti ini dikatakan oleh seorang ulama yang menjadi inspirasi penting bagi gerakan “kembali kepada Quran dan sunnah” (ruju’ ila al-Kitab wa al-sunnah) seperti Ibn Taymiyah tentu lebih menarik lagi.

Dalam bagian lain di buku yang sama, Ibn Taymiyah memberikan semacam “caveat” atau peringatan bahwa doktrin keunggulan bangsa Arab ini tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk bersikap sombong dan merendahkan bangsa lain. Meskipun “caveat” ini berguna untuk “memperhalus” doktrin tentang keunggulan bangsa Arab agar tidak tampak “kasar”, tetapi doktrin itu sendiri tetap saja tampak kepada kita sebagai sesuatu yang “janggal”, terutama karena kontradiktoris dengan etos yang selama ini umum dipahami oleh umat Islam tentang kesederajatan.