Selasa, 28 September 2010

PINTU RAHASIA ILMU RAJA RAJA MATARAM

Oleh: kanjeng Pangeran Karyonagoro - Facebook Note.

Wirit Saloka Jati digelar sebagai upaya para leluhur bangsa kita untuk menjabarkan keadaan jati diri kita. Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang kita, dengan tujuan agar supaya “kawruh lan ngelmu” lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa maka digunakanlah sanepa, saloka, kiasan, perumpamaan, dan perlambang. Dalam acara ritual atau upacara tradisi; perlambang, saloka, dan sanepa ini diwujudkan ke dalam ubo rampe atau syarat-syarat yang terdapat dalam sesaji.

Serat ini menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi jiwa, sukma, hingga eksistensi akal budi. Yang akan meneguhkan keyakinan kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Mahamulia). Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “pasemon” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini saloka yang paling sering digunakan dalam berbagai wacana falsafah Kejawen.



1. Gigiring Punglu; Gigiring mimis; Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpamaan hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.
2. Tambining Pucang; Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.
3. Wekasaning Langit; batas langit ; umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.
4. Wekasaning Samodra tanpa tepi; berakhirnya samodra tiada bertepi; maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.
5. Galihing Kangkung; galih adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong); maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.
6. Latu sakonang angasataken samodra; bara api setungku membuat surut air samodra. Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.
7. Peksi miber angungkuli langit; burung terbang melampaui langit. Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.
8. Baita amot samodra; perahu memuat samodra; baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.
9. Angin katarik ing baita ; angin ditarik oleh perahu. Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.
10. Susuhing angin ; sarangnya angin. Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.
11. Bumi kapethak ing salebeting siti; bumi ditanam di dalam tanah. Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.
12. Mendhet latu adadamar (mengambil bara sambil membawa api); atau latu wonten salebeting latu (bara di dalam bara); atau latu binesmi ing latu (bara terbakar oleh bara); menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.
13. Barat katiup angin; atau angin anginte prahara; angin tertiup angin. menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.
14. Tirta kinum ing toya (air tertelan oleh air), atau ngangsu rembatan toya (menimba dengan air); atau toya salebeting toya (air di dalam air); menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air, maksudnya darah kita.
15. Srengenge pinepe, atau kaca angemu srengenge; matahari terjemur, kaca mengandung matahari; artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.
16. Wiji wonten salabeting wit (biji berada dalam pohon); dan wit wonten salebeting wiji (pohon berada di dalam biji) ; dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).
17. Kakang barep adhine wuragil ; kakaknya sulung, adiknya bungsu. Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligus akhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.
18. Busana kencana retna boten boseni, atau busana wrasta tanpa seret. Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.
19. Tugu manik ing samodra ; menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.
20. Sawanganing samodra retna; pemandangan intan samodra. Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).
21. Samodra winotan kilat ; samodra berjembatan kilat. Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”. Menggambarkan pesatnya yatma sampai pada ngabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.
22. Bale tawang gantungan ; rumah atau tempatnya langit bergantung. Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan. Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana makhlukNya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak dan jantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagai tawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.
23. Wiji tuwuh ing sela; biji tumbuh di atas batu. Dalam termonologi Islam diistilahkan laufhulmahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) atau cahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang dari sukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.
24. Tengahing arah; titik tengahnya arah. Ibarat mijan atau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkan panimbang (alat penimbang) hidup kita yang berada pada pancaindra.
25. Katingal pisah ; terkesan pisah. Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal” (loroning atunggil).
26. Katingal boten pisah; tampak tidak terpisah. Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa (pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.
27. Katingal tunggal ; tampak satu. Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.
28. Medhal katingal ; Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.
29. Katingal amedhalaken ; menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.
30. Menawi pejah mboten kenging risak ; bila mati tidak boleh rusak. Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.
31. Menawi karisak mboten saget pejah ; bila dirusak tidak bisa mati. Perumpamaan untuk hubungan nafsu dan rasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kita waspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi. Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).
32. Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati. Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga, setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnya orang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.



Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).

Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;



“bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong”



Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.



Nah, dalam pribahasa ini bahan untuk membuat bothok adalah hewan banteng. Sehingga namanya menjadi bothok banteng. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.



Cangkriman di atas adalah pribahasa yang menggambarkan keadaan yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah kehidupan kita pribadi. Godhong asem ; menggambarkan keadaan “sifat” yakni sebagai bingkai kehidupan kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni pekerti hidup kita. Singkatnya, berdirinya hidup kita ini asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan pula sebagai air mani. Godhong asem, adalah kiasan untuk per-empu-an. Alu bengkong adalah kiasan untuk purusa, yakni kemaluan laki-laki.



AA Jin SM: Dimana Ada Keraguan Disitu Ada Kebebasan

Suara langkah-langkah kaki membangunkanku dari tidur. Padahal baru saja aku mencoba rebahan di bawah pohon yang rindang. Telah berhari-hari aku berjalan di negeri asing yang panas dan kering ini. Dengan enggan aku bangun dan memperhatikan apa gerangan yang terjadi.



“Dia telah datang. Dia telah datang. Mari saudara-sudara yang baik kita pastikan teman-teman yang lain juga mengetahuinya,” kata seorang laki-laki.

“Ya, ini kesempatan yang jarang terjadi, kawan. Dan jangan lupa kita kumpulkan semua pertanyaan yang menggelayuti pikiran kita untuk ditanyakan pada Sang Baghawan,” timpal yang lainnya.

Aku jadi tertarik untuk mengetahui apa yang mereka sedang bicarakan. Perlahan aku ikuti rombongan itu. Tak berapa lama aku lihat ternyata telah banyak orang berkumpul di satu lapang di depan sebuah bangunan aula desa. Dari berbagai penjuru desa mereka berkumpul. Apa yang orang-orang ini akan lihat dan dengar?

Tak lama kemudian tampillah beberapa laki-laki berkepala plontos dan berjubah warna kuning padi siap tuai. Mereka dikepalai oleh seorang lelaki berumur sekitar 40an tahun. Ia tampak anggun, berwibawa, tenang dan teduh bagaikan seorang raja diraja. Ia dipersilahkan duduk terlebih dahulu, baru para muridnya dan semua penduduk desa melakukan hal yang sama. Lelaki muda kepala para petapa itu adalah Petapa Gautama, seorang mantan pangeran yang memutuskan untuk membaktikan dirinya mencapai pencerahan sempurna. Dan para rombongan pemuda yang tadi aku ikuti ini adalah pemuda dari suku-suku Kalama.



Dalam pengembaraan jiwaku ini, aku memutuskan untuk mengarungi lautan, melintasi waktu, menuju India, tanah dimana spiritualitas disemai. Sekalipun secara genetika, nenek moyang umat manusia berasal dari Afrika Timur, namun tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa India-lah yang menjadi rahim manusia2 yang berkesadaran tinggi. India adalah ibu yang melahirkan banyak man of spirit, para mistik. India adalah dapur raksasa dimana para koki meracik masakan dan menyajikan hidangan dengan ‘rasa’ super. Rasa Dharma. Dhammasuka.



Ada kesalahan umum dalam benak kita bahwa hindu adalah sebuah agama orang India. Ini tidak benar. Yang benar adalah hindu bukan agama. Hindu adalah budaya, falsafah dan spiritualitas hidup bangsa India. Hinduisme adalah isme-nya, atau falsafahnya, orang india. Dalam falsafah hidup, budaya dan spiritualitas ini berkembanglah dharma, yaitu ajaran2 dan metoda2 pencapaian spiritual yang beragam. Dalam hinduisme ada banyak dharma, diantaranya Shiva Dharma, Vhaisnavaya Dharma, Sanatahana Dharma, Brahmana Dharma, Buddha Darma, Sikh Darma, Jain Darma, Hare Krishna Dharma, Tantra Dharma dan banyak lagi lainnya.



Selama 3 ribuan tahun dharma2 ini hidup berdampingan dengan harmonis. Tentu saja ada berbagai perbedaan dogma di antara dharma-dharma tersebut. Namun secara budaya dan kebathinan manusia-manusia India diikat erat oleh kesadaran akan ahimsa (non-kekerasan), non-ego dan harmoni. Dalam peradaban manusia, peperangan antar kerajaan nampaknya menjadi suatu yang nisbi. Namun selama ribuan tahun tidak pernah satu kalipun ada peperangan yang dipicu oleh perbedaan dharma / agama. Karena inti dari agama-agama India adalah olah bathin, olah rasa.



India telah menjadi miniatur kesadaran manusia sejagat dimana penganut animisme, dinamisme, politheisme, monotheisme, dan pantheisme, panentheisme atheisme hidup berdampingan tanpa harus saling membinasakan.



Dalam keragaman budaya, ketimpangan sosial, kemiskinan yang telanjang, mereka masih bisa mengedapankan prinsip2 hidup berdampingan atas nama Dharma…… sampai para penyerbu dari Turki, mongol dan Turki-Mongol yang merangsek tanah ibu India dan menancapkan kekerasan dan memaksakan agama yang hanya menekankan dogma dan syariat yang sama sekali asing di mata mereka dan memandang rendah agama lain yang tidak sepaham dengannya. Tak terhitung vihara, pura dan cand-candi yang indah dihancurkan karena dianggap pemujaan berhala. Perpustakaan2 di bakar. dan pembantaian berdarah-darah terjadi. Sejak saat itulah tanah India terpisah menjadi kerajaan-kerajaan berdasarkan agama, dengan garis marka yang jelas, penuh kecurigaan dan dendam.



=== == +++++ ====



Setelah perkenalan dari pihak para tetua adat suku Kalama dan pihak Petapa Gautama, maka sesi tanya jawabpun dimulailah.



“Petapa Gautama, telah banyak para petapa dan brahmana terpandang datang ke desa kami. Masing-masing dari mereka mengaku bahwa mereka memiliki dharma yang paling benar dan unggul. Dan sambil mengajar mereka juga saling mencela dan memandang rendah petapa-petapa lainnya. Hanya metoda ini yang benar sedang yang lain salah. Hanya ajaran inilah yang sempurna sedang yang lain cacat dan sesat. Dan sekarang engkau dan murid-muridmu datang ke desa kami, tentu saja engkau akan mengajarkan dharma juga. Kami jadi ragu dan bingung menilai mana yang benar dan mana yang salah. Bagaimanakah menurut pendapatmu, Petapa Gautama?



Dan demikianlah jawaban Petapa Gautama:



“Oh para tetua dan pemuda Kalama. Adalah tepat bagimu untuk meragukan apa yang layak untuk diragukan. Adalah tindakan yang benar untuk menilai dan mempertimbangkan sesuatu sebelum kamu mempercayainya.



Inilah prinsip yang kalian harus pegang:

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu didesas-desuskan oleh banyak orang.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu diturunkan oleh tradisi.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab suci.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena berdasarkan logika dan kesimpulan belaka.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu berdasarkan perenungan orang lain.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu dirasa cocok dengan pandanganmu.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar hanya untuk menyenangkan gurumu atau tokoh yang kau hormati



Tetapi renungkanlah hal itu dengan seksama dengan akal budi dan hati yang jernih.

* Apakah hal demikian membawa kebaikan untuk sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian berguna bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demkian membawa cela bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian membawa kerugian dan penderitaan bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian dibenarkan oleh para suciwan dan bijaksana?



Jika semua faktor itu kalian telah pertimbangkan, dengan hati dan pikiran yang terarah kepada sikap mulia, maka peganglah kebenaran itu erat-erat.



Apakah, oh Suku Kalama, tanda-tanda dari hati dan pikiran yang terarah pada sikap mulia itu?

- Jika pada dirinya tidak didapati keserakahan.

- Jika pada dirinya tidak didapati kebencian

- Jika pada dirinya tidak didapati kebodohan batin



Dalam orang yang pikiran dan hatinya dipenuhi 3 sikap mulia itu, maka semua pertimbangan yang aku sebutkan tadi akan mampu menilai mana ajaran yang benar dan mulia, dan mana yang tidak.



Seandainya, oh Suku Kalama, memang benar ada alam-alam kehidupan setelah kematian, maka mereka yang telah terbebaskan dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin akan menikmati kelahiran2 di alam-alam yang baik.



Seandainya pun, oh Suku Kalama, tidak benar ada alam-alam kehidupan setelah kematian, maka mereka yang telah terbebaskan dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, di dunia ini pun mereka telah terbebas dari perasaan bermusuhan.



Mereka yang telah bebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, oh Suku Kalama, akankah mereka hidup dalam kejahatan? Tentu tidak bukan? Dengan demikian mereka telah membebaskan diri dari kemungkinan bencana yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahat.



Karena tidak adanya kemungkinan bencana yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahat, oh Suku Kalama, maka mereka yang telah bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin akan hidup dalam sukacita, kebahagian dan tanpa ketakutan dalam kehidupan ini.



Demikianlah ada empat keuntungan yang dapat kalian tuai dalam kelahiran ini dan kelahiran yang akan datang bagi mereka yang berusaha membebaskan diri dari kebencian, keserakahan dan kebodohan batin.



= = = =



Aku terhenyak. Begitu terkejutnya diriku mendengar wejangan petapa muda ini. Sungguh luar biasa petapa ini. Ia bukan seperti yang aku bayangkan, yakni seorang guru agama yang cuma berbicara tentang kehidupan setelah kematian dan segala cerita alam-alam ghoib yg tidak bisa dibuktikan secara empiris. Atau tentang kunjungan mahluk-mahluk halus semacam malaikat atau dewa yang memberi sabda ini dan itu. Justru petapa ini begitu rasional. Ia mengajak setiap orang mulai independen menyikapi hal yang paling asasi dalam hidup ini, yaitu keyakinan.



Inilah yang seharusnya menjadi jantung dari segala ajaran agama, yaitu tidak mudah meyakini sesuatu.

Kesalahan agama-agama adalah melulu menekankan umatnya untuk mengimani akan adanya tuhan, nabi, kitab dan ajaran yang sempurna, tanpa mendorong mereka untuk meragukan, membandingkan dan menilainya sendiri. Belum apa-apa umat manusia sudah dicekoki dengan konsep kitab yang sempurna, agama yang terakhir dan sempurna, nabi terakhir dan sempurna, juru selamat penebus dosa dsb. Bagaimana mungkin manusia bisa cerdas apabila kacamata yang dipakai untuk menatap dunia adalah kaca mata iman dan klaim-klaim kebenaran sepihak?



Ingat bahwa saya sedang berada di India utara 2500 tahun yang lalu. Namun sedini ini, petapa Gautama telah menancapkan suatu sikap mulia yang jauh melebihi ajaran nabi-nabi agama samawi yang melulu menekankan iman, iman kepada sesuatu yang seringkali sukar diterima akal sehat orang dewasa.



Inilah spiritualitas yang sebenar-benarnya, keluar dari sikap mempercayai buta suatu ajaran, kitab dan tokoh agama, dan mulai berani melangkah sendiri melihat dunia apa adanya. Anda tidak perlu pintar dalam filsafat dan theologi untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam agama-agama. Spiritualitas sejati membebaskan kita dari perbudakan kebodohan, dan mulai mempercayai diri kita dalam tanggung jawab dan integritas.



Ubi dibium ibi libertas - dalam keraguan ada kebebasan.



Bukan tujuan saya untuk mempromosikansuatu agama tertentu, justru dengan mengambil kisah ini umat Buddha di Indonesia harus sadar bahwa tokoh agama kalian justru seorang free thinker sejati yang menekankan indipendensi manusia, bukan hanya mempelajari ajaran karena tradisi, kitab dan menurut kata-kata biksu saja. Bukankah kalian memiliki jargon ehi pasikho – datang dan selami sendiri?



Jikalau petapa Gautama mengundang pemuda Kalama untuk menelaah ajaran-ajaran agama dengan akal budi dan integritas, maka buddhisme sendiri tak terkecuali harus dibedah dan dianalisa jangan dipercayai begitu saja!



Hal yang ironis adalah justru umat Buddha yang selalu mengagung-agungkan Khotbah Buddha untuk suku Kalama, enggan mengkritisi ajarannya sendiri, karena takut dengan budaya, tradisi atau dikucilkan oleh komunitasnya.



Ratusan tahun setelah Buddha wafat, justru para yogi non-buddhislah yang tampil membela dharma sejati dengan menghasilkan kompilasi ajaran-ajaran agung dalam kitab yang sangat termashur yaitu Bagavad Gita. Dalam kitab inilah para yogi mengkristalkan dharma, bahwa ada banyak jalan dharma, dan semua dharma itu berasal dari yang satu dan mengarah pada yang satu. Pada saat itu justru ajaran buddhis sudah dikooptasi oleh sekelompok elitis biksu yang merasa berhak menilai mana sutra yang berasal langsung dari bibir Buddha dan mana yang tidak. Padahal semua sutra di tulis paling dini 200 ratus tahun setelah Buddha wafat dan memungkinkan untuk terjadinya bias budaya, politik, tafsir, interpolasi, dan kepentingan dogma!



Menangislah kalian umat Buddha, karena kalian sudah mendegradasi ajaran guru kalian sendiri dan membakukannya dalam dogmatika kaku.



============







Pada saat itu tampillah pula seorang pemuda dari kasta brahmana. Ia sangat cakap dalam pengetahuan weda, sastra dan kitab-kitab suci lainnya.



“Petapa Gautama, engkau bukan berasal dari kasta brahmana, melainkan kasta ksatria. Begitu pula umurmu masih muda. Pada kami ada kitab-kitab suci yang umurnya jauh lebih tua darimu. Kami mengamati ajaranmu, dan kami dapati bahwa ajaranmu tidak ditemukan dalam kitab-kitab kami. Padahal kami telah meneelah bahwa kitab yang kami miliki adalah benar dan sempurna. Hanya inilah yang benar dan yang lain salah. Bagaimana kamu memandangnya?”



“Oh brahmana yang muda, berapakah umurmu?”

“Umurku kurang dari 20 tahun, oh Bagawan.”

“Kalau begitu apakah engkau, dengan matamu sendiri, melihat dan mengawasi bagaimana kitab-kitab itu disampaikan dari satu generasi ke generasi, disalin dari satu naskah ke naskah yang lain tanpa mengalami pengurangan dan pelebihan, dan pemaknaan setiap kata dan kalimatnya tidak pernah bergeser dari generasi ke generasi?”

“Tentu tidak , oh Bagawan.”

“Apakah orang tuamu, atau kakekmu, atau kakek buyutmu, melihat dan mengawasinya seperti yang aku tanyakan sebelumnya?”

“Tidak pula oh Petapa Gautama. Sesungguhnya kitab-kitab ini jauh lebih tua dari pada kakek buyut generasi ketujuh kami.”



“Kalau demikian, bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan bahwa inilah kitab yang benar sedang kitab yang lain salah? Bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan bahwa ajaran inilah yang benar sedang ajaran lain salah?



Bagaikan sederet orang-orang buta yang berpegangan tangan. Yang depan mengatakan, ‘aku telah melihat seekor gajah yang demikian dan demikian,’ dan pernyataan itu disampaikan begitu saja kepada orang-orang buta dibelakangnya, demikianlah pemahamanmu.



Jika engkau sudah mengatakan hanya inilah yang benar dan yang lain salah, maka engkau telah melekat kepada sesuatu. Dan manakala engkau telah melekat pada sesuatu, engkau tidak bisa beranjak kepada kesadaran yang lebih tinggi.



Oh brahmana, sesungguhnya setiap manusia memiliki benih-benih keluhuran budi, tanpa memandang kasta dan latar belakang agamanya. Benih-benih keluhuran budhi ini hanya akan mekar apabila avidya, ketidak tahuan akan kesejatian sifat segala sesuatu, kebencian, serta kemelekatan kepada nafsu dan konsep sedikit demi sedikit dilenyapkan.



Kepada murid-muridku aku tak pernah lelah menekankan bahwa ada tiga pilar dalam menempuh kehidupan suci, yaitu:

- Sila, usaha untuk menegakan moral dan etika.

- Samadhi, usaha untuk selalu mencari keheningan bathin, lepas dari menilai dan menghakimi, menggenggam dan melepaskan, menyukai dan membenci.

- Panna, usaha untuk selalu menambahkan kebijaksanaan dan pengetahuan.



Ketiga pilar ini harus seimbang dan simultan.

* Mereka yang hanya menekankan sila akan terjebak pada kemelekatan akan syariat kaku dan menjadi budak dari batasan-batasan yang kita pakai sendiri.

* Mereka yang hanya menekankan Samadhi akan kehilangan pijakan di dunia nyata. Mereka akan mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak.

* Mereka yang hanya menekankan pada panna, atau kebijaksaan akan cenderung merasa benar sendiri, mudah menyalahkan orang lain yang tidak secerdas dan sebijaksana mereka.



Kitab-kitab suci oh Brahmana muda, hanyalah kumpulan pengalaman dan prinsip-prinsip baik dari para penempuh kesucian di masa lalu. Mereka menuliskannya sebagai respons akan permasalahan mereka dalam ruang, waktu dan cara berpikir orang sejamannya.



Jikalau engkau dewasa melihat dunia ini, maka engkau akan dapati bahwa semua yang terbentuk dari unsur-unsur yang menggagasnya, suatu saat akan pula lenyap berdasarkan sifat-sifat dari unsur yang menggagasnya, begitu pula ajaran dan konsep dalam kitab suci, oh Brahmana muda.



Kebenaran yang sempurna tidak akan kau temui dalam kitab-kitab. Justru dalam tubuh yang tidak lebih dari dua meter ini, tersimpanlah rahasia-rahasia abadi. Dalam tubuh yang tidak lebih dari dua meter ini, tersimpanlah benih-benih untuk direalisasikan, apakah itu surga atau neraka, samsara atau nibanna.



Demikianlah oh Brahmana muda, telah aku jawab, aku jelaskan dan aku perinci mutiara-mutiara kebijaksaan kepadamu, sekarang terserah dirimu, akankah engkau menerimanya atau tetap bersikukuh dalam pemahamanmu.”



Bagai dikejutkan oleh halilintar di siang bolong. Bagaikan tanah kering kerontang yang disirami oleh hujan lebat, demikianlah hatiku kala mendengar ucapan Sang Buddha. Tak kuasa kedua mata ini meneteskan air mata. Aku teringat di negeriku tercinta Indonesia. Di negeri ini justru orang terilusi dengan agama-agama bentuk. Mereka mengagung-agungkan hal yang remeh temeh. Mereka justru terikat dengan kebenaran yang masih kasar. Masih banyak orang yang terilusi dengan cerita surga dan neraka abadi yang dialami setelah kematian. Masih percaya pada kebenaran mutlak dari kitab-kitab dan ajaran-ajaran yang dianggap suci, sempurna dan tidak bisa dikoreksi. Masih percaya pada tokoh ini dan itu yang sama sekali tidak bisa diusik kesejarahan dan kebenaran cerita hidupnya.



Padahal yang sempurna itu bukanlah kitab atau ajaran, melainkan perjalanan evolusi kesadaran manusia sejagat itu sendiri. Kesadaran itu sempurna karena ia mampu untuk berdialektika dan mencari makna baru menurut ruang, waktu dan pengetahuan dalam jamannya masing-masing. Sempurna yang terus mengusahakan kesempurnaannya lagi. Suatu usaha yang tidak pernah berakhir.



Sampai kapan kebodohan di negeri ini terus diperam? Sampai kapan yang cangkang dimuliakan sedangkan yang isi dibuang dan dianggap membahayakan? Satu-satunya cara agar bangsa ini terbebaskan dari kebodohan yang mengelayuti benak putra-putri bangsa ini adalah memisahkan antara negara dan agama. Agama harus dimasukan ke dalam wilayah privat. Wilayah pribadi, yang tidak boleh dicampurtangani oleh pemerintah dan tidak boleh dimonopoli oleh suara mayoritas. Pelajaran-pelajaran agama seharusnya diajarkan di keluarga dan komunitasnya masing-masing saja, bukan di sekolah-sekolah umum. Justru di lembaga2 pendidikan dan di masyarakat yang bermulti wajah ini, yang dikedepankan adalah adab, etika, kejujuran, intelektualitas, dan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan kebenaran berdasarkan dogma suatu agama.



Aku merindukan Indonesia yang baru, Indonesia yang mengedepankan kejujuran, intelektualitas, kemanusiaan dan tanggung jawab. Aku merindukan anak-anak bangsa ini bebas memilih apa yang diyakininya, bahkan dalam batas-batas tertentu, bebas untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang darinya mereka akan belajar kebaikan-kebaikan yang lebih tinggi.



Aku merindukan Indonesia dengan beragam perspektif pemikiran. Biarkan para pengusung spiritisme. animisime, dinamisme, politheisme, monotheisme, deisme, pantheisme, panentheisme, agnotisme bahkan atheisme untuk mencari makna hidupnya sendiri dan berdialektika dalam kodrat diri dan kapasitas kesadarannya masing-masing. Asalkan mereka diikat dengan kesadaran akan semangat hidup berdampingan dan menjunjung hak hidup dan berkeyakinan masing-masing.



Ketika sesi Tanya jawab itu selesai, maka tiap orang mengucapkan terima kasih atas penjelasan dari Petapa Gautama dan murid-muridnya. Mereka menungkupkan kedua tangannya di depan dada dan mengangguk sebagai tanda hormat. Ingin rasanya aku menanyakan banyak hal kepada Petapa Gautama, namun bibir ini terasa terkatup erat. Membisu seribu bahasa. Mungkin karena apa yang aku baru saja dengar, masih terlalu tinggi buatku, terlalu halus buat pikiranku.



Setelah kami semua berdiri dan memberi ruang kepada Petapa Gautama dan murid-muridnya untuk meninggalkan aula desa, mereka pun berdiri dan meminta diri. Satu persatu dimulai dari sang pemimpin yaitu pertapa Gautama berjalan tenang, kepala mereka tertunduk. Hati mereka teduh. Dan ternyata di barisan itu terdapat pula banyak umat awam dan perumah tangga biasa yang menjadi murid-murid inti sang Buddha, bukan hanya para biksu!



Yang membuatku bergetar adalah manakala Petapa Gautama melirik ke arahku. Ia berhenti untuk sejenak memperhatikanku. Tentu saja ia tahu aku orang asing. Dari penampakan tubuhku yang terbilang pendek dan ringkih di banding orang2 India yang tinggi besar, aku bagaikan setitik tinta hitam dihamparan kain putih. Dengan kedua telapak tangan di dadanya ia menebarkan senyum khusus untukku. Senyum berjuta arti. Aku membalasnya dengan senyum pula. Senyum pembebasan. Terima kasih Gautama. Terima kasih India.





Spiritualitas – ketelanjangan dan kejujuran.



Dalam setiap note saya selalu menekankan kejujuran. Dan spiritualitas yang sejati berbicara tentang kejujuran. Kejujuran yang menelanjangi setiap kepongahan dan kecongkakan agama lahiriah dan dogma.



Manusia spiritual adalah manusia yang jujur melihat betapa agama-agama dibangun diatas dogma yang rapuh, dan irrasional. Manusia spiritualitas adalah manusia jujur yang melihat kebohongan sejarah agama dan tidak mau ikut menambah kebodohan umat manusia dengan berpura-pura memujanya dan menyalutnya dengan eufemisme. Manusia spiritual bahkan tidak mau menerima uang dan hidup dari membodohi umat manusia.



Ada sesuatu yang salah dengan agama-agama.

Ada sesuatu yang salah dengan keberagamaan kita.

Ada sesuatu yang salah dengan pemujaan-pemujaan kita kepada tuhan, agama dan tokoh2 agama dan kitab-kitabnya.



Kesalahan itu ada pada tidak diberdayakannya akal budi dan nurani kita.

Dan tuhan yang takut dengan analisa akal budi, adalah tuhan yang tidak layak dipuja oleh nurani kita.



Banyak dari kami yang akhirnya memilih untuk tidak ikut ambil bagian dalam organisasi keagamaan dan ritualnya. Kami lebih memilih hidup sederhaa dan mandiri.



Agama yang sejati sebenarnya hanya diperuntukan untuk mereka yang sudah dewasa.

Agama sejati lahir dari sikap hati. Bukan dari dogma dan kitab-kitab.

Agama sejati lirih dan hening menghadap ke dalam, namun lembut dan ceria menghadap keluar, kepada alam dan sesame mahluk hidup.



Manusia spiritual adalah manusia yang telanjang. Dengan telanjang kita lahir ke bumi ini, dan dengan telanjang kita mengarungi pengembaraan spiritual kita.

Telanjang dari segala ketakutan akan materi.

Telanjang dari segala mulut manis apologetis.

Telanjang dari segala titel semu dalam hierarki agama.

Telanjang dari segala pengakuan-pengakuan dogmatis.

Telanjang, bagai kisah adam dan hawa sebelum mereka memahami nilai benar dan salah.



Alaniss Moressete, seorang penyanyi dari Kanada, pernah menghabiskan hidupnya di India selama 1,5 tahun. Dan baru di India dia bisa menerima hidupnya apa adanya. Sebelumnya ia selalu bergumul dengan rasa takut, bulimia, obat2an dan krisis diri. Melihat masyarakat India yang begitu bersahaja dalam kemiskinan dan kepolosannya, Allanis sadar bahwa ia tidak perlu terus membawa-bawa rasa takut, trauma luka hati, kebiasaan buruk dsbnya. Alih-alih ia bisa menerima dan menikmati hidup yang hanya satu kali saja. Dalam kekurangannya ia menerima semuanya itu dan menjadikannya sebagai kekuatan hidupnya.



Sebagai rasa terima kasihnya pada bangsa India, ia menuliskan lagu Thank You sebagai katarsis dari fase penerimaan dirinya. Dalam video klip itu, ia berpose telanjang dan dalam ketelanjangannya ia memaknai ruang dan waktu hidupnya dan menyapa setiap orang yang ia temui apa adanya, sebagai sesama manusia.



terima kasih India

terima kasih rasa takut

terima kasih kekecewaan

terima kasih kerapuhan diri

terima kasih konsekwensi

terima kasih, terima kasih keheningan



saat-saat dimana aku melepaskan

adalah saat dimana aku menerimanya dgn melimpah

saat-saat dimana aku melompat

adalah saat dimana aku mendarat



terima kasih India

terima kasih pemeliharaan

terima kasih kekecewaan

terima kasih kekosongan

terima kasih kejelasan

terima kasih, terima kasih keheningan

Sabtu, 25 September 2010

A Jin SM: Antara Putri Ayu, Ave Maria dan Siti Aisyah

Hari Sabtu yang lalu, 18 September, saya dan istri menghabiskan malam mingguan kami di rumah saja. Sementara putra-putri kami hang out bersama teman sebayanya di sebuah mall di Bandung kota. Itulah pahala setimpal yang bisa kami berikan kepada mereka setelah seminggu belajar keras. Biarlah mereka hang out dengan teman2 sebayanya yang berlatar belakang berbeda, tanpa ada kecurigaan rasial dan agama.



Sementara di rumah kami menikmati waktu-waktu relaks dengan menonton acara kesukaan kami berdua, Indonesia Mencari Bakat. Saya dan istri memang berbeda idola. Idola saya Putri Ayu. Sedangkan idola istri saya, tentu saja – sudah bisa ditebak, Brandon de Angelo.

Ada hal yang sangat berkesan dan penuh arti bagi saya saat itu, yaitu ketika Putri Ayu menyanyikan lagu Ave Maria. Suaranya yang merdu, roman mukanya yang teduh, tatapan mata yang sayu, wajah cantik bak bidadari dan usia yang begitu muda, polos dan bersinar membuat setiap mata yang memandang akan terpana dan dalam hatinya akan memuji, “She’s an angel. “

Dari awal dia menyanyikan lagu Ave Maria, sampai saat-saat terakhir, saya merasa merinding, pikiran ini bagaikan terhisap lubang hitam masa-masa lalu. Terlintas kembali memeori-memori indah di mana saya mulai mengarungi hutan-hutan lebat pemikiran2 agama dalam dunia antah berantah.

Tanpa saya sadari saya meneteskan air mata dan tangan ini menggenggam tangan istri saya yang lembut erat sekali. Hingga istri saya keheranan. Inipun baru saya sadari setelah lagu itu selesai.

Apa sih yang membuat saya begitu terhisap dalam moment2 keindahan itu?

- Karena keindahan suaranya? Tentu. Suara Putri Ayu tak diragukan lagi sempurna. Bagi saya sudah jelas dia layak jadi juara pertama di kontes itu.

- Karena keagungan lagunya ? Tentu. Karya2 Schubert, Mozart, Handell, Beethouven bagaikan alunan music surgawi. Jujur, jauh lebih enak music2 klassik dari pada musik kasidahan.



- Karena saya setuju dengan isi lagunya? Tentu tidak. Dan disinilah masalahnya.



Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu” ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang. Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.



Para agamawan bagaikan orang yang hendak pergi ke istana, namun baru melihat pintu gerbangnya yang indah, sudah merasa silau dan percaya bahwa mereka sudah berada di dalam istana.



Sebagai seorang muslim, tentu saja saya tidak percaya bahwa Maria atau siti Mariam adalah bunda allah. Bertahun-tahun lalu , dalam pencarian kebenaran saya mempelajari bahwa umat Kristen awal tidak pernah memandang Maria sebagai bunda allah. Agama Kristen yang berawal dari salah satu sekte kecil dalam dunia yahudi, yang nota-bene adalah produk budaya patriakhal, tidak mungkin menyanjung-sanjung perempuan.



Baru ketika ajaran2 kristen berkembang di wilayah2 dimana politheisme berakar, seperti siria, yunani dan romawi, maka ajaran katolik dibakukan. Syahwat politheistik mereka dicari akarnya dalam iman Kristen, maka diciptakanlah figur2 santo dan santa selain yesus dan tuhannya orang Israel. Bible sendiri tidak pernah menyanjung-sanjung maria sedemikian rupa. Adalah karena budaya dan kebutuhan devosi saja yang menjadikan figure maria, santo dan santa serta para martyr Kristen dijadikan obyek devosi.



Namun demikian, di sinilah point terpentingnya, yaitu agama bukan cuma masalah benar atau tidak, menyejarah atau tidak, namun masalah psikologis dalam benak manusia itu sendiri. Dan ini sehat apabila disikapi dengan wajar. Karena agama juga masalah psikologis, maka sudah sepatutnya kita menganggap bahwa kebenaran agama bukan kebenaran mutlak, melainkan kebenaran karena utilitas.

Tidak ada agama yang benar-benar benar dan benar-benar orsinil. Tidak ada agama yang bisa mengklaim bahwa hanya agamanyalah yang berasal dari tuhan sedangkan yang lain bersifat inferior, sesat, palsu, dan tidak diridhoi allah. Lagian mana ada agama yang mampu membuktikan adanya tuhan / allah? Lha tuhan sendiri hanya konsep koq! Jadi bagaimana mungkin si konsep memberikan wahyu? Bagaimana mungkin si konsep bersabda, ‘diijinkan bagimu untuk berperang, membantai musuh, mengawini bocah berumur 6 tahun, dsb? Yang namanya konsep cuman buah pikir atau buah khayal dari otak si orangnya.



Adalah hasrat dalam diri setiap manusia untuk mengagumi figure ibu atau wanita. Karena kehidupan ini mustahil ada tanpa seorang ibu, atau sesuatu yang merahiminya. Seorang bayi tidak mungkin lahir tanpa seorang ibu, seekor binatang tidak mungkin lahir atau ditelurkan tanpa seekor induk. Sebatang pohon tidak mungkin tumbuh tanpa ada pohon induknya. Singkatnya semua bentuk kehidupan ini tidak akan pernah ada tanpa seorang / suatu rahim ibu. Maka dari itu dalam setiap kebudayaan manusia menyebut hal2 yang hampir serupa, ‘bumi adalah ibu, dan langit adalah ayah’, begitu pepatah cina mengatakan. Dalam bahasa Inggris kita mengenal Mother Nature dan Heavenly Father. Dalam bahasa Indonesia, tentu saja kita mengenal ibu pertiwi. Jadi citra tentang ibu, rahim, dan cinta kasih tertanam secara nyata dalam benak manusia sepanjang jaman. Dalam bahasa Carl Gustav Jung citra dan kerinduan itu disebut arketype. Arketype itu diwujudkan dalam symbol baik sebagai wujud feminin( anima / yin) ataupun wujud maskulin (animus/ yang).



Orang-orang yunani yang bathinnya peka, yang sekarang sudah jadi Kristen, menyadari akan kegersangan agama Kristen dan yahudi yang cenderung patriakal. Citra perempuan tidak pernah ada dalam symbol-simbol keagamaan yahudi dan Kristen awal. apalagi Hawa, symbol kaum perempuan, dianggap sebagai pembawa dosa kepada Adam, simbol kaum laki-laki). Untuk itu mereka melihat sosok Maria sebagai symbol arketype keibuan, cinta kasih, pengayoman dan kesabaran. Hal ini didukung dengan fakta bahwa yesus, sekalipun lahir dalam tradisi patriakal, justru mendobrak tradisi nenek moyangnya dengan menjadikan maria Magdalena sebagai salah satu soko guru di padepokannya. Ia tidak pernah merasa risi dengan perempuan, bahkan para pelacur. Baginya perempuan adalah kaum yang harus dihormati, dilindungi dan dikagumi secara wajar oleh laki-laki. Perkawinan monogamy adalah perkawinan yang ideal bagi yesus. Jadi klop sudah, yesus yang revolusioner dengan citra-citra kelembutan dan kerahiman dalam benak jemaat Kristen yunani romawi ini.



Benarkah siti maria bunda yesus itu memiliki kualitas2 karakter yang begitu mulia yang tidak dimiliki oleh ibu-ibu lain? Belum tentu. Manusia maria tidak lebih mulia dari ibu-ibu yang merelakan dirinya meninggalkan keluarga demi mencari sesuap nasi pergi menjadi TKW di luar negeri. Namun deifikasi Bunda Maria ini memberikan inspirasi akan kelembutan, cinta kasih, ketenangan, ketentraman, dan pengayoman kepada anak-anak manusia. Inilah psikologi manusia. Dan ini wajar. Tidak ada yang palsu, sesat ataupun menyesatkan. Semua hal yang wajar dan manusiawi bisa dijadikan untuk inspirasi dan kebaikan manusia. Inilah yang disebut benar karena utilitas.



Dalam agama-agama india kita melihat figure-figur dewi seperti dewi Chandra, dewi laksmi. Dewi saraswati, dewi durga. Tentu saja dewi-dewi hanya bersifat antromorphisme, bukan suatu kenyataan senyata-nyatanya. Orang hindu yang bodohpun tidak akan pernah bertanya dewi siapakah yang lebih cantik, pintar dan berkuasa. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa itu hanya simbol2 yang menunjukan sesuatu. Agama Buddha misalnya, agama yang berhasil menumbangkan tahayul dewa-dewi dalam benak masyarakat india, namun segera mereka sadar bahwa dewa-dewi itu hanyalah symbol dari sifat-sifat mulia yang dituju. Maka dari itu dalam Buddhisme ada figure-figure boddhisatva yang menyimbolkan manusia-manusia yang berkesadaran yang rindu untuk mencapai nirvana dengan jalan membantu semua mahluk hidup ke gerbang nirvana juga. Ketika buddhisme dibawa ke china, avalokitesvara, symbol dari kerahiman dan kerahmanian semesta, digambarkan menjadi seorang perempuan yang cantik yaitu dewi kuan im.



Jadi dapat kita pahami di sini bahwa dewa-dewi atau bunda maria, bukan tujuan devosi dan ritual pada dirinya sendiri, namun sebagai wahana, titik fokus untuk menuju suatu idea yang diidealkan, yaitu cinta kasih, kelembutan, kerahiman, pengayoman dan penghargaan akan wanita dan ibu.



Bagaimana dengan islam? Saya sering bertanya kepada diri saya, mengapa islam begitu keras kepala dalam kecetekan berpikirnya. Kita sering bangga dengan tauhid kita, namun kita lupa bahwa tauhid itupun hanya konsep. Kalau tuhan itu satu, benar-benar satu dan tidak ada mahluk yang setara dengan dia, maka ia adalah sesuatu juga. Dan sangat mungkin ia seorang penyendiri yang tidak punya empati akan mahluk2 lain. Itulah kenapa ia begitu egois, tidak toleran, haus pujian dan sanjungan.



Semua orang juga tahu bahwa tuhan itu tidak beranak dan beribu. Orang Kristen Yahudi mengatakan yesus putra allah bukan berarti allah menyetubuhi maria dan mengandung yesus. Tidak ada orang Kristen yahudi segoblok itu. Hanya orang arab tolol saja yang mengira ada orang yahudi sebodoh itu.



Para murid yesus tahu bahwa tuhan itu konsep. Konsep tentang yang baik dan yang mulia. Karena ia konsep maka ia tidak berpribadi. Ia hanya hadir dalam batok kepala orang yang membaktikan hidupnya pada cita-cita altruistic semacam itu. Karena tuhan itu konsep tentang kesadaran, dan kesadaran itu luas tak terbatas, maka manusia-manusia yang mewujudkan konsep altruistic itu disebut anak tuhan, yang artinya bagian kecil yang nyata dari samudra kesadaran luas itu. Sama halnya seperti tetangga-tetangga saya yang suka berteriak-teriak “Aing anak Bandung, aing anak Persib”. Tidak ada orang waras yang akan bertanya pada mereka , “apa bener Bandung atau Persib bisa menghamili ibu kamu sehingga kamu lahir jadi anak Bandung / anak Persib?”. Di dalam bahasa kita pun kita mengenal anak panah, anak tangga, tanpa perlu memusingkan di mana ibu dan bapa panahnya, dimana ibu dan bapak tangganya. Karena itu cuman pembahasaan.



Sekali lagi tuhan itu konsep tentang makna terdalam dan mulia. Ia bukan benda atau mahluk yang bisa berfirman dan berbicara pada manusia atau nabi2 tertentu. Jadi karena ia hanya konsep maka tidak masalah kalau ada yang mengatakan anak allah, cucu allah, pacar allah, bunda allah dsb. Lha wong allah itu cuman konsep koq. Lagian mana mungkin konsep itu beranak atau menghamili?



Inilah yang tidak dipahami oleh kita orang islam yang selalu begitu ngotot dan narsis dengan kecetekan berpikir kita. Kita adalah katak2 dalam tempurung. Merasa berhak memaki dan mencap orang lain kafir, kufur, sesat dan menyesatkan.



Memang tauhid dalam islam itu kuat, namun ia gersang. Dalam figure Bunda Maria, Dewi saraswati, Dewi Kuan Im kita melihat idea-idea kekaguman dan pengaguman akan wanita, dan ibu. Namun dalam islam kita begitu bangga menjadikan wanita sebagai obyek pelengkap, bahkan korban dari syahwat budaya patriakal. Dimana dalam dunia islam ada figur wanita yang menjadi symbol kebajikan, kesabaran, kehormatan, kemuliaan, pengayoman dan cinta kasih? Dari awal sejarah awal islam, justru wanita mengalami pemasungan demi pemasungan. Islam mencitrakan wanita yang ideal adalah wanita yang dibatasi ini dan itu oleh laki2, bahkan untuk apa yang layak dan tidak layak dipakai secara wajar oleh si wanita itu sendiri. Dan si wanita harus bangga dan mensyukuri akan pemenjaraannya itu. Bisa jadi kecenderungan ini datang dari kehidupan tragis sang nabi kita sendiri yang tidak merasakan kasih seorang ibu secara wajar, intens dan nurturing sehingga ketika ia berada di puncak kekuasaannya ia melihat wanita sebagai pelengkap kepuasan lahiriah dan bathiniah saja. 500 tahun sebelum Muhammad lahir, Isa as sudah memberikan contoh akan kebaikan dan idealism dari perkawinan monogamy. Monogami, tidak memberi jawab secara memuaskan atas segala permasalah manusia, namun paling tidak, ia memberikan tempat yang sangat mulia kepada wanita, ketimbang poligami. Namun justru dalam islam Muhammad menjadikan peradaban mundur. Ia bahkan menutupi hasrat Don Juan nya dengan firman2 allah yang sebenarnya cuman konsep khayal di batok kepalanya.



Dengan figure siapakah saya bisa menyamakan arketype bunda maria atau kuan im dalam sejarah islam? Apakah dengan siti Aisyah, yang dilamar ketika berumur 6 tahun dan dikawini ketika berumur 9 tahun? Dengan siti Zainab, yang ‘dipaksa’ cerai dengan zaid agar bisa dinikahi oleh ayah mertuanya sendiri? Atau dengan maria si koptik yang dijadikan upeti oleh komunitas Kristen di mesir, sebagai jaminan agar Don Muhammad tidak membumi hanguskan wilayah mereka?



Itulah sekelibat kegelisahan dalam diri saya.



“Pah…. Papah… kenapa papah menangis.” Kata istri saya lembut. Jari-jarinya mengusap air mata yang tak disadari berlinang. Saya terhenyak dan menarik nafas panjang.



“Oh mah… papah terbawa suasana. Indah sekali Putri Ayu membawakan lagu ini.”

“Sampai sebegitu menjiwainya sampai2 dari tadi papah meremas tangan mama sampai kesemutan nih tangan mamah.”

“Waduh mah….. maaf, ga sadar.” Sambil saya melepaskan genggaman tangan saya.

“Papa senang lagu ave maria?”

“Ya tentu.”

“Papa mengagumi bunda maria?”

“kenapa tidak, ia adalah symbol seorang ibu yang tabah dan tegar, yang menghasilkan anak2 yang berintegritas dan berani menentang kebodohan, keangkara murkaan dan kemunfaikan kekuasaan dan keagamaan.”

“menurut papa, apa mama sudah memenuhi criteria itu?”

“Hmmmmmmm pertanyaan menjebak dan merajuk dari seorang istri yang sedang cari perhatian nih…. Cemburu kaleeee?”

“Ihhh papah gitu deh.. mamah kan tanya baik-baik. Gimana?” sambil jari2nya mencubit tangan saya.

“Mah…papah menerima kamu apa adanya. Dan papa juga berharap mama bisa menerima papa apa adanya. Sampai tua nanti.”



Jari telunjuk kanannya ia tempelkan di mulutku. Meminta aku untuk menahan dari menciumnya dan mendengarkan sesuatu yang ia ingin katakan. Dengan lembut ia menyanyikan lagu:





jagalah hati.. jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini.

jagalah istri .. jangan poligami jagalah istri …tentramkanlah hatinya.



Kami berpelukan .......

Ditelinganya aku bisikan…. “sampai mau memisahkan kita, honey.”



Dan tivipun di matikan. It’s addult matter. It’s love matter.

Jumat, 24 September 2010

AA Jin SM: Atheis Pietis

Apakabar September 20110

Tahun ini adalah tahun yang membingungkan buatku. Baru di tahun ini rasanya aku merasa musim kemarau datang hanya sesaat. Bahkan bulan Agustus yang biasanya terik menyengat, malah menjadi dingin menusuk. Apa lagi kami tinggal di kota dimana hujan turun dengan melimpah.



Setiap kali hujan, biasanya manusia cenderung ogah, mengkerut dan moody. Begitu pula dengan saya saat ini. Malam menjelang, namun hujan gerimis yang mengguyur bumi dari tadi sore masih tampak jumawa, enggan berhenti. Dan tiap kali hujan gerimis turun, aku merasakan kesenduan, keheningan dan kehilangan. Kehilangan akan seseorang yang begitu bermakna. Kehilangan yang tidak akan mampu ditebus lagi. Kehilangan akan seseorang yang begitu dirindukan. Ia bukan pacar. Ia bukan saudara atau kerabat. Ia hanya seorang yang datang sesaat dalam kehidupanku, dan menyapaku dalam caranya yang lugu, khas dan sederhana, namun dampaknya bagaikan hantaman puting beliung dalam kepalaku. Ia hanya seorang laki-laki tua sederhana.

Beginilah ceritanya:

Sekitar dua puluhan tahun lalu, ketika aku masih muda, aku senang bepergian sendiri sebagai backpacker ke kota-kota sebelah timur, seperti Jogja, Magelang, Semarang, Kediri, Malang, Surabaya, Bali, bahkan sampai Papua. Berbekal uang seadanya dan saxophone untuk mengamen aku terbiasa pergi dari rumah sampai 2 bulan lebih. Karena cara mengamenku yang agak elite, mudah bagiku untuk mendapatkan uang ala kadarnya untuk melanjutkan perjalanan atau balik ke Jakarta. Itu aku lakukan sebelum kuliah dan selama liburan semester.

Suatu waktu kakiku menyeret tubuh dan sukmaku di jalanan kota kecil Magelang. Saat itu malam hari dan hujan gerimis turun. Losmen yang aku tuju masih sekitar 500 meter lagi. Dan perut sudah keroncongan. Di jajaran sebelah kiri aku lihat hanya ada sebuah warung angkringan. Sepi pula. Sop Buntut dan Kaki Sapi Si Mbah. Demikian nama warung itu. Siapa nama Si mbah itu, tidak dituliskan. Namun aku berasumsi Si Mbah ini pasti sudah terkenal, jadi tidak perlu menuliskan lagi namanya.

Sesuai dengan nama warungnya, si pemilik memang sudah tua, kira-kira pertengahan awal 60an. Dengan sigap ia melayani pesananku. Tangannya yang ringkih dan keriput menciduk kuah sop di kuali. Sekalipun sendok sayur yang ia gunakan tidaklah panjang, tidak proporsional di bandingkan besarnya kuali kuah itu, tangannya tidak perlu merogoh sampai ke dasar. Terlihat jelas dari cara ia menciduk air kuah bahwa barang dagangannya masih banyak. Padahal ini sudah pukul 10 malam. Hujan gerimis dari tadi sore memang nampaknya tidak memberi ampun buat para pedagang angkringan ini.

Wajah pak tua ini kelihatan tegar. Ia tampak santai tapi serius dengan sesuatu yang ada di kepalanya. Aku perhatikan sesekali bibirnya bergumam dan mengucapkan sesuatu yang tidak aku pahami.

“Silahkan mas dimakan,” sambil menyodorkan pesananku di meja.

“Trima kasih, pak,” aku jawab. Tanpa banyak menunggu langsung aku lahap sop kaki sapi ini.

Ia kembali ke tempat duduknya dan bibirnya terus mengucapkan sesuatu.

Aku jadi tertarik ingin berbincang2 dengannya.

“Pak. Kalau boleh, kenapa bapak tidak duduk di sini saja? Khan gak ada orang lagi, cuma berdua. Dari pada anteng sendiri-sendiri mendingan kita ngobrol,” undangku.

“Wah, nanti Si mbah merepotkan, mas.”

“Apa yang direpotkan tokh pa?” tanyaku sampai meninggikan alis mataku, mengundangnya sekali lagi.

Ia pun akhirnya duduk di depanku.

“Mas bukan dari orang kota ini,ya? Si mbah rasanya baru lihat.”

“Saya dari Jakarta, Mbah,” sekarang aku memberanikan diri menyebutnya mbah, sebagaimana ia menyebut dirinya.

“Sedang liburan mas?”

“Tidak Mbah, saya tukang ngamen. Cari duit dan pengalaman di sela-sela kuliah. Saya bawa alat tiup. Cuman malam ini saya lagi malas karena hujan,” sambil aku menunjukan hard case saxophoneku.

“Bagus sekali, mas. Jarang sekali si Mbah lihat pengamen pake saxophone.”

Lha kapan aku bilang saxophone, koq dia sudah tahu itu saxophone? Mungkin si mbah itu bukan orang udik. Mungkin di masa mudanya dia sering berdansa waltz atau cha-cha.

“Mbah sendirian berdagangnya?”

“Enggak mas, si mbah ditemani istri, dan seorang laden, tapi sekarang istri saya suruh pulang dan laden sedang ada perlu dulu. Nanti sebentar lagi dia datang.”

“Malam ini hujan terus ya Mbah. Orang pada males keluar rumah.”

“Ya begitulah, mas. Daganganpun belum banyak laku. Tapi hidupkan harus tetap tabah dijalani. Sabar lan mantep aja mas.” Suaranya agak mendesah, namun tidak terkesan memelas.

“Mbah, dari tadi saya perhatikan mbah seperti sedang wiridan. Membaca asma Allah yah?” tanyaku penuh selidik.

“hahahhaha enggak mas. Mmm maksud si mbah itu bukan wiridan seperti yang mas pikirkan. Koq si mas perhatian banget sih?”

“Apaan dong mbah? Kalau boleh saya tahu. Saya pikir tadi si mbah wiridan supaya minta Allah hentikan hujan atau supaya orang banyak beli hehhe.”

“Si mbah menjapa Nammo Amitabha, mas,” jawabnya agak malu.

Ternyata si Mbah ini bukan muslim, tapi seorang buddhis. Oh bodohnya aku. Ini kan jawa tengah bukan Kampung Makassar di Jakarta. Dan aku berada di Magelang. Tentu saja ada banyak pemeluk Buddha di kota ini.

“Oh jadi si Mbah agamanya Buddha yah? Saya kira tadi si Mbah memanggil azma Allah.”

“Ah mas, kalo masalah agama, si Mbah ini orang bodoh, jadi gak tahu apa-apa. Maklum orang kampung. Apakah si mbah ini orang Buddha? si mbah sendiri jarang ke vihara. Nanti kalau si mbah ini ngaku-ngaku orang Buddha malah mempermalukan orang-orang vihara.”

Nampaknya si pak tua ini menyembunyikan sesuatu dalam jawaban yang terkesan ditutup-tutupinya itu.

“Jadi kalau mbah memanggil-manggil Amitabha, itu gunanya untuk apa Mbah? Bukannya meminta hujan berhenti atau pembeli banyak berdatangan?” godaku. Ada sedikit rasa merendahkan dalam pertanyaanku.

Dari kecil sampai pradewasa aku dididik dalam Islam militan. Guru-guru mengajiku mengajarkanku bahwa hanya Islam agama yang diridhoi oleh Allah ta’ala. Agama lain sudah sesat dan palsu. Kitabnya dirubah-rubah sekehendak udel sendiri. Orang Kristen menuhankan manusia, tuhanya ada tiga, tuhan bapa, tuhan ibu dan tuhan anak. Orang Buddha dan Hindu memuja-muja patung yang mereka pahat sendiri. Pokoknya hanya ajaran islam yang luhur, murni, terakhir dan sempurna.

Waktu aku SMP aku dibawa saudara ke Tanggerang melihat-lihat vihara dekat rumahnya. Banyak orang keturunan Cina yang membawa buah-buahan ke depan patung. Wah bodoh sekali mereka patung koq dikasih makan buah-buahan. Tapi saudaraku yang lebih tua segera menukas, “Setidaknya tuhan mereka tidak meminta persembahan mahluk bernyawa,” katanya. Aku terlalu kecil untuk memahami makna kalimatnya. Orang-orang cina itu cuman pemuja Buddha dan Kong hucu yang tung-tung cep, alias orang2 yang muja-muji dewa dewi tunggak-tunggik kemudian nancepin hio cuman untuk minta diberkati secara material. Itulah apriori yang ada dibenakku selama ini.

“Mas, si mbah ini orang bodo, udik, dan tua, gak ngerti ajaran-ajaran Buddha dan agama. Jadi kalau si mas mau tanya ini itu, si mbah ga bisa jawab. Berapa kilo meter dari sini ada vihara Mendut, mas bisa tanya tentang ajaran Buddha sama wiku-wiku di sana (orang tua ini masih menyebut biksu dengan panggilan wiku).

Tapi mas, buat si Mbah, agama bukan masalah ajaran, tapi masalah laku hidup, masalah roso dan eling.

Kalau si mbah menjapa ‘nammo Amitabha’, yang artinya terpujilah Amitabha, bukan berarti memanggil-manggil dewa dari alam lain buat membantu si Mbah, tapi membuat si mbah ini selalu eling, sadar akan setiap laku, dan roso dalam sukma si mbah.

Apakah dengan si Mbah memanggil Namo Amitabha, Amitabha akan datang menghentikan hujan dan mendorong para pembeli berbondong-bondong ke warung sini? tentu tidak. Sama sekali tidak terpikir demikian dalam benak si mbah. Berdagang itu ada kalanya laku, ada kalanya tidak. Itu sudah biasa mas. Hari itu ada kalanya terik ada kalanya mendung, itu sudah fitrah alam mas. Buat apa membawa-bawa nama yang suci hanya untuk kepentingan pribadi kita yang dangkal dan sempit? Hujan ini datang karena suatu sebab, dan akan berakhir karena suatu sebab. Biarkan saja terjadi atas dasar siklus alam.

Menurut umat Buddha, Buddha Amitabha itu tinggal di sebuah alam surga penuh sukacita yang bernama Sukhowati. Mereka yang memanggil-manggil namanya ketika meninggal akan dibawa ke alam itu untuk belajar menjadi seorang Buddha. Itu kata umat Buddha, tapi buat si Mbah gak percaya.”

“Lha kalau si Mbah gak percaya kenapa masih memanggil-manggilnya?” sergahku keheranan.

“Semua itu cuman cerita mas. Amitabha itu sebenarnya kita sendiri. Surga Sukhowati itu adalah tubuh kita sendiri. Ketika si mbah menjapa Nammo Amitabha, bukan berarti si mbah memanggil suatu dewa atau mahluk ilahi untuk datang mewujud di hadapan saya, sama seperti kita yang duduk berhadap-hadapan seperti ini.

Memanggil Amitabha berarti membangunkan roso, eling dan laku lampah yang mulia dalam diri kita, sehingga tubuh ini bukan untuk diri sendiri tapi untuk menjadi alat kebaikan bagi sesama, mas.

Menjapa namo Amitabha berarti menghadirkan ingatan dan kesadaran akan berartinya hidup ini dan menggugah pikiran ini untuk menjadikan kehidupan nyata kita sebagai surga sukhowati, suatu tempat agar semua mahluk mendapatkan kesempatan hidup yang layak dan jauh dari permusuhan dan kebencian.

Apa benar surga sukhowati itu ada dan kita masuki ketika si mbah nanti mati? Si mbah juga ga tau. Yang si mbah tahu itu cuma cerita. Agama itu cuman metoda, mas, bukan tujuan. Gusti Allah itu bukan seseorang yang duduk di suatu surga atau suatu zat tertentu, tapi suatu idea mulia. Menyembah gusti Allah itu artinya membangunkan diri ini agar tetap eling dan menerima hidup apa adanya dan mengusahakan yang terbaik darinya. Bukan memuja-muji suatu pribadi lain di luar diri.

Dulu waktu muda, si mbah orang yang suka memberontak dan berpikir bebas. Si mbah mempelajari ajaran-ajaran Tan Malaka, Karl Marx dan Lenin. Dan semua ini membikin si mbah analitis, gak mudah percaya dengan cerita-cerita tentang surga dan neraka. Tapi justru dengan itu si Mbah bisa dengan mudah melihat arti rohani di balik kisah2 indah dan menawan itu.

Diri inilah amitabha itu. Diri inilah Avalokitesvara yang sedang berkarya di bumi. Diri inilah Buddha. Siapa yang memahami diri yang sesungguhnya ialah yang telah sadar, yang eling, yang roso nya melimpah dengan ketenangan dan kelembutan. Entah itu para wiku, ulama, pedande ataupun umat awam semua adalah sama, calon-calon sang Buddha, sang eling dalam diri ini.

Begitulah Mas, apa yang bisa si Mbah ceritakan.”

Aku tergagap-gagap mencoba memahami apa yang diulasnya. Aku tak pernah mendengar hal serupa dari guru ngaji, ulama dan da’i. Ironis sekali, justru dari seorang penjual angkringan seperti si mbah ini aku mendapatkan pelajaran berharga, sekalipun apa yang ia ajarkan harus memakan waktu bertahun-tahun agar tembok kekeraskepalaan ini bisa ditumbangkan. Namun apa yang ia ajarkan bagaikan api kecil yang membakar sumbu dalam otakku. Kelak sumbu ini akan mengantarkan si api kepada bensin yang siap dibakar.

Melihat aku yang tertegun kebingungan, si mbah berkata:

“Para agamawan, mas, seperti para penjaja yang berjualan air segar di pinggiran sungai yang jernih. Banyak dari mereka tidak rela para pembelinya menyadari bahwa air jualan itu di ambil dari sungai jernih di belakang kios mereka. Untuk itu mereka membangun kios bederet-deret panjang dan tinggi menjulang, agar para pembeli tidak menyadari kehadiran air sungai segar dan jernih di belakangnya.”

Gila. Gila. Orang tua ini seakan-akan mampu membaca isi kepalaku dan memotong jalur kebingungan dalam otakku. Aku terdiam membatu. Mau didebat gimana, dia memang benar, mau di amini gimana, aku masih terlalu kukuh dengan kecetekan cara berpikir islamku ini.

“Mas, hujannya sudah berhenti “ sapa si Mbah membangunkan lamunanku.

Waduh. Aku baru ingat. Penjaga losmen tadi pagi bilang kalau losmen akan ditutup jam 11 malam demi keamanan. Segera aku membayar jajananku dan mengucapkan beribu-ribu trimakasih kepada si Mbah telah meluangkan waktu mengobrol dan mengajariku. Aku katakan bahwa aku akan kembali ke Jakarta besok siang, tapi kalau ada waktu, aku akan kembali ke Magelang dan bersua lagi dengan si Mbah. Pak tua ini hanya tertawa renyah dan menepuk-nepuk pundakku.

“Hati-hati di jalan, Mas.”

Pemahamanku Saat Ini

Perlu bertahun-tahun bagiku untuk mengendapkan perkataan si Mbah itu ke dalam relung hatiku. Memang begitu sukar tembok fanatisme dan neurosis agama lahiriah ini untuk ditembus. Namun pengalaman itu menjadi poin pemicu dalam diriku untuk mempelajari agama dan kebatinan lewat beragam penelaahan filsafat, psikologi, budaya, dan kebatinan.

Dan pencarian ini mengantarkanku pada statement bahwa apa yang si Mbah itu cocok bagiku. Menurut telaah studi yang kulakukan secara otodidak tentang kebathinan dalam agama Buddha, aku temui bahwa Buddha Amitabha tertulis dalam kitab Amitayus Sutra. Sangat memungkinkan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang filsuf dan Yogi Nagarjuna, kira-kira 500 tahun setelah Gautama wafat.

Dalam Samadhi yang mendalam Nagarjuna “melihat” (tolong perhatikan makna tanda petik itu) Gautama sedang mengajar murid-muridnya. Gautama menceritakan tentang adanya seorang Buddha yang bernama Amita / Amida Buddha. Buddha ini tadinya adalah seorang raja yang dipuncak kejayaannya ia malah memutuskan untuk menempuh jalan kesucian. Ketika ia mencapai kesadaran tertinggi atau manunggal dengan semesta ia digelari Amida Buddha. Amida berarti cahaya tanpa batas. Buddha berarti kesadaran, atau yang sadar. Buddha Amitabha berarti cahaya kesadaran tanpa batas. Yang berarti personifikasi dari sang ilahi itu sendiri, samudra kesadaran tanpa batas.

Dalam misinya mencerahkan umat manusia, Buddha Amitabha dibantu oleh dua orang boddhisatwa yaitu Boddhisatva Avalokitesvara, yang bagi orang cina di sebut Dewi Kuan Im, dan Boddhisatva Maha Stamaprapta. Avalokitesvara adalah personifikasi dari sifat kelembutan, cinta kasih, kemaharahiman, dan pengayoman alam semesta, sedangkan Maha Stamaprapta adalah personifikasi dari Kebijaksanaan.

Bagi orang yang mata bathinnya tajam, tentu saja semua ini sudah jelas, bahwa sebenarnya Amitabha Buddha itu adalah alegori perjalanan spiritual Buddha Gautama itu sendiri, yang mendesak dan mengundang si pembaca untuk menyikapi hidup ini dengan tujuan-tujuan mulia, bukan sekedar hidup dan akhirnya mati dan berharap masuk surga.

Baik itu Amitabha, Avalokitesvara dan Maha Stamaprapta adalah aspek2 mulia dalam diri kita sendiri. Amitabha mencerminkan aspek kerinduan akan kesempurnaan, Avalokitesvara mencerminkan cinta kasih, dan Maha Stamaprapta mencerminkan kebijaksanaan. Bukankah ketiga sifat ini; kerinduan akan kesempurnaan (summum bonum), Cinta Kasih (agape) dan Kebijasanaan (sofia) adalah sifat mendasar yang mewarnai mereka penempuh jalan mistik atau kebathinan?

Nagarjuna menuliskan Amitayus sutra sebagai upaya revolusioner, karena pada saat itu para biksu dari Aliran Selatan menjadikan jalan kebikuan sebagai pelarian kekanak-kanakan, childish escapism, dari kesumpekan hidup. Ajaran Buddha menjadi begitu dogmatis dan hanya bertumpu pada tafsir-tafsir elitis biksu saja. Sementara umat awam hanya memahami ajaran Gautama dari luarnya saja, para biksu malah disibukan dengan perbantahan dogma abstrak, winaya dan perselisihan antar sekte. Mereka sibuk dengan “nirwananya” sendiri. Adalah Nagarjuna, seorang yogi dan filsuf besar, bersama biksu dan yogi dari utara yang membidani Aliran Utara yg nantinya disebut Mahayana, kendaraan besar. Kenapa disebut kendaraan besar? karena kesucian dan kebuddhaan bukan hanya dicapai oleh sekelompok petapa berkepala pelontos saja (calon arahat), namun oleh semua orang, pria dan wanita umat awam yang membaktikan hidupnya dalam praksis kehidupan sehari-hari (jalan kebodhisatwaan).

Diri inilah Amitabha, diri inilah Avalokitesvara, dan diri inilah Buddha, yang telah eling dalam roso yang mendalam. Itulah kata si Mbah.

Dua tahun setelah kejadian itu, ketika aku mulai memahami lebih dalam perkataan si Mbah, aku kembali menapaki jalanan kota Magelang. Aku mencari kedai angkringannya. Namun sia-sia. Tempat angkringan itu telah berganti penghuni. Si penjual baru mengatakan bahwa si Mbah telah meninggal setahun sebelumnya. Dia sendiri tidak begitu kenal dengannya dan tidak tahu dimana pusara beliau. Mengalir air mata ini. Bersama dengan menangisnya langit malam Magelang saat itu.

Satu sesal yang tak kunjung berakhir dalam diri ini, kenapa aku tak sempat bertanya nama si Mbah. Nama apakah yang cocok buat aku sematkan padanya? Mbah Buddha? Mbah Amitabha? Rasanya tidak cocok. Mungkin yang cocok si Mbah sang Atheis Pietis. Atheis yang Suci

……………………………

“Sopnya sudah siap, pah. Cepet dimakan mumpung lagi panas. Dari tadi koq papah cuman menatapi jendela melihat hujan saja”

Aku terbangunkan dari lamunanku oleh suara merdu istriku. Sambil menyodorkan sop buntut. Loh koq seperti kebetulan. Hujan deras, malam yang dingin dan semangkuk sop buntut panas plus nasinya.

Tanpa sadar aku bergumam, “Amitabha. Amitabha”

“Ihhhh papah bicara apa sihhhhh?” seru istriku yang keheranan.

“Oh tidak…tidak…… itu artinya mensyukuri hidup kesempatan hidup yang indah ini yang memperkenalkan saya pada hidup yang mulia bersama seorang istri cantik yang setia.” Kataku mencari-cari alasan. Habis mau jelasin panjang lebar gimana?

“Ahhhh papah ini ada-ada saja.” Katanya

“Ayo kita makan bersama di meja makan saja Mah, jangan di ruang kantor.”

Istriku tersenyum, mencoba menebak-nebak apa yang dari tadi ada dalam benakku ini.

Quo Vadis Musafir? -

Oleh Aajin Sangmusafir
by Spiritual Indonesia on Saturday, September 25, 2010 at 9:12am

Pengembaraan hidupku membawaku berjalan menyisiri sebuah jalanan kuno di suatu tempat yang tidak begitu ku kenal. “Dari cuacanya yang begini panas mungkinkah ini jalanan di Arab?” Aku bertanya dalam hatiku. Tapi anehnya tidak nampak padang gurun atau rombongan para kalifah dan unta-untanya. Ataukah aku sedang berada di Turki di masa kekuasaan Utsmaniah? Sepertinya cuaca yang kurasakan mengindikasikan hal itu. Sambil terus melangkahkan kaki ini aku mencoba menajamkan kesadaran akan keberadaanku di tempat itu.



Ternyata jalanan sempit ini dua arah. Orang berlalu lalang berjalan ataupun naik kereta kuda hendak pergi dan balik dari dua arah yang berbeda. Ah bodoh sekali aku. Tentu saja jalanan di masa kuno selalu jalan dua arah, emang ini jalanan hotmix di abad 20 atau 21 yang mengharuskan jalan2 tertentu hanya satu arah, atau diberlakukan 3 in 1/



Namun ketika kaki ini melangkah terus, seorang laki-laki muda berjalan dari arah yang berlawanan. Langkahnya yang enteng dan gerakannya yang anggun mencerminkan keceriaan dan keteduhan batinnya. Hal ini menarik perhatiannku. Semakin dekat nampak jelas bagiku dari wajahnya ia bak seorang Arab. Tepat ketika ia berpapasan denganku, ia berhenti dan menyapaku,



“Quo vadis, Musafir?”.



Tersentak kaget aku dengan sapaannya, aku pikir ia akan menyapaku “assalammu alaikum”. Orang Arab apaan ini?



Namun secepat kilat aku tersadarkan. Ternyata sapaan Quo Vadis ini, di ambil dari legenda tentang percakapan Yesus dan Petrus. Suatu saat Petrus yang sudah tua ini, kira-kira berumur 70 tahun lebih, dicari-cari oleh penguasa Romawi karena mengajarkan pengikutnya tentang seorang raja yahudi yang kemuliaannya melebihi kaisar Nero. Padahal hukum di Roma sudah jelas : tidak boleh ada dewa lain bagi bangsa romawi selain sang kaisar, gusti / tuan/ tuhan dan anak dewa. Hanya Kaisar yang layak di dewakan. Kaisar adalah putra Zeus. Mereka yang menyembah raja lain atau menyekutukan sesembahannya melebihi kaisar harus dihukum mati.



Petrus yang sudah renta itu diingatkan oleh para muridnya agar menyingkir ke tempat yang lebih aman, di luar kota Roma. Pagi-pagi buta ia meninggalkan kota Roma, namun di tengah jalan ia “bertemu” gurunya yang 37 tahun ia tak temui lagi setelah peristiwa penyaliban itu. Melihat sang guru berjalan sontak petrus bertanya,



“Quo vadis, domine? Hendak pergi kemanakah engkau, gusti?”.



“Aku akan pergi ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya.” Yesus menjawab.



Mendengar itu menangislah Petrus. “Tadinya aku hendak meninggalkan Roma untuk mencari aman. Namun sekarang aku memutuskan untuk kembali ke kota Roma bersamamu guru. Biar sekalipun aku di salib, asalkan bersama engkau aku rela.”



Demikianlah cerita yang melatar belakangi penangkapan petrus oleh tentara Romawi. Ia disalib terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Ia merasa tak layak untuk disalib dengan kepala di atas seperti gurunya. Dan itu terjadi sekitar tahun 67 M.



“Quo vadis, Musafir?” sapanya sekali lagi. Membangunkan aku dari lamunanku.



“Yesus? Engkaukah yesus? Isa as?” tanyaku tergagap-gagap.



“Sangkamu siapakah aku?”



“Engkau tak seperti yang sering aku lihat di lukisan-lukisan. Seandainya engkau berjanggut tebal dan bersorban, wajahmu cenderung seperti Osama Bin Laden dari pada Ariel Sharon.”



“Hahahha engkau suka bercanda. Ya memang dia masih sepupu jauhku. Tapi kami berbeda misi dan visi.”



Aku tak tahu harus berkata apa atau bertindak apa. Aku diajarkan bahwa para pengikut Nabi Muhammad sering menyapa ‘baginda, rasul’, terhadap yesus yang sederhana ini aku mau sebut apa? Nabi Yesus? Rasul Yesus? Ah….. Aku sudah jengah dengan monopoli kata nabi dan rasul oleh agama2 langitan yang nantinya cuman memperebutkan siapa nabi terakhir dan sempurna. Lebih baik memakai sapaan lain.



Bagaimana dengan kata ‘kyrios’ yang berarti gusti atau Yang Dipertuan? Ini adalah sapaan umum orang yahudi abad 1 masehi untuk orang yang dianggap agung atau suci. Kyrios yesus, gusti Yesus. Tapi justru inilah pangkal masalahnya. Pada jaman yesus, masyarakat dunia masih hidup dalam feodalisme alias mental tuan dan hamba. Begitu pula masyarakat yahudi saat itu sering memanggil orang ternama dengan sapaan kyrios yang berpadanan dengan tuan, gusti, lord, dominggos, monsigneur atau yang dipertuan. Sebenarnya ini sapaan yang lumrah pada jaman itu.



Namun ketika orang Kristen menyapa Yesus dengan sapaan tuan / tuhan Yesus, mereka salah memahaminya. Terutama umat kristen Indonesia dan orang islam seluruh dunia. Mereka pikir sapaan ini sama hakekatnya dengan kata tuhan / theos, atau deus seperti makna sila pertama dalam pancasila, ketuhanan yang maha esa. Mereka tidak bisa membedakan perbedaan makna dari allah dan tuhan, god dan lord, theos dan domingos, gusti allah dengan gusti.



Seandainya saja Yesus lahir di India, pasti dia akan disebut Sri Bagavan, Maharaja atau Guru Ji, dan sapaan2 seperti ini jauh lebih manusiawi. Inilah batu sandungan selama 2000 tahun. Ada baiknya Yesus disapa master saja oleh umat kristen modern. kesalahpahaman ini berawal pada pembahasaan lokal yang dipaksakan pada budaya-budaya lain dan dijadikan mutlak untuk segala jaman dan di segala tempat. Celakanya agama yang menyanjung Kyrios Yesus ini berabad-abad diremajakan oleh bekas bangsa2 politheistik. Sehingga Yesus dideifikasikan jauh melebihi akar-akar kemanusiaannya yang wajar. Dan tidak perlu disebutkan lagi perdebatan kusir antara islam dan Kristen tentang status ketuhanan yesus.



Aku manusia produk abad 21. Panggilan-panggilan berbau feodalis seperti gusti, domingos, bahkan junjunan nabi, sudah tidak layak dipakai dalam era demokratis. Sudah semestinya kita merobohkan tembok2 mitos yang berabad-abad menjulang menutupi cakrawala berpikir kita.



Di tengah-tengah ambiguitas itu, Yesus malah memelukku, mencium kedua pipiku, sebagaimana adat orang Timur Tengah.



“Saudaraku, mengapa begitu kaku dengan segala tuntutan tradisi? Ayo bebaskan dirimu dari semua itu.”



Wah… betapa bingung, tersanjung dan terharunya aku. Seumur hidup aku tidak pernah dicium pipi oleh seorang laki-laki, apalagi oleh seorang Yesus yang lebih muda dariku. Cakep lagi. OMG.



“Mari kita duduk-duduk dan makan di kedai pinggir jalan itu.” Tangannya menunjuk ke sebuah kedai makanan yang tidak aku sadari keberadaannya dari tadi.



Kami duduk, dan yesus memilih-milih makanan. Roma adalah kota metropolitan waktu itu. Segala macam makanan ada. Mulai dari kambing, babi, rusa dan ikan. Dan Yesus memilih panggang sarden yang didatangkan dari pulau Sisilia sebagai menu utamanya. Ia seorang yahudi, tentu tidak pernah memakan daging babi. Aku tak tahu entah harus berkata sial atau alhamdullilah karena ia lebih memilih panggang sarden dari pada panggang babi yang diolesi minyak zaitun yang nampaknya lezat itu.



Dengan sigap ia memecahkan roti yang besar ke dalam piringku (waktu itu nasi belum dikenal di daerah mediterania, coy) dan menaruh ikan2 terbesar kedekatku, sedang ikan2 kecil ia taruh dipiringnya. Begitu pula anggur dan buah2an lain ia taruh dijangkauan tanganku. Tidak lupa pula air anggur langsung dari kirbatnya didatangkan dari Kana di Israel. “Jangan takut bro, aku yang bayar.”katanya.



Waduh…aku terheran-heran. Pantas saja ketika ia hidup banyak orang mencintai dan memujanya. Ia mampu membuat setiap orang merasa spesial dengan caranya yang menyentuh dan hangat. Padahal dalam agama yahudi ada larangan buat kaum yahudi untuk makan bersama dengan seorang kafir. Aku bukan yahudi, tentu saja aku kafir di mata orang yahudi. Tapi sekarang justru Yesus yang yahudi, makan bersama dengan aku yang bukan kerabat dan umatnya. Gratis pula.



Sampai sekarang kebanyakan orang islam memandang kaum dari agama lain sebagai kafir, padahal justru menurut orang yahudi , semua orang non yahudi adalah kafir. Kafir berarti bukan yahudi. Dunia agama memang dunia penuh diskriminasi. Dan kita orang yang dewasa sudah seharusnya menghancur-luluhkan tembok-tembok diskriminasi itu.



“Silahkan dimakan sampai habis. Jangan ada yang tersisa ya,” undang Yesus.



Sementara aku masih terpana, terdiam seribu bahasa tidak tahu harus berkata apa. Aku ucapkan terima kasih dan kemudian kami makan. Tak lama kemudian aku mencoba mencairkan suasana.



“Mmmmm Yesus, aku tak tahu harus memanggilmu apa? Mungkin aku harus memanggilmu Shahhid (yang berarti yang bersaksi – dan juga diambil dari asma Allah ash-shahid - sang penyaksi), dari pada memanggil namamu langsung.”



“Wah, kenapa mesti sungkan sungkan seperti itu? Kau boleh memanggilku, Yesus, bro, atau Comrade- J

(Kamerad Jesus, maksudnya).” Tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata sebuah topi. Astaga, Yesus seperti Che Guevara. Cakep, keren, sedikit kumal dan tetap menawan. Proletar banget nih nabi.



Kelucuan Yesus membuatku tertawa.



“….atau kau boleh panggil nama kecilku, Josh”



“Josh?”



“Yah, nama lain ‘Yesus’ itu kan Yeshua atau Yoshua atau Joshua. Makanya waktu kecil aku dipanggil Josh.”



“Rasanya aku pernah dengar kata Joshua itu….dimana yah?”



“Mungkin kau tidak tahu, menurut bible, Joshua adalah penerus dari Musa.”



“Oh ya……. Aku ingat nama ini. Joshua yang memimpin bangsa Israel merubuhkan tembok besar itu khan?”



“Yahhhh tembok kota Jericho.”



“Dan itu cerita mitos itu khan? Bohongan khan? …..hehehehehe mana mungkin ada tembok yang dikelilingi oleh orang yang bernyanyi2 langsung bisa rubuh. Mitos -mitos sahibul ngibul hikayat…… Upppppsss," aku menutup mulut. Keceplosan.



“Hahahha tidak apa2. Aku tahu itu. Tenang saja. Bro, kamu harus ingat, budaya berpikir modern yang runut, rasional dan analitis baru benar-benar lahir pada masa renaisans dan mendapat bentuk yang lebih rigid pada jaman Aufklarung di abad 18 & 19. Sebelum itu budaya manusia didasarkan pada mitos-mitos dan tradisi oral. Sehingga ada benturan cara berpikir.”



Aku terpesona dengan cara berpikir yesus ini. Ternyata dia tahu masalah mitos2 yang menyelubungi sejarah agama2.



“Apa kau pikir aku tidak belajar selama dua ribu tahun terakhir ini? Sory-sorry sorry bro, jangan kau remehkan aku,” candanya sambil meniru gaya Sinta dan Jojo yang lipsing lagu Keong Racun.



Aku tertawa terpingkal-pingkal.



“Tapi mengapa ketika engkau berkarya di bumi, engkau tidak jelas mengatakan bahwa itu semua mitos? Bahwa Adam-hawa, Nuh, Ibrahim, Musa dan Yoshua itu mitos?”



“Aku terlahir sebagai seorang mistikus, penggiat kebajikan dan jalan kesucian. Aku bukan seorang kritikus sastra dan theolog. Untuk apa aku asyik membongkar-bangkir mitos, tapi di depan mataku banyak orang tidak diperlakukan manusiawi? Adilkah bagiku, sebagai seorang Yahudi abad 1, dipaksa harus menjungkirbalikan mitologi padahal metodologi berpikir seperti itu baru ada belasan abad sesudah kematianku?”



“Hmmmmmm benar juga yah…..?”



“Apakah engkau tidak ingat tahapan peradaban menurut August Comte? Bagaimana mungkin aku dituntut untuk mencerdaskan bangsaku berpikir positivistic padahal kemajuan berpikir manusia belum secanggih itu? Sebagai seorang manusia yahudi abad 1 masehi cakrawala berpikirku tidak mungkin jauh melampaui worldview orang-orang sejamanku.



Namun, seandainya aku boleh excuse …… adalah bangsa yahudi yang memulai mitos-mitos itu, namun adalah bangsa yahudi pula yang menghancurkan mitos-mitos tersebut. Lihatlah selama ratusan tahun terakhir ini cucu-cicit sepupu2ku seperti Spinoza, Freud, Karl Marx, Einsten, Erich Fomm, Abraham Maslow, Morrie Schwartz, Theodore Adorno, Jurgen Habermas dan begitu banyak saintis baik yang meraih Nobel atau tidak, yang berasal dari kaum yahudi. Mereka berkarya mencerahkan peradaban lewat cara mereka masing-masing, dengan kelebihan dan kekurangan agar manusia sejagad mulai beranjak dewasa.



Begitu pula beberapa ahli kepurbakalaan seperti Silbermann dan Finkelstein yang memprakarsai penyelidikan tentang tembok Jericho secara independen yang kau sebut-sebut tadi. Di tempat mana kesalahan itu berasal, di tempat itu pula koreksi harus dilakukan.



Bro, bagi penggiat kemanusiaan sederhana sepertiku, segala alat kebaikan yang ada di depan mata, jadikan itu alat kebaikan untuk meningkatkan kemanusiaan dan kedalaman makna hidup. Mengapa mesti terjebak dengan masalah fiksi atau fakta saat di depan mata ini nilai-nilai kemanusiaan di renggut?



Ingat bahwa aku bukanlah teolog. Aku seorang mistikus. Adalah tugas teolog untuk menafsirkan kitab sesuai konteks jaman. Dan sedari awal aku selalu katakan bahwa hukum rohani itu terpatri dalam hati dan pikiran yang mengarah pada kebenaran. Kitab hanyalah kitab. Begitu terbatas, multitafsir dan mudah mengandung debat kusir. Apa pernah aku menulis sebuah kitab?



Lihatlah alam semesta, berkacalah pada alam, dan hiduplah selaras dengannya, maka dengan sendirinya engkau akan melampaui kitab-kitab. “



Gila. Yesus ini benar-benar seorang naturalis. Maka dari itu khotbah2nya selalu berkenaan dengan keindahan alam, bunga bakung di padang, rumput , serigala dan lubangnya, domba, burung pipit, ikan dsb.



Luar biasa Yesus ini. Seakan-akan aku tidak sedang berbicara dengan seorang nabi atau rabbi, melainkan seorang romo katolik sekaligus professor filsafat. Aku tak pernah ragu bahwa orang-orang Yahudi pada umumnya pintar. Mereka adalah bangsa kecil yang selalu hidup di ujung tanduk. Eksistensi mereka selalu terancam punah. Dengan tempaan yang begitu hebat, otak mereka diasah, mau pintar atau terhapus dari muka bumi.



Kenyataan ini yang membuat orang arab dan islam iri. Dan alih-alih rasa iri ini dijadikan alat untuk berkompetisi, kita malah berbalik menjadi benci. Sudah jadi pemahaman umum bahwa orang islam menganggap kaum yahudi sebagai laknatullah, kaum yang dikutuk allah ta’ala. Dari dulu sampai sekarang disebarkan isu bahwa kaum yahudi merajai ekonomi, licik, penuh tipu daya. Para pemimpin arab tidak pernah merasa PeDe sebelum mereka didepan umum menyumpah-serapahi yahudi dan berniat mengenyahkan Israel dari peta dunia, spt halnya Ahmaddinejad. Sungguh seorang pemimpin rasis, fasis dan berotak kadal. Seandainya ia dilahirkan jadi orang yahudi, apa ia mau orang lain menyumpah serapahi kaumnya?



Kita sering menikmati gossip-gosip murahan bahwa islam dijadikan korban oleh barat dan yahudi. Bahwa yahudi menguasai ekonomi dunia dll. Dan kita dengan teganya mengiblis-ibliskan mereka. Kita bereaksi emosional ketika tentara Israel membalas serangan Hamas, namun kita pura-pura tidak tahu bahwa anak-anak yahudi yang sedang bersekoleh diroketi oleh Hamas. Mengapa kita tidak bisa jadu manusia yang sepenuhnya manusiawi?



Kita mencaci maki yahudi dan barat, “ Down with Israel!” Padahal di saat yang bersamaan kita menikmati berkah dari buah otak mereka, yaitu penemuan2 sains, dan IT seperti halnya Microsoft, google, dan FB. Tidak bisakah arab dan islam beranjak dari inferioritas kekanak-kanakan ini dan mulai berpikir manusiawi dan dewasa?



Kebencian Muhammad dan islam pada yahudi diawali karena inferioritas. Dan inferioritas yang ditemani senjata pada gilirannya melahirkan tindakan anarki. Kaum yahudi digenosida dan umat non islam lain dipaksa jadi islam atau harus rela dijadikan dhimmi. Bukannya kita merasa malu dengan sejarah tidak manusiawi ini, malahan sebagian dari kita ingin kilafahisme ini ditegakkan lagi di Nusantara. Sungguh bodoh. Bodoh sekali cara berpikir ini.



Oh Ibu Pertiwi menangislah engkau, karena anak-anak bangsa ini telah menghempaskan harga dirinya jauh-jauh hanya demi ideologi buta. Oh Nusantara meraunglah bagaikan ibu yang baru kehilangan anak yang dilahirkannya, karena anak-anak bangsa ini lebih memilih ajaran-ajaran cangkang dari pada isi. Mereka mengaggung-agungkan ajaran2 lahiriah dan menyanjung-sanjung kulit dari pada inti.



Lihatlah hai putra-putri Indonesia, jika engkau terus menerus melekat pada agama-agama lahiriah, maka anak-cucumu bahkan akan lebih bodoh dari pada generasi-generasi sebelumnya. Mereka akan hidup dalam keterbelahan jiwa. Jiwa mereka terbelah antara syahwat romantisme psikologis akan kilafahisme, dan realitas dunia yang memulti-wajah dan terus berubah.





“Shahid , apa pendapatmu tentang konflik Israel dan Palestina?” tanyaku.



Yesus tertunduk sedih. Ia tak kuasa meneteskan air mata.



“Jujur aku tidak bisa berkata apa2. Semua umat manusia adalah saudaraku. Kalian yang hidup 20 abad dariku jaman aku hidup kenapa tidak melangkah lebih maju, berpikir jernih melampaui batas-batas budaya, ras, dan agama? Tangggalkanlah senjata, jauhi kekerasan dan kedepankan perdamaian. Namun itu selalu nampak mustahil di depan tembok-tembok keangkara murkaan, radikalisme agama dan kecurigaan agama.”



“Bagaimana dengan status kota Yerusalem Timur?” pancingku.



“Mau jawaban jujur atau jawaban liar?” jawabnya sambil tersenyum.



“Dua-duanya.”



“Hahhahahaa. Jawaban jujur: aku tak tahu, dan please jangan paksa aku melakukan hal yang tak kusukai yaitu meramal ‘akhir zaman’. Jawaban liar : sebaiknya penduduk Yerusalem diungsikan saja ke daerah yang lebih subur. Kota Yerusalem itu di ratakan saja dengan tanah, kemudian dikeruk dan dijadikan danau buatan. Di sekelilingnya ditumbuhi pohon2 hijau. Jangan ada pemukiman penduduk, tapi bangunlah pusat2 kepedulian pada manusia dan bumi seperti halnya Greenpeace, WWF dan rumah sakit-rumah sakit dsb.”



“Wah Shahid, anda benar2 revolusioner,” pujiku.



“Sedari awal pelayananku di bumi sudah kukatakan bahwa allah adalah roh, menyembah allah adalah menyembah roh, karena ia adalah roh maka ia tidak menempati suatu ruangan tertentu, ia tidak melekat pada kota tertentu, ia tidak di dapatkan di bait Salomo, Tembok Ratapan dan Mesjid Kubah Emas di Yerusalem. Ia tidak akan ditemui di Kabah di Mekkah, ia tidak akan ditemui di sungai Gangga dan Sungai Yamuna. Ia tidak menempati ruang masjid, gereja, pura dan vihara.



Dan jikalau allah itu roh dan roh itu itu hidup, maka roh itu hadir nyata dan mewujud dalam tubuh ini. Dalam nafas ini. (dalam bahasa yunani roh adalah spirit & pneuma, bahasa ibrani ruakh dan nefesh, begitu jg bhs arab ruh dan nafs, semuanya berarti angin dan nafas ). Dalam tubuh yang masih bernafas inilah tuhan, allah, theos, bapa, adonai, kyrios, dapat ditemukan. Dalam tubuh inilah surga neraka tuhan dan iblis terwujudkan. “



Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku teringat masalah nyata di Indonesia selama tahun-tahun belakangan ini, pembakaran gereja-gereja, penghancuran mesjid ahmadiah…….. oh ibu pertiwi sampai kapan darah dan air mata bersimbah di negeri ini.



Mengapa bangsa ini gemar akan agama-agama lahiriah yang hanya mengedepankan bentuk dan dogma? Kenapa tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal?



Begitu pula pemerintah selalu ketakutan menghadapi emosi mayoritas, sehingga kebijakannya tidak pernah obyektif. Pemerintah dan partai politik hanya mendengar kaum minoritas manakala ia ingin mengumpulkan suara dalam pemilu saja.



Di akar rumput, berjemaah di mesjid dan bergereja hanyalah identitas sosial agar ia diakui masuk ke dalam kelompok tertentu – asalkan tidak disebut atheis atau agnotis - dan bukan karena panggilan batin untuk memanusiakan diri ini. Gereja-gereja dibangun sering kali hanya atas dasar syahwat pemujaan dan identitas kelompok. Berapa banyak umat Kristen yang sering merenungkan kata-kata yesus ini?



“Runtuhkan bait allah ini dan dalam 3 hari aku akan membangunnya kembali.”



Tubuh inilah gereja sejati. Dunia inilah ladang ilahi. Bukan ladang agar umat lain jadi kristen atau setuju dogma kristen, melainkan ladang dimana cinta kasih dan kemanusiaan ditabur, dibuahi, disemai dan dituai.



Waktu mengalir tanpa terasa. Kami hanya berdiam dan menyelesaikan makan kami. Namun dalam diam dan hening justru getaran sejuta makna mengalir tak terbendung.



Akhirnya waktu membawa kami pada saat-saat yang tak diinginkan. Saat perpisahan. Maka Yesus bertanya kepadaku,



“Quo vadis, musafir? hendak kemanakah engkau hai petualang hidup?”



“Oh Shahid, aku akan kembali ke negeriku. Akan aku sampaikan kepada umat manusia tentang kisah ini, tak peduli begitu tebal tembok ketegaran hati mereka. Tak peduli betapa sukar kata-katamu untuk diselami baik itu oleh umat kristen dan islam.”



“Kita sama-sama ditakdirkan untuk menghancurkan kebodohan dan kemunafikan agama, oh Musafir.”



“Dan engkau Shahid, quo vadis? Hendak kemanakah engkau pergi setelah ini?”



Yesus bediri dan tersenyum.



“Musafir, engkau tidak akan pernah tahu apa yang aku telah lakukan pada umat manusia selama 2000 tahun ini. Namun inilah rahasia yang bisa kukatakan kepadamu :



Hakikat sejati tidak pernah pergi kemana-mana. Ia tidak datang ataupun pergi.

Diri yang sejati tidak kotor, pula tidak murni. Ia tidak terlahirkan, tidak pula mati. Karena ia tidak terlahir, maka ia tidak pernah mati. Ia tidak membentuk dan tiada pula melebur.



Ia tidak muncul dan tidak pula lenyap. Karena ia tidak mengambil suatu bentuk maka ia tidak melekat pada sesuatu. Karena ia tidak melekat pada sesuatu, maka tidak ada kesedihan padanya.



Ia hanya sadar akan 'ada'nya. Ada bukan karena ada dan tiada, namun Ada yang melebihi ada dan tiada.”



Mendengar ucapannya yang lembut namun menggelegar, berisikan rahasia tak terselami, tak disadari bibir ini berucap:



“gate-gate paragate parasam gate bodhi svaha. ”



Mendengar itu Yesus mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum renyah.



Kemudian ia memelukku. Mencium kedua pipiku, sambil berucap salam. “assalammu alaikum.”



Karena ia memakai bahasa Arab, maka sebagai balasan akan keramahannya akupun menjawab dalam bahasa Ibrani, “Aleichem shalom”.



Dari langit terdengarlah suara-suara yang indah menggelegar menembus sukma. Nada-nada indah tak terperikan menggema di udara dan di relung hatiku. Kidung pujian semesta mengantarkan perpisahan kami. Cakrawala nampak berpendar-pendar. Warna-warni menyilaukan berganti.



Dan kemudian….gelap.



Aku membuka mataku, mencoba menyadari keberadaanku dalam ruang dan waktu yang nyata. Ternyata aku jatuh tertidur di meja kantorku dan bermimpi. Saat itu aku tengah mempersiapkan jadwal kerja untuk besok pagi. Sementara MP3 yang aku pasang sedari tadi masih berjalan. Tepat pada saat ini mengalun lagu yang indah dari Sarah Brightman Time to Say Goodbye. Apakah lagu ini yang aku dengar dalam mimpiku? Lagu yang menghantarkan perpisahanku dengan Yesus?



Lapat terdengar lirik lagu yang penuh arti ini …… mengiringi air mataku yang jatuh berderai mengingat pertemuanku dengan Yesus.

Sesungguhnya kesadaran ilahi itu tak pernah pergi dari manusia. Jalan dan jembatan yg menghubungkan yang ilahi dan yang insani sebenarnya tidak pernah ada.



Karena yang ilahi dan yang insani tidak pernah terpisahkan.



Oh yang ilahi dalam diriku, bersamamu akan kuarungi samudra raya hidup…menuju pantai seberang. Amin. Sadhu.Svaha.

………

When you were so far away

I sit alone and dream of the horizon

Then I know that you are here with me, with me

Building bridges over land and sea

Shine a blinding light for you and me To see, for us to be 



Time to say goodbye

Horizons are never far

Would I have to find them alone

without true light of my own with you

I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye



so with you I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye



so with you I will go...



I''ll go with you!

(saya tak tahu persis apa yang ada dalam benak si penulis lagu ini, namun bisakah anda memahami makna terindah dari lagu ini sebagai pengembaraan rohani dalam hidup ini?)

Rabu, 22 September 2010

Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara

- Oleh -Adi Putra IWayan-
by Spiritual Indonesia on Thursday, September 23, 2010 at 9:24am

Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam kejawen, karena bukan lah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar. "Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya".



Semoga hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi





MELURUSKAN MAKNA



Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “memayu hayuning bawana”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.



Aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan jagad besar alam semesta.





PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN & HARMONISASI



Sesaji atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari benernya sendiri). Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.





HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN WAHYU TUHAN



Dalam konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki. Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.



Mekanisme kehidupan di alam semesta adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.





WAHYU PURBA



Anugrah tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.



Walaupun manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.





WAHYU DYATMIKA



Barang siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan “jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika. Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.





HUBUNGAN MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN



Mantra adalah Teknologi Kuno



Perlu kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam. Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni;



1. Khusus menurut fungsinya; hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk penyembuhan.



2. Mantra khusus menurut sifatnya; dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah ajal.





Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah Kaprah



Terdapat pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet, itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan” atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi primitif.





Hamemayu Hayuning Bawono & RAT, serta Pangruwating Diyu



Di atas telah kami singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada. Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden. Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating diyu” (lihat posting; “Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono). Dalam rangka panembahan pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil (pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.



Bentuk panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan (harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya seisinya. Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.



Sayang sekali, zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif, yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis ! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom), pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.



Itulah, wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina).





Frequently Asked Questions…??!!



Lantas…di mana sih peran agama (ku), peran ajaran, budi daya, katanya kita berada di dalam bangsa yang agamis, budaya yang luhur, penuh ajaran spiritual, peran ilmu pengetahuan, teknologi tinggi. Cukupkah hanya berdoa dan berzikir di mulut saja, sambil berharap-harap Tuhan bersedia merubah nasib bangsa ini ??? Atau jangan-jangan terlalu sibuk saban hari berpamrih menghitung-hitung pahala ??? MASIH KURANGKAH TUHAN MEMBERI ANUGRAH ??? Kapan mau bersyukur ? Teramat pentingkah bersukur HANYA di mulut saja dengan ucapan 100 kali, 1000 kali, bahkan 1.000.000 kali ? Atau mau enaknya saja tanpa susah-susah mewujudkan syukur dalam perbuatan nyata ? NURANI sendiri yang tahu jawabnya.



Lir sarkara, wasianing jalmi Ambudiya budining sasatnya Memayu yu buwanane, Ing reh hardaning kawruh, Wruhing karsa kang ambeg asih, Sih pigunane karya, mBrasta ambeg dudu, Mengenep nenging cipta, Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik, Memuji tyas raharja



- Kelimis Ireng -