Rabu, 29 September 2010

Adakah Engkau di Surga Sana oh Tuhan?

BY AA Jin Musafir - Spritualist Indonesia.
Aku menyeruput kopi panas dengan nikmatnya. Seperti hari-hari lainnya, kota Edington di musim gugur selalu dicekam dingin yang menusuk. Segelas kopi panas beserta setungkup hamburger sudah menjadi menu yang luar biasa di Bed & Breakfast yang aku tumpangi ini. Sekarang aku berada di Skotlandia, wilayah utara Kerajaan Inggris Raya, di tahun 1903.



Dari bau harumnya yang khas aku sudah yakin bahwa biji kopi ini didatangkan dari kepulauan Nusantara. Lewat trading pedagang Inggris dan Belanda, kopi dari tanah ibu pertiwiku di bawa sampai ke mejaku. Sial, betapa jahatnya penjajahan. Sementara anak-anak bangsaku hidup dalam feodalisme dan kemiskinan, kekayaan tanahnya yang terbaik malah dinikmati orang luar.



Namun yang membuatku jauh lebih sedih adalah bahwa sampai sekarang masih berlangsung penjajahan dalam otak anak-anak negeriku. Sekalipun Indonesia telah merdeka 65 tahun, namun anak-anak bangsaku masih dijajah oleh isme-sme dari luar yang tidak sesuai dengan adab asli bangsaku. Isme-isme yang tidak berjejak pada keragaman dan keunikan anak-anak negeri ini. Isme-isme yang hanya membuat otak anak-anak bangsa ini berkiblat jauh ke barat, entah ke mekkah ataupun ke yerusalem. Isme=isme yang membuat garis marka yang rigid antara mukmin vs kafir, haram vs halal, umat yang telah diselamatkan vs umat yang belum diselamatkan. Tidak perlu lagi disebut-sebut tentang syahwat kekuasaan, kemunafikan, korupsi, dan ketidakjujuran yang melekat di dalam otak para politikus dan agamawan kita yang meluluhlantakan sendi-sendi kemanusiaan bangsa ini. Aku menghela nafas panjang. Penat dan perih rasanya nurani ini jika mengingat-ingatnya.



Belum juga habis kopi ini, terdengar ada keributan di luar. Lelaki dan perempuan berhamburan disusul dengan beberapa polisi berkuda menuju suatu tempat tak jauh dari B&B tempat aku menginap. Aku tertarik untuk melihat apa yang tengah terjadi.



Ternyata baru saja sesosok mayat ditemukan. Seorang janda cantik dan kaya berumur 40 tahunan ditemukan tergeletak di atas sofa di rumah mewahnya. Tidak ditemukan bekas tikaman atau cekikan di tubuhnya. Begitu pula tetangga terdekatnya tidak mendengar suatu percekcokan antara si korban dengan siapapun dari tadi malam. Namun dari cara ia meninggal sudah jelas ia mati tidak wajar.



Polisi berusaha menjaga-jaga agar warga tidak mendekati TKP atau menyentuh apapun yang bisa dijadikan alat bukti. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki kurus tinggi dengan Jaket selutut, dan bertopi aneh. Di bibirnya selalu terselip cangklong dengan asap yang mengepul tipis. Ia adalah Sherlock Holmes, detektif terkenal di Scotland Yard. Dengan sigap ia memakai sepasang sarung tangan karetnya, mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpen, serta tidak ketinggalan kaca pembesar dan mulai meneliti si korban.



Ia memeriksa tingkat kekerasan jasad si korban, mencari tahu sudah berapa lama sang almarhumah menjadi jasad ini. Ia mencari tanda-tanda di tubuh si korban yang bisa mengindikasikan apa yang sesungguhnya terjadi saat sebelum kematian tiba. Ia melihat apakah ada yang aneh dengan letak perabotan di ruangan itu. Adakah barang yang jatuh? Adakah barang yang terhilang? Adakah sidik jari tertinggal di tubuh si korban? Adakah sidik jari tertinggal di pintu? Di jendela? Apakah ada tanda-tanda kerusakan di pintu, jendela dsb. Adakah zat racun tersimpan di cangkir teh si korban yang belum selesai ia minum. Ia mewawancarai dua orang pelayan dan seorang tukang kebun yang tinggal di rumah sang korban. Ia menganalisa, mengumpulkan hipotesa, membandingkan hasil hipotesa itu dengan catatan-catatan yang telah ada dan menarik kesimpulan. Dengan hati-hati ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada yang bisa membawanya pada sebuah kesimpulan.



Akhirnya setelah 2 jam investigasi berlalu, dengan dingin dan penuh keyakinan, ia mengatakan, “Kasus terpecahkan. Ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Dan pelakunya adalah salah seorang pelayan sang janda dengan motif balas dendam pribadi. Ia menaruh sejenis racun cair di teh si korban karena si janda tersebut ternyata memiliki asmara terlarang dengan suami si pelayan. Dan dialah pelakunya.” Telunjuk tangannya mengarah kepada salah seorang pelayan itu. “Mrs. Manning, andakah pelakunya?” Perempuan berumur 30 tahun itu menunduk malu dan takut. Ia mengangguk dan menangis. Kasus terselesaikan sudah.



Semua orang bertepuk tangan. Begitu pula aku. Dan sang Detektif melirik ke arahku dan mengedipkan matanya. Sementara asap dari cangklongnya mengalun di udara. Aku tersenyum.



Aku yang hidup 100 tahun setelah Sir Arthur Conan Doyle, tokoh real pencipta Detektif Sherlock Holmes, merasa bahwa teknologi di jamanku hidup, yaitu sekarang, jauh lebih canggih dan mengesankan dibanding ketika Doyle hidup. Beruntunglah kita yang hidup di jaman post modern dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik dari segi teknologi, analisa psikologi, dan metoda2 penyingkapan kasus kejahatan yang dikembangkan oleh para kriminolog. Kita memiliki kamera pemantau, tes DNA, uji balistik jika kasus yang ditangani melibatkan peluru, deteksi ketahanan metal jika kasus itu melibatkan kecelakaan kendaraan, autopsy mayat, analisa kejiwaan dsb. Namun diluar perbedaan teknologi itu, pendekatan yang dilakukan untuk menyingkap suatu kasus adalah sama yaitu deduksi dan induksi.



Beruntunglah kita yang hidup dalam abad ketercerahan sains, sebab ilmu pengetahuan terus menerus memperluas cakrawala kita. Masa lalu yang dahulu nampak seperti misteri, sekarang semakin terbuka. Bagaikan detektif Sherlock Holmes yang tidak berada saat kejadian perkara namun ia mampu memecahkan kasus lewat investigasi material, begitu pula para saintis. Mereka tidak pernah hadir ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, namun lewat investigasi material, pencarian materi2 yang mendukung, kemudian perumusan hipotesa dan korespondensi antara satu materi dengan materi lainnya, satu kasus dengan kasus lainnya, akhirnya mereka mampu menyusun suatu rangkaian penjelasan yang memungkinkan kita untuk mendekati apa yang benar2 terjadi di masa lalu. Dan apa yang terjadi rantai evolusi dan peradaban manusia.



Pencarianku akan makna hidup membawaku pada penelitian sejarah agama-agama, budaya, tata nilai, evolusi, spiritualitas dan ternyata itu semua bermuara di evolusi otak kita.





Adakah engkau di surga sana oh tuhan? - Tidak, aku ada dalam otakmu.



Menurut para neurosaintis otak kita yang terdiri dari triliunan neuron ternyata adalah hasil evolusi selama berjuta-juta tahun. Secara fungsi otak dikelompokan menjadi 3 bagian utama, yaitu:



Lapisan pertama dan tertua : batang otak, disebut juga otak reptilian, karena fungsinya sama seperti otak banyak spesies reptile. Fungsi utama bagian ini menjalankan aktivitas dasar, sederhana & otomatis, seperti bernafas, detak jantung, sirkulasi udara, siklus metabolisme. Juga mengontrol daya flee or fight / kabur atau tempur. Itulah kenapa ada sindiran ‘otak kadal’ bagi orang-orang yang cenderung suka memamerkan kekerasan fisik tapi ngacir kalau yang dihadapinya lebih jago dan kuat darinya.



Lapisan kedua : daerah limbik, bentuknya seperti helm yang mengelilingi batang otak. Jalur saraf yang lebih rumit ini memampukan otak si spesies untuk menjalankan kegiatan menyediakan makanan, perlindungan, ketrampilan bertahan hidup. Bagian otak ini menambahkan kesan-kesan emosi pada si spesies itu yang lebih luas dari pada flee or fight, seperti perasaan tertekan, lapar, senang, membedakan bebauan, membaca niat binatang lain lewat postur tubuh, gerak, tatapan mata, ekspresi wajah. Bagian Limbik ini ada pada binatang vertebrata. Limbik terdiri dari 2 hippocampus (kanan-kiri) yang berfungsi untuk merekam memori, dan Amygdala yg berfungsi merasakan emosi dan ingatan2 emosional. Sekarang kita memahami mengapa binatang2 seperti gajahm, beruang, kuda, zebra, dll mampu memperlihatkan emosi dan kasih sayang yang mendalam ketika merawat anak-anaknya dan memperlihatkan ekspresi bersedih manakala anak atau anggota klan nya dimakan singa atau mati. Emosi2 sedalam itu tidak dimiliki oleh binatang2 reptil. Kenapa? Karena otak mereka tidak memampukan mereka untuk merasakan emosi yang mendalam.



Lapisan ketiga, neokorteks, lapisan ini hanya dimiliki oleh mamalia, berfungsi untuk memberikan alasan, membuat perencanaan, memberikan respons emosi yang cocok. Dan pada spesies homosapiens, neokorteks ini berkembang menjadi system yang kompleks dan lebih besar yang memampukan mereka untuk membayangkan, mencipta, mengerti dan memanipulasi symbol. Kemampuan neokorteks ini yang dalam peradaban, menyediakan kita kemampuan untuk berbahasa, menulis, melukis, mengerti matematika, mengapresiasi seni, mengkonstelasikan konsep-konsep, merasionalisasikan emosi, mencari makna hidup dsb.



Neokorteks ini dalam otak manusia, yang bervolume lebih besar dari pada mamalia lainnya, memampukan kita untuk mengabstraksikan tata nilai apa yang baik dan tidak baik, bermoral dan tidak bermoral, jahat atau tidak , dan juga memampukan kita membayangkan kehidupan yang ideal, abadi, tiada kemalangan dan kematian, yang semua itu dikonsepkan berdasarkan materi yang ada di sekitar kita.



Dari evolusi manusia keluarlah hasrat2 untuk melakukan kebajikan, dan kemuliaan, dari evolusi manusia sendiri hadirlah keinginan2 dan keserakahan yang menelurkan kejahatan. Konsep2 kebaikan dan kejahatan inilah yang menciptakan agama dan tata nilai. Dan pencarian antara misteri keterhubungan antara eksistensi manusia secara personal dengan sesama dan alam, itulah yang menjadi hasrat mendasar spiritualitas.



Jadi adakah engkau di surga sana oh tuhan ? Tidak, aku ada di dalam otakmu.





Pada mulanya adalah bertahan hidup



Dulu…dulu… dulu sekali pada waktu nenek moyang kita memutuskan untuk mengakhiri kebiasaan hidup lamanya yaitu bergelantungan di dahan2 pohon yang tinggi dan mulai ke hidup di atas tanah (inipun terpaksa dilakukan karena ada suatu kejadian alam yang membuat pasokan makanannya diatas pohon mulai menipis), mereka menyadari kalau mereka tidak bisa lari secepat cheetah, tidak punya tenaga sekuat gajah, tidak punya penglihatan setajam rajawali, tidak punya cakar setajam cakar singa, maka dengan sendirinya mereka berkelompok untuk bertahan hidup.



Dengan tumbuhan dan daun-daunan yang mereka dapat, dan daging dari hewan2 lain yang lebih kecil mereka bertahan hidup. Kita bisa lihat contoh nyata dari simpanze, aktivitas mereka kebanyakan tidak diatas pohon, tapi di atas tanah, dan kadang makan, semut, kutu, belatung bahkan memangsa monyet lain yang jadi musuh kelompok mereka.



Dengan pola makan yang baru dan bervariasi itu, yaitu gabungan antara tumbuhan dan daging dari hewan buruan, maka sedikit demi sedikit dalam rantai generasi yang begitu panjang, kebiasaan ini menambah kadar protein dalam otak mereka yang nantinya menambah volume tubuhnya, memperkuat rangka tubuhnya, volume otaknya, dan memperkuat jaringan2 sel di dalamnya untuk memampukan diri mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar.



Melalui perjalanan evolusi yang panjang dan berliku, sel-sel dalam otak spesies yang nantinya menjadi manusia ini, semakin diperkaya dengan pengalaman2 berburu, melarikan diri dari musuh, hubungan interpersonal dalam komunitasnya. Kehidupan di atas tanah, dan bukannya di atas pohon, sedikit demi sedikit merubah rangka tubuh mereka. Mereka jadi mampu berdiri lebih tegak, mampu mengkoordinasi tangan, kaki dan bibir yang memampukan mereka untuk berjalan lebih jauh, bergerak lebih anggun dan memiliki kemampuan baru, berbahasa verbal. Semua kekayaan baru ini menanamkan ‘kode genetik’ dalam gen untuk generasi-generasi mendatang lewat cara berkelamin.





Tuhan – suatu konsep yang terus berevolusi



Bayangkan, pada jaman purba ketika manusia masih tinggal di gua2. Mereka merasa takut dan gentar akan alam ini. Mereka tidak sanggup mengalahkan ganasnya alam. Hujan yg lebat, guntur yang meraung-raung, kilat yang sabung menyabung. Dalam ketakutan, ketidak mengertian dan ketidakberdayaan mereka menganggap ada suatu kekuatan dibalik semua fenomena alam ini. Yang berkehendak sendiri-sendiri, lepas dan berkuasa atas alam dan manusia. Kita menyebut keyakinan ini sebagai dinamisme. Keyakinan akan adanya suatu kekuatan-kekuatan otonom yang lepas berkehendak dibalik fenomena2 alam.



Baru sampai jaman manusia Neanderthal, manusia mulai menemukan konsep tentang adanya keberlanjutan hidup. Mereka percaya bahwa manusia yang mati, atau semua binatang yang mati, mempunyai kehidupan setelah kematian dalam suatu dunia antah-berantah. Para paleontolog menemukan situs-situs dimana manusia Neanderthal menguburkan kerabatnya yang telah mati. Dalam kuburan ini manusia didudukan persis dengan bayi di dalam kandungan, Karena mereka percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari fase hidup melainkan suatu fase awal untuk suatu kehidupan berikutnya lagi. Dan mereka yang telah mati, tinggal bersama kita dalam dimensi yang lain. Mereka tinggal di hutan, di danau, bahkan dalam alat2 berburu dan berperang mereka. Ada keterhubungan erat antara mereka yang telah meninggal dan alamnya yang khusus dengan kita yang masih hidup di alam raga ini, yaitu diantaranya untuk menjaga kita keturunannya dalam menghadapi bahaya. Mereka menjadi karuhun, dan kita jadi cucu-cucu kesayangannya.



Keyakinan ini disebut spiritisme dan animisme. Sampai sekarang animisme dan spiritisme dipraktekan secara luas dalam kebudayaan dunia. Keyakinan akan keharusan untuk membuat sesajen sebelum membangun rumah / pabrik, berasal dari keyakinan ini.



Kemudian, setelah manusia2 menetap dalam suatu komunitas, di tepi pantai, di gunung, di hutan, di gurun, dsb. Manusia mulai menemukan paham baru, yaitu politheisme. Secara tidak sadar dinamisme dan animisme dipersonifikasikan jadi dewa-dewa lokal dimana mereka bernaung. Ada dewa pohon, dewa hutan, dewa sungai, dewa gunung, dewa gurun, dewa lembah. Dsb. Setiap tempat memiliki dewanya sendiri.



Semakin kompleks suatu komunitas, semakin banyak dewa-dewa sesembahan mereka, sebagai cermin dari pengharapan dan ketakutan mereka, ada dewi kesuburan, dewa peperangan, dewa kesembuhan, dewi percintaan dsb. Setiap aspek psikologis manusia yang sukar dijabarkan lewat uraian kata dipersonifikasikan dalam citra dewa-dewi.

Ketika komunitas2 lokal ini bertumbuh menjadi kerajaan-kerajaan, begitu pula dewa-dewa itu ditempatkan dalam suatu hierarki, dewa yang tertinggi menjadi dewa utama / raja contoh zeus, dewa indra, sedangkan dewa yang lebih kecil / inferior menjadi dewa2 suruhan / dewa2 perang.



Dalam pemahaman yahudi, kristen dan islam dewa utama itu adalah yahweh / allah bapa / allah swt dan dewa2 yang lebih rendah adalah para malaikatnya. Tidakkah anda menemukan kesejajaran antara konsep kerajaan dengan konsep ketuhanan?



-raja – dengan tuhan yang bertahta di surga,

-perdana mentri dengan Gabriel / jibril

-kepala pasukan dengan Michael.

-dayang dengan para seraphim & kerubim?



Begitu pula surga selalu digambarkan sebagai istana penuh dengan air mancur dan bidadari berseliweran disana-sini. Tidakkah ini penggambaran kaum padang gurun yang merindukan tempat teduh yang melimpah dengan air dan pepohonan sejuk serta ekstasi ragawi?



Ketika kerajaan2 itu berperang dengan motif-motif politis dan geografis, mereka membawa serta dewa2 mereka. Dan dewa dari suku yg menang dalam peperangan menjadi dewa pemenang, dewa yang lebih superior dari pada dewa suku yang dikalahkan. Dalam hal ini maka mengkerucutlah dewa-dewa ini menjadi suatu hierarki yg lebih rigid. Itulah sejarah dari politheisme menjadi monotheisme. Namun ada kalanya justru dewa dari suku yang kalah justru dianut oleh suku yang menang. Namun demikian kasus seperti itu kecil. Biasanya apa bila dewa-dewi dari suku yang kalah lebih beragam dan kaya makna, maka dewa-dewi tersebut diasimilasi ke dalam pantheon dewa-dewi suku yang menang.



Dari politheisme, hanya perlu selangkah lebih lanjut menuju monotheisme, yakni dogma yang diusung oleh kekuasaan, yaitu kehendak politik para raja yang mendukung suatu agama tertentu. Agama sang raja haruslah jadi agama si rakyat. Bukankah ini terjadi bahkan sampai saat ini?



Jadi jelas bahwa penggambaran tuhan berasal dari konsep manusia sendiri tentang kehidupannya. Seberapa jauh manusia memahami alam, hidup dan keterhubungannya dengan alam dan sesama, maka sebegitulah pemahaman tuhan mereka. Maka dari itu tuhan selalu digambarkan berbeda-beda. Ada tuhan yang jijik dengan perempuan, itu karena budaya si komunitas pengusung keyakinan itu adalah budaya male-chauvinistik, budaya yang mengagung-agungkan lelaki dan merendahkan perempuan. Ada tuhan yang pemurka, dan menyuruh si nabinya menghabisi lawan-lawan politiknya. Itu karena komunitas si nabi sedang terpojok, sehingga tuhan yang dicerminkannya adalah tuhan pemurka. Ada tuhan yang menyukai sesajian hewan tertentu, semacam kambing dan domba. Ada tuhan yang lebih manusiawi dan senang tari-tarian, itu karena para pengusungnya adalah komunitas yang ceria.



Jelas bahwa manusialah yang menemukan konsep tuhan. Bukan sebaliknya. Manusia-lah yang menyapa tuhan, bukan sebaliknya. Sebab jika kita mengandaikan ada suatu tuhan yang berfirman ini dan itu, seharusnya firmannya itu bisa diverifikasi. Mari kita datangi tuhan, apakah benar ia pernah berbicara kepada nabi ini dan itu dan memfirmankan demikian dan demikian.



Jika saya bisa gambarkan maka perspektif manusia akan konsep tuhan adalah bagaikan segi tiga terbalik yang terbuka bagian dasarnya (yang sekarang ada di atas). Titik pertemuan dua puncaknya ada dibawah, dan itulah manusia. Sedang bagian yang di atas itulah konsep tuhan. Seberapa besar pengetahuan material dan kebijaksanaan si manusia /masyarakat tsb semakin luas derajat spectrum bagian bawahnya yang berarti semakin luas pula bagian atasnya. Sebaliknya, semakin kecil dan picik, sumpek dan dangkalnya semakin mengkerucut tajam dan sempit sudut spektrumnya dan semakin kecil pula horizon dibagian atasnya.



Selama ini pemahaman manusia beragama, terutama agama monotheistik, telah keliru karena menganggap pemahaman manusia akan alam bagaikan segitiga dimana titik pertemuan di atas adalah tuhan, sedang bagian dasarnya adalah manusia. Dan karena perspektif ini mengerucut ke atas maka semakin ke atas semakin sempit. Maka dari itu tidaklah mengherankan kita melihat dalam agama dogmatik, semakin ia merasa dekat kepada tuhan, seseorang semakin ia sempit pikirannya karena ia sudah merasa di atas dan berhak mengatur-atur orang di bawah.



Dalam terang pemahaman di atas adalah jelas bagi kita bahwa tuhannya agama adalah idea. Tuhan bukan sesuatu di luar sana, di atas sana yang bertitah ini dan itu. Tuhan ada di dalam pemahaman di otak kita. Dan seberapa jauh dan lembut pemahaman tuhan itu, tergantung dengan seberapa manusiawinya kita, seberapa dalamnya keteduhan batin kita, seberapa luas pemahaman kita tentang alam dan sesama mahluk.



Jadi tuhan itu tidak ada secara materi. Ia bukan sesuatu atau seseorang di atas sana, yang bertahta di surga, yang meminta dipuja-puji oleh manusia dan malaikat. Sebab kalau tuhan berpribadi macam itu ada, maka ia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejahatan manusia ciptaannya sendiri, serta bertanggung jawab atas kekacauan dan kekejaman yang terjadi dalam peradaban manusia dalam sejarah peperangan agama2.



Tuhan yang dipahami oleh manusia adalah konsep untuk menunjukan adanya nilai2 kebaikan dan keburukan. Jika ia adalah konsep / abstraksi maka yang terpenting bukan konsepnya itu sendiri, melainkan makna idea dibalik itu. Anda boleh memakai konsep ini atau itu, atau tanpa konsep agama sama sekali, yang penting anda mendapatkan makna hidup dalam kehidupan ini.



Itulah kenapa note saya sebelumnya, saya katakan bahwa saya merindukan Indonesia baru dengan beragam pemikiran, baik itu dinamisme, animisme, politheisme, monotheisme, agnotisme, atheisme dsb. Asalkan mereka diikat dengan adab, dan nilai2 kemanusiaan yang menghargai hidup. Biarlah setiap insan berdialektika dalam memaknai hidupnya. Ia memilih apa yang ia anggap layak dipercayai sepanjang itu tidak meniadakan hak2 orang lain untuk meyakini dan tidak meyakini sesuatu.



Konsep agama yang diusung oleh seseorang sebenarnya merefleksikan persepsi orang tersebut akan dirinya, alam, dan keterhubungan kesagalaan yang ada. Jikalau itu hanya refleksi atau abstraksi dari persepsi maka tidak ada kebenaran obyektif di sana. Sebab kebenaran obyektif memerlukan verifikasi yang didasari oleh metode-metode keilmuan yang bersifat empiris dan rasional. Adakah agama yang mampu menjawab tantangan pembuktian empiris?



Pada jaman lalu, manusia mempercayai bahwa alam semesta dibagi menjadi 3 lapisan besar, lapisan atas yaitu surga / arsy dimana tuhan bertahta, lapisan tengah yaitu bumi dimana manusia hidup, dan lapisan bawah adalah alam kematian di mana roh-roh orang yang telah mati dan dianggap tidak layak masuk surga – disiksa di sana. Sementara di antara surga dan bumi para malaikat / dewa dan iblis sibuk berperang memperebutkan pengaruh atas manusia.



Dalam worldview yang sesederhana itu, maka mitos2 seperti kejatuhan adam dan hawa, pengusiran dari firdaus, bencana air bah, rencana pembangunan menara babel oleh Namrud, pengiriman tulah2 ke Mesir, kenaikan Musa dan Elia ke surga, kebangkian dan kenaikan Yesus, isra miraz Muhammad, perjalanan Zoroaster ke surga, kunjungan Buddha dan murid2nya ke surga 33 langit bisa dipahami.



Namun dalam pemahaman manusia modern, dimana cakrawala pengetahuan kita lebih luas, masih bisakah kita mempercayai kisah2 ini sebagai kejadian factual dan historis? Bukankah kejadian itu akan menimbulkan pertentangan dari hukum2 fisika, kimia dsb karena jasad kita tidak memungkinkan untuk melintasi langit. Apa lagi kita tahu kalau di atas hanyalah ruang hampa luas.



Kisah2 diatas hanya bisa dipahami sebagai mitos, dimana dari kisah2 itu si penutur kisah menyampaikan tujuan dan pemahamannya berdasarkan kepentingan ideologi, budaya, politik dsb.



Keyakinana akan adanya suatu pribadi adikodrati yang bertahta di atas sana dan mengatur umat manusia dari awal sampai akhir, serta mengangkat nabi2 tertentu dan memberi sabda berbentuk kitab2 tertentu dan memuncak pada pewahyuan kitab tertentu dan figur nabi atau juru selamat tertentu – tentu saja mengandung kontradiksi baik secara idea maupun secara realitas. Karena pemahaman umat manusia yang terus maju dengan cakrawala pengetahuan yang lebih luas tidak memungkinkan adanya suatu titik kulminasi pewahyuan di belakangnya. Mestikah kita terus menoleh kebelakang untuk mencari semua jawaban dari pertanyaan kita sementara kompleksitas hidup dan pengetahuan umat manusia jaman itu tidak lebih rumit jaman sekarang?



Pada jaman2 lalu inti dari agama adalah agar kehidupan manusia dapat tertata, terikat dengan hukum-hukum positif dalam komunitas tersebut dan mengambil makna hidup. Dan itu wajar jika disikapi dengan dewasa. Artinya kita sadar bahwa tidak ada yang mutlak dalam kepercayaan2 tsb. Kenapa? Karena seiring dengan pengetahuan manusia akan alam, dirinya, sesamanya dan keterhubungan di antara faktor2 tersebut, maka kebathinan manusia pun akan bertambah pula.



Dari perspektif agama, ketika pemahaman manusia berubah dan semakin maju, agama pun harus mau membuka diri dan jujur dengan segala kelemahan dan keterbatasan dan kenaivannya. Sebab kalau tidak, maka ia sendiri harus bersiap-siap ditinggalkan oleh manusia2 yang cerdas.



Keyakinan yang masih membangga-banggakan akan adanya tuhan di langit yang memberikan tiga agama langit, yang masih mempercayai bahwa wahyu dari allah di langit itu memuncak pada pribadi nabi tertentu, kitab tertentu dan agama tertentu, atau juru selamat tertentu, masih layakkah kita pertahankan?



Kita lebih memerlukan kemanusiaan, kejujuran dan intelektualitas daripada kepercayaaan2 buta yang dalam rekam jejak sejarah, sudah jelas2 menorehkan diskriminasi, penindasan, kekerasan dan darah.



Sejarah pemahaman konsep tuhan adalah sejarah pemahaman manusia itu sendiri tentang alam, dirinya dan sesama. Dengan begitu maka ini mengundang dekonstruksi, rekonstruksi, dan reinterpretasi.



Tuhan adalah tuhan yang berevolusi, seiring evolusi (otak) manusia.





Apa yang ada di balik simbol-simbol



Jikalau idea-idea dalam kisah-kisah agama adalah symbol, seperti halnya surga, neraka, keabadian, dsb maka sebenarnya symbol-simbol ini mengacu pada apa?



Dalam note saya yang pertama saya tuliskan seperti ini:



Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu” ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang. Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.



Jadi apa makna di balik symbol-simbol agama itu? Saya telah jawab bahwa makna di balik simbol2 itu sukar untuk dijelaskan dengan kata-kata gamblang. Itulah mengapa Buddha lebih baik berdiam diri manakala ia ditanyai tentang adanya tuhan yang berpribadi, prima causa, asal muasal semesta dsb. Jikalau jaman sekarangpun dengan cakrawala pengetahuan alam yang lebih luas manusia sukar menjawabnya, apalagi manusia 2500 tahun yang lalu?



Namun dalam note yang akan datang akan saya sedikit paparkan pemahaman saya tentang hal ini.





Conquest of the Universe – mungkinkah masih ada waktu bagi kita?



Pada penghujung abad ke-15 masyarakat Eropa dikejutkan dengan ditemukannya dunia baru oleh Christopher Columbus. Seperti kita tahu bahwa kejatuhan kekaisaran Roma Byzantine yang kristen kepada dinasti Utsmaniah yang islam dan pemblokiran jalur2 perdagangan eropa ke Asia memaksa para pelaut eropa untuk mencari rute-rute perdagangan baru. Penemuan dunia baru ini membuktikan bahwa bumi tidak seluas yang mereka kira. Bagi orang Eropa saat itu batas paling selatan adalah Tanjung Harapan di Afrika selatan dan batas paling timur adalah kerajaan Cina. Segera setelah penemuan dunia baru tersebut, maka terjadilah gelombang migrasi bangsa eropa ke benua Amerika. Pula semakin bergejolak peperangan antara protestan dan katolik di benua Eropa semakin banyak imigran merangsek masuk ke benua Amerika. Dan semakin berdarah-darahlah sejarah peradaban penghuni asli benua itu. Entah berapa banyak jiwa dan suku bangsa India yang punah karena keberingasan tentara spanyol, Inggris dan Portugis.



Dalam film 1492, the conquest of Paradise, Vangelis sang composer menggubah lagu yang begitu dinamis dan penuh misteri berjudul Conquest of Paradise. Nada-nada yang sederhana, hentakan tambur, tempo yang dinamis dan penuh emosi menggambarkan harapan, ketakutan, tantangan, ancaman kegagalan dan kematian para pengarung lautan.



Begitu pula dengan sejarah evolusi dan kesadaran manusia. Penuh ketegangan dan ancaman. Seringkali manusia melangkah yang salah dan menganggapnya benar. Dan harga yang harus dibayar dari kebodohan itu seringkali teramat sangat mahal, yaitu nyawa. Sejarah agamapun memperlihatkan hal yang serupa.



Ke depan anak cucu kita akan mengarungi wilayah2 baru dalam semesta tak terbatas ini. Pertanyaannya adalah mampukah anak-anak manusia bertahan sampai ke jaman itu sementara apa yang kita lihat sekarang dunia selalu berada di ujung tanduk? Dan salah satu factor pemicunya adalah masalah agama.



Negara-negara Timur Tengah yang selalu dalam keadan tegang adalah negara2 yang paling berpotensi untuk membawa ancaman kepunahan kepada dunia. Sudah jadi rahasia umum bahwa konsentrasi senjata terbesar dunia ada di Timur Tengah. Dengan kemampuan teknologi nuklir Iran yang ada pada saat ini, adalah mudah bagi mereka untuk mengubah reactor nuklir untuk listrik ini menjadi teknologi senjata penghancur massal. Demikian pula sudah bukan rahasia umum bahwa Israel, Pakistan dan India dicurigai memiliki senjata nuklir. Fakta ini memicu negara2 Arab untuk berlomba2 menumpuk senjata sebagai pengimbang. Mengapa Arab Saudi, Mesir, Syria, Yordania dan Turki begitu dekat dengan Amerika Serikat? Salah satunya karena mereka takut dengan Iran. Persaudaraan islam yang digembar-gemborkan pada dunia adalah persaudaraan semu. Karena pada hakekatnya mereka memiliki kepentingan sendiri2 yang berbeda-beda. Tidak ada lawan, kawan, dan persaudaraan keagamaan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi.



Saya tidak tahu apa yang akan terjadi apabila krisis kemanusiaan dan politik Arab – Israel terus memanas dan menyulut peperangan besar. Dan kita di Indonesia, tentu saja akan terbawa-bawa secara emosional, karena secara budaya dan ideologi agama Indonesia sudah jelas keberpihakannya. Tak bisa dibayangkan chaos yang akan terjadi di negeri ini apabila saat kehancuran itu tiba.



Saya ingin kita melihat bahwa ada hal yang salah dengan agama2. Ada yang irrasional dengan agama2. Semua ini saya tulis agar anak bangsa bisa melihat akar permasalahannya yaitu keyakinan yang bertumpu pada mitos. Dan sungguh tidak layak bagi umat manusia untuk berperang dan saling membenci hanya demi mitos.



Padahal ke depan umat manusia masih punya banyak tantangan untuk ditanggapi. Ada bentangan alam semesta yang maha luas untuk dijelajahi. Ada lembaran pengetahuan baru dalam alam semesta ini yang menunggu disibak.



Wahai kaum islam, kristen dan yahudi, untuk apa terilusi dengan tanah Yerusalem yang tandus, dan situs-situs keagamaan berselubung mitos yang kita sudah tahu bahwa tidak ada kebenaran mutlak di sana? Untuk apa kita mempertaruhkan masa depan manusia demi mitos?



Dalam benak pemeluk 3 agama ini, mereka percaya nubuatan/ramalan akhir zaman, yaitu peperangan besar-besaran yang memperebutkan Yerusalem. Padahal setelah kita tahu bahwa tidak ada sesuatu entitas di atas sana yang memberikan pengetahuan masa depan. Karena semua pengetahuan itu didapatkan oleh manusia sendiri, maka nubuatan itu adalah self fullfiled prophecy atau nubuatan yang dibuat sendiri, dipercayai dengan buta oleh sendiri dan dijadikan nyata oleh sendiri. Ironisnya hampir 56% atau hampir 4 milyar manusia di dunia ini harus terseret-seret secara iman dan kultur dalam mitos2 ini. Buat saya itulah malari – malapetaka yang dicari-cari sendiri.



Tidak ada pusat alam semesta, jadi tidak ada titik episentrum rohani dalam dunia ini, entah di Yerusalem, Mekkah, Benares, Gangga, Vatikan, atau Himalaya.



Tidak ada puncak pewahyuan dalam bentuk kitab atau sesosok nabi terakhir atau sesosok juru selamat manusia. Semua itu hanya interpretasi sekelompok orang yang dijadikan iman mereka sendiri dan dipaksakan untuk diyakini umat manusia di segala tempat dan disegala jaman.



Bagi kita yang memahami ini, apa masih mau kita dijajah oleh mitos-mitos tersebut?



Pada saat anak2 bangsa di negeri ini terikat dengan mitos-mitos dalam kitab ‘suci’, ingin mendirikan kilafah, ingin menggoalkan undang-undang syariah, berlomba-lomba mendirikan islam center atau megachurch , justru para saintis di negeri-negeri barat mencari cara memelihara keberlangsungan kehidupan bumi dan ras manusia. Oh betapa konyol dan inferiornya kenaifan agama, tapi pongahnya gak ketulungan.



Lihatlah alam semesta yang luas untuk dijelajahi. Mengapa memperebutkan kebodohan hanya demi mitos yang terbukti hanya bikinan manusia masa lalu saja?



Kapan kita akan bertanggung jawab untuk hari esok, apabila dalam benak kita masih digelayuti hantu2 irrasionalitas dan emosionalitas dalam berkeyakinan?



Ingat bahwa agama dan spiritualitas, sebenar-benarnya tidak memaksudkan manusia melihat apa yang ada di seberang sana – di alam sesudah kematian, namun mencari makna terdalam dari kehadiran kita kini dan di sini, dalam ruang dan waktu ini, dalam kehidupan yang hanya sekali saja.



Spiritualitas sejati bukan tentang romantisme psikologis tentang kebenaran agama2 tertentu, bukan pula suatu bentuk pelarian kekanak-kanakan dari penderitaan hidup. Bukan pula tentang kesaksian pengalaman Out Of Body Experience, yang bisa saja hanyalah katarsis dari si pikiran.



Spiritualitas sejati adalah perjalanan rohani dan intelektualitas dalam memaknai hidup ini, kini dan di sini, yang menyadarkan akan keterhubungan kita dengan sesama, dengan alam, dengan kehidupan, dengan misteri dari kesegalaan ini.

Selasa, 28 September 2010

PINTU RAHASIA ILMU RAJA RAJA MATARAM

Oleh: kanjeng Pangeran Karyonagoro - Facebook Note.

Wirit Saloka Jati digelar sebagai upaya para leluhur bangsa kita untuk menjabarkan keadaan jati diri kita. Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang kita, dengan tujuan agar supaya “kawruh lan ngelmu” lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa maka digunakanlah sanepa, saloka, kiasan, perumpamaan, dan perlambang. Dalam acara ritual atau upacara tradisi; perlambang, saloka, dan sanepa ini diwujudkan ke dalam ubo rampe atau syarat-syarat yang terdapat dalam sesaji.

Serat ini menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi jiwa, sukma, hingga eksistensi akal budi. Yang akan meneguhkan keyakinan kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Mahamulia). Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “pasemon” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini saloka yang paling sering digunakan dalam berbagai wacana falsafah Kejawen.



1. Gigiring Punglu; Gigiring mimis; Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpamaan hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.
2. Tambining Pucang; Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.
3. Wekasaning Langit; batas langit ; umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.
4. Wekasaning Samodra tanpa tepi; berakhirnya samodra tiada bertepi; maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.
5. Galihing Kangkung; galih adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong); maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.
6. Latu sakonang angasataken samodra; bara api setungku membuat surut air samodra. Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.
7. Peksi miber angungkuli langit; burung terbang melampaui langit. Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.
8. Baita amot samodra; perahu memuat samodra; baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.
9. Angin katarik ing baita ; angin ditarik oleh perahu. Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.
10. Susuhing angin ; sarangnya angin. Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.
11. Bumi kapethak ing salebeting siti; bumi ditanam di dalam tanah. Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.
12. Mendhet latu adadamar (mengambil bara sambil membawa api); atau latu wonten salebeting latu (bara di dalam bara); atau latu binesmi ing latu (bara terbakar oleh bara); menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.
13. Barat katiup angin; atau angin anginte prahara; angin tertiup angin. menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.
14. Tirta kinum ing toya (air tertelan oleh air), atau ngangsu rembatan toya (menimba dengan air); atau toya salebeting toya (air di dalam air); menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air, maksudnya darah kita.
15. Srengenge pinepe, atau kaca angemu srengenge; matahari terjemur, kaca mengandung matahari; artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.
16. Wiji wonten salabeting wit (biji berada dalam pohon); dan wit wonten salebeting wiji (pohon berada di dalam biji) ; dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).
17. Kakang barep adhine wuragil ; kakaknya sulung, adiknya bungsu. Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligus akhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.
18. Busana kencana retna boten boseni, atau busana wrasta tanpa seret. Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.
19. Tugu manik ing samodra ; menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.
20. Sawanganing samodra retna; pemandangan intan samodra. Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).
21. Samodra winotan kilat ; samodra berjembatan kilat. Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”. Menggambarkan pesatnya yatma sampai pada ngabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.
22. Bale tawang gantungan ; rumah atau tempatnya langit bergantung. Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan. Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana makhlukNya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak dan jantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagai tawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.
23. Wiji tuwuh ing sela; biji tumbuh di atas batu. Dalam termonologi Islam diistilahkan laufhulmahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) atau cahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang dari sukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.
24. Tengahing arah; titik tengahnya arah. Ibarat mijan atau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkan panimbang (alat penimbang) hidup kita yang berada pada pancaindra.
25. Katingal pisah ; terkesan pisah. Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal” (loroning atunggil).
26. Katingal boten pisah; tampak tidak terpisah. Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa (pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.
27. Katingal tunggal ; tampak satu. Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.
28. Medhal katingal ; Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.
29. Katingal amedhalaken ; menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.
30. Menawi pejah mboten kenging risak ; bila mati tidak boleh rusak. Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.
31. Menawi karisak mboten saget pejah ; bila dirusak tidak bisa mati. Perumpamaan untuk hubungan nafsu dan rasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kita waspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi. Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).
32. Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati. Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga, setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnya orang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.



Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).

Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;



“bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong”



Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.



Nah, dalam pribahasa ini bahan untuk membuat bothok adalah hewan banteng. Sehingga namanya menjadi bothok banteng. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.



Cangkriman di atas adalah pribahasa yang menggambarkan keadaan yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah kehidupan kita pribadi. Godhong asem ; menggambarkan keadaan “sifat” yakni sebagai bingkai kehidupan kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni pekerti hidup kita. Singkatnya, berdirinya hidup kita ini asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan pula sebagai air mani. Godhong asem, adalah kiasan untuk per-empu-an. Alu bengkong adalah kiasan untuk purusa, yakni kemaluan laki-laki.



AA Jin SM: Dimana Ada Keraguan Disitu Ada Kebebasan

Suara langkah-langkah kaki membangunkanku dari tidur. Padahal baru saja aku mencoba rebahan di bawah pohon yang rindang. Telah berhari-hari aku berjalan di negeri asing yang panas dan kering ini. Dengan enggan aku bangun dan memperhatikan apa gerangan yang terjadi.



“Dia telah datang. Dia telah datang. Mari saudara-sudara yang baik kita pastikan teman-teman yang lain juga mengetahuinya,” kata seorang laki-laki.

“Ya, ini kesempatan yang jarang terjadi, kawan. Dan jangan lupa kita kumpulkan semua pertanyaan yang menggelayuti pikiran kita untuk ditanyakan pada Sang Baghawan,” timpal yang lainnya.

Aku jadi tertarik untuk mengetahui apa yang mereka sedang bicarakan. Perlahan aku ikuti rombongan itu. Tak berapa lama aku lihat ternyata telah banyak orang berkumpul di satu lapang di depan sebuah bangunan aula desa. Dari berbagai penjuru desa mereka berkumpul. Apa yang orang-orang ini akan lihat dan dengar?

Tak lama kemudian tampillah beberapa laki-laki berkepala plontos dan berjubah warna kuning padi siap tuai. Mereka dikepalai oleh seorang lelaki berumur sekitar 40an tahun. Ia tampak anggun, berwibawa, tenang dan teduh bagaikan seorang raja diraja. Ia dipersilahkan duduk terlebih dahulu, baru para muridnya dan semua penduduk desa melakukan hal yang sama. Lelaki muda kepala para petapa itu adalah Petapa Gautama, seorang mantan pangeran yang memutuskan untuk membaktikan dirinya mencapai pencerahan sempurna. Dan para rombongan pemuda yang tadi aku ikuti ini adalah pemuda dari suku-suku Kalama.



Dalam pengembaraan jiwaku ini, aku memutuskan untuk mengarungi lautan, melintasi waktu, menuju India, tanah dimana spiritualitas disemai. Sekalipun secara genetika, nenek moyang umat manusia berasal dari Afrika Timur, namun tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa India-lah yang menjadi rahim manusia2 yang berkesadaran tinggi. India adalah ibu yang melahirkan banyak man of spirit, para mistik. India adalah dapur raksasa dimana para koki meracik masakan dan menyajikan hidangan dengan ‘rasa’ super. Rasa Dharma. Dhammasuka.



Ada kesalahan umum dalam benak kita bahwa hindu adalah sebuah agama orang India. Ini tidak benar. Yang benar adalah hindu bukan agama. Hindu adalah budaya, falsafah dan spiritualitas hidup bangsa India. Hinduisme adalah isme-nya, atau falsafahnya, orang india. Dalam falsafah hidup, budaya dan spiritualitas ini berkembanglah dharma, yaitu ajaran2 dan metoda2 pencapaian spiritual yang beragam. Dalam hinduisme ada banyak dharma, diantaranya Shiva Dharma, Vhaisnavaya Dharma, Sanatahana Dharma, Brahmana Dharma, Buddha Darma, Sikh Darma, Jain Darma, Hare Krishna Dharma, Tantra Dharma dan banyak lagi lainnya.



Selama 3 ribuan tahun dharma2 ini hidup berdampingan dengan harmonis. Tentu saja ada berbagai perbedaan dogma di antara dharma-dharma tersebut. Namun secara budaya dan kebathinan manusia-manusia India diikat erat oleh kesadaran akan ahimsa (non-kekerasan), non-ego dan harmoni. Dalam peradaban manusia, peperangan antar kerajaan nampaknya menjadi suatu yang nisbi. Namun selama ribuan tahun tidak pernah satu kalipun ada peperangan yang dipicu oleh perbedaan dharma / agama. Karena inti dari agama-agama India adalah olah bathin, olah rasa.



India telah menjadi miniatur kesadaran manusia sejagat dimana penganut animisme, dinamisme, politheisme, monotheisme, dan pantheisme, panentheisme atheisme hidup berdampingan tanpa harus saling membinasakan.



Dalam keragaman budaya, ketimpangan sosial, kemiskinan yang telanjang, mereka masih bisa mengedapankan prinsip2 hidup berdampingan atas nama Dharma…… sampai para penyerbu dari Turki, mongol dan Turki-Mongol yang merangsek tanah ibu India dan menancapkan kekerasan dan memaksakan agama yang hanya menekankan dogma dan syariat yang sama sekali asing di mata mereka dan memandang rendah agama lain yang tidak sepaham dengannya. Tak terhitung vihara, pura dan cand-candi yang indah dihancurkan karena dianggap pemujaan berhala. Perpustakaan2 di bakar. dan pembantaian berdarah-darah terjadi. Sejak saat itulah tanah India terpisah menjadi kerajaan-kerajaan berdasarkan agama, dengan garis marka yang jelas, penuh kecurigaan dan dendam.



=== == +++++ ====



Setelah perkenalan dari pihak para tetua adat suku Kalama dan pihak Petapa Gautama, maka sesi tanya jawabpun dimulailah.



“Petapa Gautama, telah banyak para petapa dan brahmana terpandang datang ke desa kami. Masing-masing dari mereka mengaku bahwa mereka memiliki dharma yang paling benar dan unggul. Dan sambil mengajar mereka juga saling mencela dan memandang rendah petapa-petapa lainnya. Hanya metoda ini yang benar sedang yang lain salah. Hanya ajaran inilah yang sempurna sedang yang lain cacat dan sesat. Dan sekarang engkau dan murid-muridmu datang ke desa kami, tentu saja engkau akan mengajarkan dharma juga. Kami jadi ragu dan bingung menilai mana yang benar dan mana yang salah. Bagaimanakah menurut pendapatmu, Petapa Gautama?



Dan demikianlah jawaban Petapa Gautama:



“Oh para tetua dan pemuda Kalama. Adalah tepat bagimu untuk meragukan apa yang layak untuk diragukan. Adalah tindakan yang benar untuk menilai dan mempertimbangkan sesuatu sebelum kamu mempercayainya.



Inilah prinsip yang kalian harus pegang:

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu didesas-desuskan oleh banyak orang.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu diturunkan oleh tradisi.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab suci.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena berdasarkan logika dan kesimpulan belaka.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu berdasarkan perenungan orang lain.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar karena hal itu dirasa cocok dengan pandanganmu.

- Jangan percaya bahwa sesuatu itu benar hanya untuk menyenangkan gurumu atau tokoh yang kau hormati



Tetapi renungkanlah hal itu dengan seksama dengan akal budi dan hati yang jernih.

* Apakah hal demikian membawa kebaikan untuk sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian berguna bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demkian membawa cela bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian membawa kerugian dan penderitaan bagi sesama dan dirimu?

* Apakah hal demikian dibenarkan oleh para suciwan dan bijaksana?



Jika semua faktor itu kalian telah pertimbangkan, dengan hati dan pikiran yang terarah kepada sikap mulia, maka peganglah kebenaran itu erat-erat.



Apakah, oh Suku Kalama, tanda-tanda dari hati dan pikiran yang terarah pada sikap mulia itu?

- Jika pada dirinya tidak didapati keserakahan.

- Jika pada dirinya tidak didapati kebencian

- Jika pada dirinya tidak didapati kebodohan batin



Dalam orang yang pikiran dan hatinya dipenuhi 3 sikap mulia itu, maka semua pertimbangan yang aku sebutkan tadi akan mampu menilai mana ajaran yang benar dan mulia, dan mana yang tidak.



Seandainya, oh Suku Kalama, memang benar ada alam-alam kehidupan setelah kematian, maka mereka yang telah terbebaskan dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin akan menikmati kelahiran2 di alam-alam yang baik.



Seandainya pun, oh Suku Kalama, tidak benar ada alam-alam kehidupan setelah kematian, maka mereka yang telah terbebaskan dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, di dunia ini pun mereka telah terbebas dari perasaan bermusuhan.



Mereka yang telah bebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, oh Suku Kalama, akankah mereka hidup dalam kejahatan? Tentu tidak bukan? Dengan demikian mereka telah membebaskan diri dari kemungkinan bencana yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahat.



Karena tidak adanya kemungkinan bencana yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahat, oh Suku Kalama, maka mereka yang telah bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin akan hidup dalam sukacita, kebahagian dan tanpa ketakutan dalam kehidupan ini.



Demikianlah ada empat keuntungan yang dapat kalian tuai dalam kelahiran ini dan kelahiran yang akan datang bagi mereka yang berusaha membebaskan diri dari kebencian, keserakahan dan kebodohan batin.



= = = =



Aku terhenyak. Begitu terkejutnya diriku mendengar wejangan petapa muda ini. Sungguh luar biasa petapa ini. Ia bukan seperti yang aku bayangkan, yakni seorang guru agama yang cuma berbicara tentang kehidupan setelah kematian dan segala cerita alam-alam ghoib yg tidak bisa dibuktikan secara empiris. Atau tentang kunjungan mahluk-mahluk halus semacam malaikat atau dewa yang memberi sabda ini dan itu. Justru petapa ini begitu rasional. Ia mengajak setiap orang mulai independen menyikapi hal yang paling asasi dalam hidup ini, yaitu keyakinan.



Inilah yang seharusnya menjadi jantung dari segala ajaran agama, yaitu tidak mudah meyakini sesuatu.

Kesalahan agama-agama adalah melulu menekankan umatnya untuk mengimani akan adanya tuhan, nabi, kitab dan ajaran yang sempurna, tanpa mendorong mereka untuk meragukan, membandingkan dan menilainya sendiri. Belum apa-apa umat manusia sudah dicekoki dengan konsep kitab yang sempurna, agama yang terakhir dan sempurna, nabi terakhir dan sempurna, juru selamat penebus dosa dsb. Bagaimana mungkin manusia bisa cerdas apabila kacamata yang dipakai untuk menatap dunia adalah kaca mata iman dan klaim-klaim kebenaran sepihak?



Ingat bahwa saya sedang berada di India utara 2500 tahun yang lalu. Namun sedini ini, petapa Gautama telah menancapkan suatu sikap mulia yang jauh melebihi ajaran nabi-nabi agama samawi yang melulu menekankan iman, iman kepada sesuatu yang seringkali sukar diterima akal sehat orang dewasa.



Inilah spiritualitas yang sebenar-benarnya, keluar dari sikap mempercayai buta suatu ajaran, kitab dan tokoh agama, dan mulai berani melangkah sendiri melihat dunia apa adanya. Anda tidak perlu pintar dalam filsafat dan theologi untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam agama-agama. Spiritualitas sejati membebaskan kita dari perbudakan kebodohan, dan mulai mempercayai diri kita dalam tanggung jawab dan integritas.



Ubi dibium ibi libertas - dalam keraguan ada kebebasan.



Bukan tujuan saya untuk mempromosikansuatu agama tertentu, justru dengan mengambil kisah ini umat Buddha di Indonesia harus sadar bahwa tokoh agama kalian justru seorang free thinker sejati yang menekankan indipendensi manusia, bukan hanya mempelajari ajaran karena tradisi, kitab dan menurut kata-kata biksu saja. Bukankah kalian memiliki jargon ehi pasikho – datang dan selami sendiri?



Jikalau petapa Gautama mengundang pemuda Kalama untuk menelaah ajaran-ajaran agama dengan akal budi dan integritas, maka buddhisme sendiri tak terkecuali harus dibedah dan dianalisa jangan dipercayai begitu saja!



Hal yang ironis adalah justru umat Buddha yang selalu mengagung-agungkan Khotbah Buddha untuk suku Kalama, enggan mengkritisi ajarannya sendiri, karena takut dengan budaya, tradisi atau dikucilkan oleh komunitasnya.



Ratusan tahun setelah Buddha wafat, justru para yogi non-buddhislah yang tampil membela dharma sejati dengan menghasilkan kompilasi ajaran-ajaran agung dalam kitab yang sangat termashur yaitu Bagavad Gita. Dalam kitab inilah para yogi mengkristalkan dharma, bahwa ada banyak jalan dharma, dan semua dharma itu berasal dari yang satu dan mengarah pada yang satu. Pada saat itu justru ajaran buddhis sudah dikooptasi oleh sekelompok elitis biksu yang merasa berhak menilai mana sutra yang berasal langsung dari bibir Buddha dan mana yang tidak. Padahal semua sutra di tulis paling dini 200 ratus tahun setelah Buddha wafat dan memungkinkan untuk terjadinya bias budaya, politik, tafsir, interpolasi, dan kepentingan dogma!



Menangislah kalian umat Buddha, karena kalian sudah mendegradasi ajaran guru kalian sendiri dan membakukannya dalam dogmatika kaku.



============







Pada saat itu tampillah pula seorang pemuda dari kasta brahmana. Ia sangat cakap dalam pengetahuan weda, sastra dan kitab-kitab suci lainnya.



“Petapa Gautama, engkau bukan berasal dari kasta brahmana, melainkan kasta ksatria. Begitu pula umurmu masih muda. Pada kami ada kitab-kitab suci yang umurnya jauh lebih tua darimu. Kami mengamati ajaranmu, dan kami dapati bahwa ajaranmu tidak ditemukan dalam kitab-kitab kami. Padahal kami telah meneelah bahwa kitab yang kami miliki adalah benar dan sempurna. Hanya inilah yang benar dan yang lain salah. Bagaimana kamu memandangnya?”



“Oh brahmana yang muda, berapakah umurmu?”

“Umurku kurang dari 20 tahun, oh Bagawan.”

“Kalau begitu apakah engkau, dengan matamu sendiri, melihat dan mengawasi bagaimana kitab-kitab itu disampaikan dari satu generasi ke generasi, disalin dari satu naskah ke naskah yang lain tanpa mengalami pengurangan dan pelebihan, dan pemaknaan setiap kata dan kalimatnya tidak pernah bergeser dari generasi ke generasi?”

“Tentu tidak , oh Bagawan.”

“Apakah orang tuamu, atau kakekmu, atau kakek buyutmu, melihat dan mengawasinya seperti yang aku tanyakan sebelumnya?”

“Tidak pula oh Petapa Gautama. Sesungguhnya kitab-kitab ini jauh lebih tua dari pada kakek buyut generasi ketujuh kami.”



“Kalau demikian, bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan bahwa inilah kitab yang benar sedang kitab yang lain salah? Bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan bahwa ajaran inilah yang benar sedang ajaran lain salah?



Bagaikan sederet orang-orang buta yang berpegangan tangan. Yang depan mengatakan, ‘aku telah melihat seekor gajah yang demikian dan demikian,’ dan pernyataan itu disampaikan begitu saja kepada orang-orang buta dibelakangnya, demikianlah pemahamanmu.



Jika engkau sudah mengatakan hanya inilah yang benar dan yang lain salah, maka engkau telah melekat kepada sesuatu. Dan manakala engkau telah melekat pada sesuatu, engkau tidak bisa beranjak kepada kesadaran yang lebih tinggi.



Oh brahmana, sesungguhnya setiap manusia memiliki benih-benih keluhuran budi, tanpa memandang kasta dan latar belakang agamanya. Benih-benih keluhuran budhi ini hanya akan mekar apabila avidya, ketidak tahuan akan kesejatian sifat segala sesuatu, kebencian, serta kemelekatan kepada nafsu dan konsep sedikit demi sedikit dilenyapkan.



Kepada murid-muridku aku tak pernah lelah menekankan bahwa ada tiga pilar dalam menempuh kehidupan suci, yaitu:

- Sila, usaha untuk menegakan moral dan etika.

- Samadhi, usaha untuk selalu mencari keheningan bathin, lepas dari menilai dan menghakimi, menggenggam dan melepaskan, menyukai dan membenci.

- Panna, usaha untuk selalu menambahkan kebijaksanaan dan pengetahuan.



Ketiga pilar ini harus seimbang dan simultan.

* Mereka yang hanya menekankan sila akan terjebak pada kemelekatan akan syariat kaku dan menjadi budak dari batasan-batasan yang kita pakai sendiri.

* Mereka yang hanya menekankan Samadhi akan kehilangan pijakan di dunia nyata. Mereka akan mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak.

* Mereka yang hanya menekankan pada panna, atau kebijaksaan akan cenderung merasa benar sendiri, mudah menyalahkan orang lain yang tidak secerdas dan sebijaksana mereka.



Kitab-kitab suci oh Brahmana muda, hanyalah kumpulan pengalaman dan prinsip-prinsip baik dari para penempuh kesucian di masa lalu. Mereka menuliskannya sebagai respons akan permasalahan mereka dalam ruang, waktu dan cara berpikir orang sejamannya.



Jikalau engkau dewasa melihat dunia ini, maka engkau akan dapati bahwa semua yang terbentuk dari unsur-unsur yang menggagasnya, suatu saat akan pula lenyap berdasarkan sifat-sifat dari unsur yang menggagasnya, begitu pula ajaran dan konsep dalam kitab suci, oh Brahmana muda.



Kebenaran yang sempurna tidak akan kau temui dalam kitab-kitab. Justru dalam tubuh yang tidak lebih dari dua meter ini, tersimpanlah rahasia-rahasia abadi. Dalam tubuh yang tidak lebih dari dua meter ini, tersimpanlah benih-benih untuk direalisasikan, apakah itu surga atau neraka, samsara atau nibanna.



Demikianlah oh Brahmana muda, telah aku jawab, aku jelaskan dan aku perinci mutiara-mutiara kebijaksaan kepadamu, sekarang terserah dirimu, akankah engkau menerimanya atau tetap bersikukuh dalam pemahamanmu.”



Bagai dikejutkan oleh halilintar di siang bolong. Bagaikan tanah kering kerontang yang disirami oleh hujan lebat, demikianlah hatiku kala mendengar ucapan Sang Buddha. Tak kuasa kedua mata ini meneteskan air mata. Aku teringat di negeriku tercinta Indonesia. Di negeri ini justru orang terilusi dengan agama-agama bentuk. Mereka mengagung-agungkan hal yang remeh temeh. Mereka justru terikat dengan kebenaran yang masih kasar. Masih banyak orang yang terilusi dengan cerita surga dan neraka abadi yang dialami setelah kematian. Masih percaya pada kebenaran mutlak dari kitab-kitab dan ajaran-ajaran yang dianggap suci, sempurna dan tidak bisa dikoreksi. Masih percaya pada tokoh ini dan itu yang sama sekali tidak bisa diusik kesejarahan dan kebenaran cerita hidupnya.



Padahal yang sempurna itu bukanlah kitab atau ajaran, melainkan perjalanan evolusi kesadaran manusia sejagat itu sendiri. Kesadaran itu sempurna karena ia mampu untuk berdialektika dan mencari makna baru menurut ruang, waktu dan pengetahuan dalam jamannya masing-masing. Sempurna yang terus mengusahakan kesempurnaannya lagi. Suatu usaha yang tidak pernah berakhir.



Sampai kapan kebodohan di negeri ini terus diperam? Sampai kapan yang cangkang dimuliakan sedangkan yang isi dibuang dan dianggap membahayakan? Satu-satunya cara agar bangsa ini terbebaskan dari kebodohan yang mengelayuti benak putra-putri bangsa ini adalah memisahkan antara negara dan agama. Agama harus dimasukan ke dalam wilayah privat. Wilayah pribadi, yang tidak boleh dicampurtangani oleh pemerintah dan tidak boleh dimonopoli oleh suara mayoritas. Pelajaran-pelajaran agama seharusnya diajarkan di keluarga dan komunitasnya masing-masing saja, bukan di sekolah-sekolah umum. Justru di lembaga2 pendidikan dan di masyarakat yang bermulti wajah ini, yang dikedepankan adalah adab, etika, kejujuran, intelektualitas, dan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan kebenaran berdasarkan dogma suatu agama.



Aku merindukan Indonesia yang baru, Indonesia yang mengedepankan kejujuran, intelektualitas, kemanusiaan dan tanggung jawab. Aku merindukan anak-anak bangsa ini bebas memilih apa yang diyakininya, bahkan dalam batas-batas tertentu, bebas untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang darinya mereka akan belajar kebaikan-kebaikan yang lebih tinggi.



Aku merindukan Indonesia dengan beragam perspektif pemikiran. Biarkan para pengusung spiritisme. animisime, dinamisme, politheisme, monotheisme, deisme, pantheisme, panentheisme, agnotisme bahkan atheisme untuk mencari makna hidupnya sendiri dan berdialektika dalam kodrat diri dan kapasitas kesadarannya masing-masing. Asalkan mereka diikat dengan kesadaran akan semangat hidup berdampingan dan menjunjung hak hidup dan berkeyakinan masing-masing.



Ketika sesi Tanya jawab itu selesai, maka tiap orang mengucapkan terima kasih atas penjelasan dari Petapa Gautama dan murid-muridnya. Mereka menungkupkan kedua tangannya di depan dada dan mengangguk sebagai tanda hormat. Ingin rasanya aku menanyakan banyak hal kepada Petapa Gautama, namun bibir ini terasa terkatup erat. Membisu seribu bahasa. Mungkin karena apa yang aku baru saja dengar, masih terlalu tinggi buatku, terlalu halus buat pikiranku.



Setelah kami semua berdiri dan memberi ruang kepada Petapa Gautama dan murid-muridnya untuk meninggalkan aula desa, mereka pun berdiri dan meminta diri. Satu persatu dimulai dari sang pemimpin yaitu pertapa Gautama berjalan tenang, kepala mereka tertunduk. Hati mereka teduh. Dan ternyata di barisan itu terdapat pula banyak umat awam dan perumah tangga biasa yang menjadi murid-murid inti sang Buddha, bukan hanya para biksu!



Yang membuatku bergetar adalah manakala Petapa Gautama melirik ke arahku. Ia berhenti untuk sejenak memperhatikanku. Tentu saja ia tahu aku orang asing. Dari penampakan tubuhku yang terbilang pendek dan ringkih di banding orang2 India yang tinggi besar, aku bagaikan setitik tinta hitam dihamparan kain putih. Dengan kedua telapak tangan di dadanya ia menebarkan senyum khusus untukku. Senyum berjuta arti. Aku membalasnya dengan senyum pula. Senyum pembebasan. Terima kasih Gautama. Terima kasih India.





Spiritualitas – ketelanjangan dan kejujuran.



Dalam setiap note saya selalu menekankan kejujuran. Dan spiritualitas yang sejati berbicara tentang kejujuran. Kejujuran yang menelanjangi setiap kepongahan dan kecongkakan agama lahiriah dan dogma.



Manusia spiritual adalah manusia yang jujur melihat betapa agama-agama dibangun diatas dogma yang rapuh, dan irrasional. Manusia spiritualitas adalah manusia jujur yang melihat kebohongan sejarah agama dan tidak mau ikut menambah kebodohan umat manusia dengan berpura-pura memujanya dan menyalutnya dengan eufemisme. Manusia spiritual bahkan tidak mau menerima uang dan hidup dari membodohi umat manusia.



Ada sesuatu yang salah dengan agama-agama.

Ada sesuatu yang salah dengan keberagamaan kita.

Ada sesuatu yang salah dengan pemujaan-pemujaan kita kepada tuhan, agama dan tokoh2 agama dan kitab-kitabnya.



Kesalahan itu ada pada tidak diberdayakannya akal budi dan nurani kita.

Dan tuhan yang takut dengan analisa akal budi, adalah tuhan yang tidak layak dipuja oleh nurani kita.



Banyak dari kami yang akhirnya memilih untuk tidak ikut ambil bagian dalam organisasi keagamaan dan ritualnya. Kami lebih memilih hidup sederhaa dan mandiri.



Agama yang sejati sebenarnya hanya diperuntukan untuk mereka yang sudah dewasa.

Agama sejati lahir dari sikap hati. Bukan dari dogma dan kitab-kitab.

Agama sejati lirih dan hening menghadap ke dalam, namun lembut dan ceria menghadap keluar, kepada alam dan sesame mahluk hidup.



Manusia spiritual adalah manusia yang telanjang. Dengan telanjang kita lahir ke bumi ini, dan dengan telanjang kita mengarungi pengembaraan spiritual kita.

Telanjang dari segala ketakutan akan materi.

Telanjang dari segala mulut manis apologetis.

Telanjang dari segala titel semu dalam hierarki agama.

Telanjang dari segala pengakuan-pengakuan dogmatis.

Telanjang, bagai kisah adam dan hawa sebelum mereka memahami nilai benar dan salah.



Alaniss Moressete, seorang penyanyi dari Kanada, pernah menghabiskan hidupnya di India selama 1,5 tahun. Dan baru di India dia bisa menerima hidupnya apa adanya. Sebelumnya ia selalu bergumul dengan rasa takut, bulimia, obat2an dan krisis diri. Melihat masyarakat India yang begitu bersahaja dalam kemiskinan dan kepolosannya, Allanis sadar bahwa ia tidak perlu terus membawa-bawa rasa takut, trauma luka hati, kebiasaan buruk dsbnya. Alih-alih ia bisa menerima dan menikmati hidup yang hanya satu kali saja. Dalam kekurangannya ia menerima semuanya itu dan menjadikannya sebagai kekuatan hidupnya.



Sebagai rasa terima kasihnya pada bangsa India, ia menuliskan lagu Thank You sebagai katarsis dari fase penerimaan dirinya. Dalam video klip itu, ia berpose telanjang dan dalam ketelanjangannya ia memaknai ruang dan waktu hidupnya dan menyapa setiap orang yang ia temui apa adanya, sebagai sesama manusia.



terima kasih India

terima kasih rasa takut

terima kasih kekecewaan

terima kasih kerapuhan diri

terima kasih konsekwensi

terima kasih, terima kasih keheningan



saat-saat dimana aku melepaskan

adalah saat dimana aku menerimanya dgn melimpah

saat-saat dimana aku melompat

adalah saat dimana aku mendarat



terima kasih India

terima kasih pemeliharaan

terima kasih kekecewaan

terima kasih kekosongan

terima kasih kejelasan

terima kasih, terima kasih keheningan

Sabtu, 25 September 2010

A Jin SM: Antara Putri Ayu, Ave Maria dan Siti Aisyah

Hari Sabtu yang lalu, 18 September, saya dan istri menghabiskan malam mingguan kami di rumah saja. Sementara putra-putri kami hang out bersama teman sebayanya di sebuah mall di Bandung kota. Itulah pahala setimpal yang bisa kami berikan kepada mereka setelah seminggu belajar keras. Biarlah mereka hang out dengan teman2 sebayanya yang berlatar belakang berbeda, tanpa ada kecurigaan rasial dan agama.



Sementara di rumah kami menikmati waktu-waktu relaks dengan menonton acara kesukaan kami berdua, Indonesia Mencari Bakat. Saya dan istri memang berbeda idola. Idola saya Putri Ayu. Sedangkan idola istri saya, tentu saja – sudah bisa ditebak, Brandon de Angelo.

Ada hal yang sangat berkesan dan penuh arti bagi saya saat itu, yaitu ketika Putri Ayu menyanyikan lagu Ave Maria. Suaranya yang merdu, roman mukanya yang teduh, tatapan mata yang sayu, wajah cantik bak bidadari dan usia yang begitu muda, polos dan bersinar membuat setiap mata yang memandang akan terpana dan dalam hatinya akan memuji, “She’s an angel. “

Dari awal dia menyanyikan lagu Ave Maria, sampai saat-saat terakhir, saya merasa merinding, pikiran ini bagaikan terhisap lubang hitam masa-masa lalu. Terlintas kembali memeori-memori indah di mana saya mulai mengarungi hutan-hutan lebat pemikiran2 agama dalam dunia antah berantah.

Tanpa saya sadari saya meneteskan air mata dan tangan ini menggenggam tangan istri saya yang lembut erat sekali. Hingga istri saya keheranan. Inipun baru saya sadari setelah lagu itu selesai.

Apa sih yang membuat saya begitu terhisap dalam moment2 keindahan itu?

- Karena keindahan suaranya? Tentu. Suara Putri Ayu tak diragukan lagi sempurna. Bagi saya sudah jelas dia layak jadi juara pertama di kontes itu.

- Karena keagungan lagunya ? Tentu. Karya2 Schubert, Mozart, Handell, Beethouven bagaikan alunan music surgawi. Jujur, jauh lebih enak music2 klassik dari pada musik kasidahan.



- Karena saya setuju dengan isi lagunya? Tentu tidak. Dan disinilah masalahnya.



Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu” ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang. Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.



Para agamawan bagaikan orang yang hendak pergi ke istana, namun baru melihat pintu gerbangnya yang indah, sudah merasa silau dan percaya bahwa mereka sudah berada di dalam istana.



Sebagai seorang muslim, tentu saja saya tidak percaya bahwa Maria atau siti Mariam adalah bunda allah. Bertahun-tahun lalu , dalam pencarian kebenaran saya mempelajari bahwa umat Kristen awal tidak pernah memandang Maria sebagai bunda allah. Agama Kristen yang berawal dari salah satu sekte kecil dalam dunia yahudi, yang nota-bene adalah produk budaya patriakhal, tidak mungkin menyanjung-sanjung perempuan.



Baru ketika ajaran2 kristen berkembang di wilayah2 dimana politheisme berakar, seperti siria, yunani dan romawi, maka ajaran katolik dibakukan. Syahwat politheistik mereka dicari akarnya dalam iman Kristen, maka diciptakanlah figur2 santo dan santa selain yesus dan tuhannya orang Israel. Bible sendiri tidak pernah menyanjung-sanjung maria sedemikian rupa. Adalah karena budaya dan kebutuhan devosi saja yang menjadikan figure maria, santo dan santa serta para martyr Kristen dijadikan obyek devosi.



Namun demikian, di sinilah point terpentingnya, yaitu agama bukan cuma masalah benar atau tidak, menyejarah atau tidak, namun masalah psikologis dalam benak manusia itu sendiri. Dan ini sehat apabila disikapi dengan wajar. Karena agama juga masalah psikologis, maka sudah sepatutnya kita menganggap bahwa kebenaran agama bukan kebenaran mutlak, melainkan kebenaran karena utilitas.

Tidak ada agama yang benar-benar benar dan benar-benar orsinil. Tidak ada agama yang bisa mengklaim bahwa hanya agamanyalah yang berasal dari tuhan sedangkan yang lain bersifat inferior, sesat, palsu, dan tidak diridhoi allah. Lagian mana ada agama yang mampu membuktikan adanya tuhan / allah? Lha tuhan sendiri hanya konsep koq! Jadi bagaimana mungkin si konsep memberikan wahyu? Bagaimana mungkin si konsep bersabda, ‘diijinkan bagimu untuk berperang, membantai musuh, mengawini bocah berumur 6 tahun, dsb? Yang namanya konsep cuman buah pikir atau buah khayal dari otak si orangnya.



Adalah hasrat dalam diri setiap manusia untuk mengagumi figure ibu atau wanita. Karena kehidupan ini mustahil ada tanpa seorang ibu, atau sesuatu yang merahiminya. Seorang bayi tidak mungkin lahir tanpa seorang ibu, seekor binatang tidak mungkin lahir atau ditelurkan tanpa seekor induk. Sebatang pohon tidak mungkin tumbuh tanpa ada pohon induknya. Singkatnya semua bentuk kehidupan ini tidak akan pernah ada tanpa seorang / suatu rahim ibu. Maka dari itu dalam setiap kebudayaan manusia menyebut hal2 yang hampir serupa, ‘bumi adalah ibu, dan langit adalah ayah’, begitu pepatah cina mengatakan. Dalam bahasa Inggris kita mengenal Mother Nature dan Heavenly Father. Dalam bahasa Indonesia, tentu saja kita mengenal ibu pertiwi. Jadi citra tentang ibu, rahim, dan cinta kasih tertanam secara nyata dalam benak manusia sepanjang jaman. Dalam bahasa Carl Gustav Jung citra dan kerinduan itu disebut arketype. Arketype itu diwujudkan dalam symbol baik sebagai wujud feminin( anima / yin) ataupun wujud maskulin (animus/ yang).



Orang-orang yunani yang bathinnya peka, yang sekarang sudah jadi Kristen, menyadari akan kegersangan agama Kristen dan yahudi yang cenderung patriakal. Citra perempuan tidak pernah ada dalam symbol-simbol keagamaan yahudi dan Kristen awal. apalagi Hawa, symbol kaum perempuan, dianggap sebagai pembawa dosa kepada Adam, simbol kaum laki-laki). Untuk itu mereka melihat sosok Maria sebagai symbol arketype keibuan, cinta kasih, pengayoman dan kesabaran. Hal ini didukung dengan fakta bahwa yesus, sekalipun lahir dalam tradisi patriakal, justru mendobrak tradisi nenek moyangnya dengan menjadikan maria Magdalena sebagai salah satu soko guru di padepokannya. Ia tidak pernah merasa risi dengan perempuan, bahkan para pelacur. Baginya perempuan adalah kaum yang harus dihormati, dilindungi dan dikagumi secara wajar oleh laki-laki. Perkawinan monogamy adalah perkawinan yang ideal bagi yesus. Jadi klop sudah, yesus yang revolusioner dengan citra-citra kelembutan dan kerahiman dalam benak jemaat Kristen yunani romawi ini.



Benarkah siti maria bunda yesus itu memiliki kualitas2 karakter yang begitu mulia yang tidak dimiliki oleh ibu-ibu lain? Belum tentu. Manusia maria tidak lebih mulia dari ibu-ibu yang merelakan dirinya meninggalkan keluarga demi mencari sesuap nasi pergi menjadi TKW di luar negeri. Namun deifikasi Bunda Maria ini memberikan inspirasi akan kelembutan, cinta kasih, ketenangan, ketentraman, dan pengayoman kepada anak-anak manusia. Inilah psikologi manusia. Dan ini wajar. Tidak ada yang palsu, sesat ataupun menyesatkan. Semua hal yang wajar dan manusiawi bisa dijadikan untuk inspirasi dan kebaikan manusia. Inilah yang disebut benar karena utilitas.



Dalam agama-agama india kita melihat figure-figur dewi seperti dewi Chandra, dewi laksmi. Dewi saraswati, dewi durga. Tentu saja dewi-dewi hanya bersifat antromorphisme, bukan suatu kenyataan senyata-nyatanya. Orang hindu yang bodohpun tidak akan pernah bertanya dewi siapakah yang lebih cantik, pintar dan berkuasa. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa itu hanya simbol2 yang menunjukan sesuatu. Agama Buddha misalnya, agama yang berhasil menumbangkan tahayul dewa-dewi dalam benak masyarakat india, namun segera mereka sadar bahwa dewa-dewi itu hanyalah symbol dari sifat-sifat mulia yang dituju. Maka dari itu dalam Buddhisme ada figure-figure boddhisatva yang menyimbolkan manusia-manusia yang berkesadaran yang rindu untuk mencapai nirvana dengan jalan membantu semua mahluk hidup ke gerbang nirvana juga. Ketika buddhisme dibawa ke china, avalokitesvara, symbol dari kerahiman dan kerahmanian semesta, digambarkan menjadi seorang perempuan yang cantik yaitu dewi kuan im.



Jadi dapat kita pahami di sini bahwa dewa-dewi atau bunda maria, bukan tujuan devosi dan ritual pada dirinya sendiri, namun sebagai wahana, titik fokus untuk menuju suatu idea yang diidealkan, yaitu cinta kasih, kelembutan, kerahiman, pengayoman dan penghargaan akan wanita dan ibu.



Bagaimana dengan islam? Saya sering bertanya kepada diri saya, mengapa islam begitu keras kepala dalam kecetekan berpikirnya. Kita sering bangga dengan tauhid kita, namun kita lupa bahwa tauhid itupun hanya konsep. Kalau tuhan itu satu, benar-benar satu dan tidak ada mahluk yang setara dengan dia, maka ia adalah sesuatu juga. Dan sangat mungkin ia seorang penyendiri yang tidak punya empati akan mahluk2 lain. Itulah kenapa ia begitu egois, tidak toleran, haus pujian dan sanjungan.



Semua orang juga tahu bahwa tuhan itu tidak beranak dan beribu. Orang Kristen Yahudi mengatakan yesus putra allah bukan berarti allah menyetubuhi maria dan mengandung yesus. Tidak ada orang Kristen yahudi segoblok itu. Hanya orang arab tolol saja yang mengira ada orang yahudi sebodoh itu.



Para murid yesus tahu bahwa tuhan itu konsep. Konsep tentang yang baik dan yang mulia. Karena ia konsep maka ia tidak berpribadi. Ia hanya hadir dalam batok kepala orang yang membaktikan hidupnya pada cita-cita altruistic semacam itu. Karena tuhan itu konsep tentang kesadaran, dan kesadaran itu luas tak terbatas, maka manusia-manusia yang mewujudkan konsep altruistic itu disebut anak tuhan, yang artinya bagian kecil yang nyata dari samudra kesadaran luas itu. Sama halnya seperti tetangga-tetangga saya yang suka berteriak-teriak “Aing anak Bandung, aing anak Persib”. Tidak ada orang waras yang akan bertanya pada mereka , “apa bener Bandung atau Persib bisa menghamili ibu kamu sehingga kamu lahir jadi anak Bandung / anak Persib?”. Di dalam bahasa kita pun kita mengenal anak panah, anak tangga, tanpa perlu memusingkan di mana ibu dan bapa panahnya, dimana ibu dan bapak tangganya. Karena itu cuman pembahasaan.



Sekali lagi tuhan itu konsep tentang makna terdalam dan mulia. Ia bukan benda atau mahluk yang bisa berfirman dan berbicara pada manusia atau nabi2 tertentu. Jadi karena ia hanya konsep maka tidak masalah kalau ada yang mengatakan anak allah, cucu allah, pacar allah, bunda allah dsb. Lha wong allah itu cuman konsep koq. Lagian mana mungkin konsep itu beranak atau menghamili?



Inilah yang tidak dipahami oleh kita orang islam yang selalu begitu ngotot dan narsis dengan kecetekan berpikir kita. Kita adalah katak2 dalam tempurung. Merasa berhak memaki dan mencap orang lain kafir, kufur, sesat dan menyesatkan.



Memang tauhid dalam islam itu kuat, namun ia gersang. Dalam figure Bunda Maria, Dewi saraswati, Dewi Kuan Im kita melihat idea-idea kekaguman dan pengaguman akan wanita, dan ibu. Namun dalam islam kita begitu bangga menjadikan wanita sebagai obyek pelengkap, bahkan korban dari syahwat budaya patriakal. Dimana dalam dunia islam ada figur wanita yang menjadi symbol kebajikan, kesabaran, kehormatan, kemuliaan, pengayoman dan cinta kasih? Dari awal sejarah awal islam, justru wanita mengalami pemasungan demi pemasungan. Islam mencitrakan wanita yang ideal adalah wanita yang dibatasi ini dan itu oleh laki2, bahkan untuk apa yang layak dan tidak layak dipakai secara wajar oleh si wanita itu sendiri. Dan si wanita harus bangga dan mensyukuri akan pemenjaraannya itu. Bisa jadi kecenderungan ini datang dari kehidupan tragis sang nabi kita sendiri yang tidak merasakan kasih seorang ibu secara wajar, intens dan nurturing sehingga ketika ia berada di puncak kekuasaannya ia melihat wanita sebagai pelengkap kepuasan lahiriah dan bathiniah saja. 500 tahun sebelum Muhammad lahir, Isa as sudah memberikan contoh akan kebaikan dan idealism dari perkawinan monogamy. Monogami, tidak memberi jawab secara memuaskan atas segala permasalah manusia, namun paling tidak, ia memberikan tempat yang sangat mulia kepada wanita, ketimbang poligami. Namun justru dalam islam Muhammad menjadikan peradaban mundur. Ia bahkan menutupi hasrat Don Juan nya dengan firman2 allah yang sebenarnya cuman konsep khayal di batok kepalanya.



Dengan figure siapakah saya bisa menyamakan arketype bunda maria atau kuan im dalam sejarah islam? Apakah dengan siti Aisyah, yang dilamar ketika berumur 6 tahun dan dikawini ketika berumur 9 tahun? Dengan siti Zainab, yang ‘dipaksa’ cerai dengan zaid agar bisa dinikahi oleh ayah mertuanya sendiri? Atau dengan maria si koptik yang dijadikan upeti oleh komunitas Kristen di mesir, sebagai jaminan agar Don Muhammad tidak membumi hanguskan wilayah mereka?



Itulah sekelibat kegelisahan dalam diri saya.



“Pah…. Papah… kenapa papah menangis.” Kata istri saya lembut. Jari-jarinya mengusap air mata yang tak disadari berlinang. Saya terhenyak dan menarik nafas panjang.



“Oh mah… papah terbawa suasana. Indah sekali Putri Ayu membawakan lagu ini.”

“Sampai sebegitu menjiwainya sampai2 dari tadi papah meremas tangan mama sampai kesemutan nih tangan mamah.”

“Waduh mah….. maaf, ga sadar.” Sambil saya melepaskan genggaman tangan saya.

“Papa senang lagu ave maria?”

“Ya tentu.”

“Papa mengagumi bunda maria?”

“kenapa tidak, ia adalah symbol seorang ibu yang tabah dan tegar, yang menghasilkan anak2 yang berintegritas dan berani menentang kebodohan, keangkara murkaan dan kemunfaikan kekuasaan dan keagamaan.”

“menurut papa, apa mama sudah memenuhi criteria itu?”

“Hmmmmmmm pertanyaan menjebak dan merajuk dari seorang istri yang sedang cari perhatian nih…. Cemburu kaleeee?”

“Ihhh papah gitu deh.. mamah kan tanya baik-baik. Gimana?” sambil jari2nya mencubit tangan saya.

“Mah…papah menerima kamu apa adanya. Dan papa juga berharap mama bisa menerima papa apa adanya. Sampai tua nanti.”



Jari telunjuk kanannya ia tempelkan di mulutku. Meminta aku untuk menahan dari menciumnya dan mendengarkan sesuatu yang ia ingin katakan. Dengan lembut ia menyanyikan lagu:





jagalah hati.. jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini.

jagalah istri .. jangan poligami jagalah istri …tentramkanlah hatinya.



Kami berpelukan .......

Ditelinganya aku bisikan…. “sampai mau memisahkan kita, honey.”



Dan tivipun di matikan. It’s addult matter. It’s love matter.

Jumat, 24 September 2010

AA Jin SM: Atheis Pietis

Apakabar September 20110

Tahun ini adalah tahun yang membingungkan buatku. Baru di tahun ini rasanya aku merasa musim kemarau datang hanya sesaat. Bahkan bulan Agustus yang biasanya terik menyengat, malah menjadi dingin menusuk. Apa lagi kami tinggal di kota dimana hujan turun dengan melimpah.



Setiap kali hujan, biasanya manusia cenderung ogah, mengkerut dan moody. Begitu pula dengan saya saat ini. Malam menjelang, namun hujan gerimis yang mengguyur bumi dari tadi sore masih tampak jumawa, enggan berhenti. Dan tiap kali hujan gerimis turun, aku merasakan kesenduan, keheningan dan kehilangan. Kehilangan akan seseorang yang begitu bermakna. Kehilangan yang tidak akan mampu ditebus lagi. Kehilangan akan seseorang yang begitu dirindukan. Ia bukan pacar. Ia bukan saudara atau kerabat. Ia hanya seorang yang datang sesaat dalam kehidupanku, dan menyapaku dalam caranya yang lugu, khas dan sederhana, namun dampaknya bagaikan hantaman puting beliung dalam kepalaku. Ia hanya seorang laki-laki tua sederhana.

Beginilah ceritanya:

Sekitar dua puluhan tahun lalu, ketika aku masih muda, aku senang bepergian sendiri sebagai backpacker ke kota-kota sebelah timur, seperti Jogja, Magelang, Semarang, Kediri, Malang, Surabaya, Bali, bahkan sampai Papua. Berbekal uang seadanya dan saxophone untuk mengamen aku terbiasa pergi dari rumah sampai 2 bulan lebih. Karena cara mengamenku yang agak elite, mudah bagiku untuk mendapatkan uang ala kadarnya untuk melanjutkan perjalanan atau balik ke Jakarta. Itu aku lakukan sebelum kuliah dan selama liburan semester.

Suatu waktu kakiku menyeret tubuh dan sukmaku di jalanan kota kecil Magelang. Saat itu malam hari dan hujan gerimis turun. Losmen yang aku tuju masih sekitar 500 meter lagi. Dan perut sudah keroncongan. Di jajaran sebelah kiri aku lihat hanya ada sebuah warung angkringan. Sepi pula. Sop Buntut dan Kaki Sapi Si Mbah. Demikian nama warung itu. Siapa nama Si mbah itu, tidak dituliskan. Namun aku berasumsi Si Mbah ini pasti sudah terkenal, jadi tidak perlu menuliskan lagi namanya.

Sesuai dengan nama warungnya, si pemilik memang sudah tua, kira-kira pertengahan awal 60an. Dengan sigap ia melayani pesananku. Tangannya yang ringkih dan keriput menciduk kuah sop di kuali. Sekalipun sendok sayur yang ia gunakan tidaklah panjang, tidak proporsional di bandingkan besarnya kuali kuah itu, tangannya tidak perlu merogoh sampai ke dasar. Terlihat jelas dari cara ia menciduk air kuah bahwa barang dagangannya masih banyak. Padahal ini sudah pukul 10 malam. Hujan gerimis dari tadi sore memang nampaknya tidak memberi ampun buat para pedagang angkringan ini.

Wajah pak tua ini kelihatan tegar. Ia tampak santai tapi serius dengan sesuatu yang ada di kepalanya. Aku perhatikan sesekali bibirnya bergumam dan mengucapkan sesuatu yang tidak aku pahami.

“Silahkan mas dimakan,” sambil menyodorkan pesananku di meja.

“Trima kasih, pak,” aku jawab. Tanpa banyak menunggu langsung aku lahap sop kaki sapi ini.

Ia kembali ke tempat duduknya dan bibirnya terus mengucapkan sesuatu.

Aku jadi tertarik ingin berbincang2 dengannya.

“Pak. Kalau boleh, kenapa bapak tidak duduk di sini saja? Khan gak ada orang lagi, cuma berdua. Dari pada anteng sendiri-sendiri mendingan kita ngobrol,” undangku.

“Wah, nanti Si mbah merepotkan, mas.”

“Apa yang direpotkan tokh pa?” tanyaku sampai meninggikan alis mataku, mengundangnya sekali lagi.

Ia pun akhirnya duduk di depanku.

“Mas bukan dari orang kota ini,ya? Si mbah rasanya baru lihat.”

“Saya dari Jakarta, Mbah,” sekarang aku memberanikan diri menyebutnya mbah, sebagaimana ia menyebut dirinya.

“Sedang liburan mas?”

“Tidak Mbah, saya tukang ngamen. Cari duit dan pengalaman di sela-sela kuliah. Saya bawa alat tiup. Cuman malam ini saya lagi malas karena hujan,” sambil aku menunjukan hard case saxophoneku.

“Bagus sekali, mas. Jarang sekali si Mbah lihat pengamen pake saxophone.”

Lha kapan aku bilang saxophone, koq dia sudah tahu itu saxophone? Mungkin si mbah itu bukan orang udik. Mungkin di masa mudanya dia sering berdansa waltz atau cha-cha.

“Mbah sendirian berdagangnya?”

“Enggak mas, si mbah ditemani istri, dan seorang laden, tapi sekarang istri saya suruh pulang dan laden sedang ada perlu dulu. Nanti sebentar lagi dia datang.”

“Malam ini hujan terus ya Mbah. Orang pada males keluar rumah.”

“Ya begitulah, mas. Daganganpun belum banyak laku. Tapi hidupkan harus tetap tabah dijalani. Sabar lan mantep aja mas.” Suaranya agak mendesah, namun tidak terkesan memelas.

“Mbah, dari tadi saya perhatikan mbah seperti sedang wiridan. Membaca asma Allah yah?” tanyaku penuh selidik.

“hahahhaha enggak mas. Mmm maksud si mbah itu bukan wiridan seperti yang mas pikirkan. Koq si mas perhatian banget sih?”

“Apaan dong mbah? Kalau boleh saya tahu. Saya pikir tadi si mbah wiridan supaya minta Allah hentikan hujan atau supaya orang banyak beli hehhe.”

“Si mbah menjapa Nammo Amitabha, mas,” jawabnya agak malu.

Ternyata si Mbah ini bukan muslim, tapi seorang buddhis. Oh bodohnya aku. Ini kan jawa tengah bukan Kampung Makassar di Jakarta. Dan aku berada di Magelang. Tentu saja ada banyak pemeluk Buddha di kota ini.

“Oh jadi si Mbah agamanya Buddha yah? Saya kira tadi si Mbah memanggil azma Allah.”

“Ah mas, kalo masalah agama, si Mbah ini orang bodoh, jadi gak tahu apa-apa. Maklum orang kampung. Apakah si mbah ini orang Buddha? si mbah sendiri jarang ke vihara. Nanti kalau si mbah ini ngaku-ngaku orang Buddha malah mempermalukan orang-orang vihara.”

Nampaknya si pak tua ini menyembunyikan sesuatu dalam jawaban yang terkesan ditutup-tutupinya itu.

“Jadi kalau mbah memanggil-manggil Amitabha, itu gunanya untuk apa Mbah? Bukannya meminta hujan berhenti atau pembeli banyak berdatangan?” godaku. Ada sedikit rasa merendahkan dalam pertanyaanku.

Dari kecil sampai pradewasa aku dididik dalam Islam militan. Guru-guru mengajiku mengajarkanku bahwa hanya Islam agama yang diridhoi oleh Allah ta’ala. Agama lain sudah sesat dan palsu. Kitabnya dirubah-rubah sekehendak udel sendiri. Orang Kristen menuhankan manusia, tuhanya ada tiga, tuhan bapa, tuhan ibu dan tuhan anak. Orang Buddha dan Hindu memuja-muja patung yang mereka pahat sendiri. Pokoknya hanya ajaran islam yang luhur, murni, terakhir dan sempurna.

Waktu aku SMP aku dibawa saudara ke Tanggerang melihat-lihat vihara dekat rumahnya. Banyak orang keturunan Cina yang membawa buah-buahan ke depan patung. Wah bodoh sekali mereka patung koq dikasih makan buah-buahan. Tapi saudaraku yang lebih tua segera menukas, “Setidaknya tuhan mereka tidak meminta persembahan mahluk bernyawa,” katanya. Aku terlalu kecil untuk memahami makna kalimatnya. Orang-orang cina itu cuman pemuja Buddha dan Kong hucu yang tung-tung cep, alias orang2 yang muja-muji dewa dewi tunggak-tunggik kemudian nancepin hio cuman untuk minta diberkati secara material. Itulah apriori yang ada dibenakku selama ini.

“Mas, si mbah ini orang bodo, udik, dan tua, gak ngerti ajaran-ajaran Buddha dan agama. Jadi kalau si mas mau tanya ini itu, si mbah ga bisa jawab. Berapa kilo meter dari sini ada vihara Mendut, mas bisa tanya tentang ajaran Buddha sama wiku-wiku di sana (orang tua ini masih menyebut biksu dengan panggilan wiku).

Tapi mas, buat si Mbah, agama bukan masalah ajaran, tapi masalah laku hidup, masalah roso dan eling.

Kalau si mbah menjapa ‘nammo Amitabha’, yang artinya terpujilah Amitabha, bukan berarti memanggil-manggil dewa dari alam lain buat membantu si Mbah, tapi membuat si mbah ini selalu eling, sadar akan setiap laku, dan roso dalam sukma si mbah.

Apakah dengan si Mbah memanggil Namo Amitabha, Amitabha akan datang menghentikan hujan dan mendorong para pembeli berbondong-bondong ke warung sini? tentu tidak. Sama sekali tidak terpikir demikian dalam benak si mbah. Berdagang itu ada kalanya laku, ada kalanya tidak. Itu sudah biasa mas. Hari itu ada kalanya terik ada kalanya mendung, itu sudah fitrah alam mas. Buat apa membawa-bawa nama yang suci hanya untuk kepentingan pribadi kita yang dangkal dan sempit? Hujan ini datang karena suatu sebab, dan akan berakhir karena suatu sebab. Biarkan saja terjadi atas dasar siklus alam.

Menurut umat Buddha, Buddha Amitabha itu tinggal di sebuah alam surga penuh sukacita yang bernama Sukhowati. Mereka yang memanggil-manggil namanya ketika meninggal akan dibawa ke alam itu untuk belajar menjadi seorang Buddha. Itu kata umat Buddha, tapi buat si Mbah gak percaya.”

“Lha kalau si Mbah gak percaya kenapa masih memanggil-manggilnya?” sergahku keheranan.

“Semua itu cuman cerita mas. Amitabha itu sebenarnya kita sendiri. Surga Sukhowati itu adalah tubuh kita sendiri. Ketika si mbah menjapa Nammo Amitabha, bukan berarti si mbah memanggil suatu dewa atau mahluk ilahi untuk datang mewujud di hadapan saya, sama seperti kita yang duduk berhadap-hadapan seperti ini.

Memanggil Amitabha berarti membangunkan roso, eling dan laku lampah yang mulia dalam diri kita, sehingga tubuh ini bukan untuk diri sendiri tapi untuk menjadi alat kebaikan bagi sesama, mas.

Menjapa namo Amitabha berarti menghadirkan ingatan dan kesadaran akan berartinya hidup ini dan menggugah pikiran ini untuk menjadikan kehidupan nyata kita sebagai surga sukhowati, suatu tempat agar semua mahluk mendapatkan kesempatan hidup yang layak dan jauh dari permusuhan dan kebencian.

Apa benar surga sukhowati itu ada dan kita masuki ketika si mbah nanti mati? Si mbah juga ga tau. Yang si mbah tahu itu cuma cerita. Agama itu cuman metoda, mas, bukan tujuan. Gusti Allah itu bukan seseorang yang duduk di suatu surga atau suatu zat tertentu, tapi suatu idea mulia. Menyembah gusti Allah itu artinya membangunkan diri ini agar tetap eling dan menerima hidup apa adanya dan mengusahakan yang terbaik darinya. Bukan memuja-muji suatu pribadi lain di luar diri.

Dulu waktu muda, si mbah orang yang suka memberontak dan berpikir bebas. Si mbah mempelajari ajaran-ajaran Tan Malaka, Karl Marx dan Lenin. Dan semua ini membikin si mbah analitis, gak mudah percaya dengan cerita-cerita tentang surga dan neraka. Tapi justru dengan itu si Mbah bisa dengan mudah melihat arti rohani di balik kisah2 indah dan menawan itu.

Diri inilah amitabha itu. Diri inilah Avalokitesvara yang sedang berkarya di bumi. Diri inilah Buddha. Siapa yang memahami diri yang sesungguhnya ialah yang telah sadar, yang eling, yang roso nya melimpah dengan ketenangan dan kelembutan. Entah itu para wiku, ulama, pedande ataupun umat awam semua adalah sama, calon-calon sang Buddha, sang eling dalam diri ini.

Begitulah Mas, apa yang bisa si Mbah ceritakan.”

Aku tergagap-gagap mencoba memahami apa yang diulasnya. Aku tak pernah mendengar hal serupa dari guru ngaji, ulama dan da’i. Ironis sekali, justru dari seorang penjual angkringan seperti si mbah ini aku mendapatkan pelajaran berharga, sekalipun apa yang ia ajarkan harus memakan waktu bertahun-tahun agar tembok kekeraskepalaan ini bisa ditumbangkan. Namun apa yang ia ajarkan bagaikan api kecil yang membakar sumbu dalam otakku. Kelak sumbu ini akan mengantarkan si api kepada bensin yang siap dibakar.

Melihat aku yang tertegun kebingungan, si mbah berkata:

“Para agamawan, mas, seperti para penjaja yang berjualan air segar di pinggiran sungai yang jernih. Banyak dari mereka tidak rela para pembelinya menyadari bahwa air jualan itu di ambil dari sungai jernih di belakang kios mereka. Untuk itu mereka membangun kios bederet-deret panjang dan tinggi menjulang, agar para pembeli tidak menyadari kehadiran air sungai segar dan jernih di belakangnya.”

Gila. Gila. Orang tua ini seakan-akan mampu membaca isi kepalaku dan memotong jalur kebingungan dalam otakku. Aku terdiam membatu. Mau didebat gimana, dia memang benar, mau di amini gimana, aku masih terlalu kukuh dengan kecetekan cara berpikir islamku ini.

“Mas, hujannya sudah berhenti “ sapa si Mbah membangunkan lamunanku.

Waduh. Aku baru ingat. Penjaga losmen tadi pagi bilang kalau losmen akan ditutup jam 11 malam demi keamanan. Segera aku membayar jajananku dan mengucapkan beribu-ribu trimakasih kepada si Mbah telah meluangkan waktu mengobrol dan mengajariku. Aku katakan bahwa aku akan kembali ke Jakarta besok siang, tapi kalau ada waktu, aku akan kembali ke Magelang dan bersua lagi dengan si Mbah. Pak tua ini hanya tertawa renyah dan menepuk-nepuk pundakku.

“Hati-hati di jalan, Mas.”

Pemahamanku Saat Ini

Perlu bertahun-tahun bagiku untuk mengendapkan perkataan si Mbah itu ke dalam relung hatiku. Memang begitu sukar tembok fanatisme dan neurosis agama lahiriah ini untuk ditembus. Namun pengalaman itu menjadi poin pemicu dalam diriku untuk mempelajari agama dan kebatinan lewat beragam penelaahan filsafat, psikologi, budaya, dan kebatinan.

Dan pencarian ini mengantarkanku pada statement bahwa apa yang si Mbah itu cocok bagiku. Menurut telaah studi yang kulakukan secara otodidak tentang kebathinan dalam agama Buddha, aku temui bahwa Buddha Amitabha tertulis dalam kitab Amitayus Sutra. Sangat memungkinkan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang filsuf dan Yogi Nagarjuna, kira-kira 500 tahun setelah Gautama wafat.

Dalam Samadhi yang mendalam Nagarjuna “melihat” (tolong perhatikan makna tanda petik itu) Gautama sedang mengajar murid-muridnya. Gautama menceritakan tentang adanya seorang Buddha yang bernama Amita / Amida Buddha. Buddha ini tadinya adalah seorang raja yang dipuncak kejayaannya ia malah memutuskan untuk menempuh jalan kesucian. Ketika ia mencapai kesadaran tertinggi atau manunggal dengan semesta ia digelari Amida Buddha. Amida berarti cahaya tanpa batas. Buddha berarti kesadaran, atau yang sadar. Buddha Amitabha berarti cahaya kesadaran tanpa batas. Yang berarti personifikasi dari sang ilahi itu sendiri, samudra kesadaran tanpa batas.

Dalam misinya mencerahkan umat manusia, Buddha Amitabha dibantu oleh dua orang boddhisatwa yaitu Boddhisatva Avalokitesvara, yang bagi orang cina di sebut Dewi Kuan Im, dan Boddhisatva Maha Stamaprapta. Avalokitesvara adalah personifikasi dari sifat kelembutan, cinta kasih, kemaharahiman, dan pengayoman alam semesta, sedangkan Maha Stamaprapta adalah personifikasi dari Kebijaksanaan.

Bagi orang yang mata bathinnya tajam, tentu saja semua ini sudah jelas, bahwa sebenarnya Amitabha Buddha itu adalah alegori perjalanan spiritual Buddha Gautama itu sendiri, yang mendesak dan mengundang si pembaca untuk menyikapi hidup ini dengan tujuan-tujuan mulia, bukan sekedar hidup dan akhirnya mati dan berharap masuk surga.

Baik itu Amitabha, Avalokitesvara dan Maha Stamaprapta adalah aspek2 mulia dalam diri kita sendiri. Amitabha mencerminkan aspek kerinduan akan kesempurnaan, Avalokitesvara mencerminkan cinta kasih, dan Maha Stamaprapta mencerminkan kebijaksanaan. Bukankah ketiga sifat ini; kerinduan akan kesempurnaan (summum bonum), Cinta Kasih (agape) dan Kebijasanaan (sofia) adalah sifat mendasar yang mewarnai mereka penempuh jalan mistik atau kebathinan?

Nagarjuna menuliskan Amitayus sutra sebagai upaya revolusioner, karena pada saat itu para biksu dari Aliran Selatan menjadikan jalan kebikuan sebagai pelarian kekanak-kanakan, childish escapism, dari kesumpekan hidup. Ajaran Buddha menjadi begitu dogmatis dan hanya bertumpu pada tafsir-tafsir elitis biksu saja. Sementara umat awam hanya memahami ajaran Gautama dari luarnya saja, para biksu malah disibukan dengan perbantahan dogma abstrak, winaya dan perselisihan antar sekte. Mereka sibuk dengan “nirwananya” sendiri. Adalah Nagarjuna, seorang yogi dan filsuf besar, bersama biksu dan yogi dari utara yang membidani Aliran Utara yg nantinya disebut Mahayana, kendaraan besar. Kenapa disebut kendaraan besar? karena kesucian dan kebuddhaan bukan hanya dicapai oleh sekelompok petapa berkepala pelontos saja (calon arahat), namun oleh semua orang, pria dan wanita umat awam yang membaktikan hidupnya dalam praksis kehidupan sehari-hari (jalan kebodhisatwaan).

Diri inilah Amitabha, diri inilah Avalokitesvara, dan diri inilah Buddha, yang telah eling dalam roso yang mendalam. Itulah kata si Mbah.

Dua tahun setelah kejadian itu, ketika aku mulai memahami lebih dalam perkataan si Mbah, aku kembali menapaki jalanan kota Magelang. Aku mencari kedai angkringannya. Namun sia-sia. Tempat angkringan itu telah berganti penghuni. Si penjual baru mengatakan bahwa si Mbah telah meninggal setahun sebelumnya. Dia sendiri tidak begitu kenal dengannya dan tidak tahu dimana pusara beliau. Mengalir air mata ini. Bersama dengan menangisnya langit malam Magelang saat itu.

Satu sesal yang tak kunjung berakhir dalam diri ini, kenapa aku tak sempat bertanya nama si Mbah. Nama apakah yang cocok buat aku sematkan padanya? Mbah Buddha? Mbah Amitabha? Rasanya tidak cocok. Mungkin yang cocok si Mbah sang Atheis Pietis. Atheis yang Suci

……………………………

“Sopnya sudah siap, pah. Cepet dimakan mumpung lagi panas. Dari tadi koq papah cuman menatapi jendela melihat hujan saja”

Aku terbangunkan dari lamunanku oleh suara merdu istriku. Sambil menyodorkan sop buntut. Loh koq seperti kebetulan. Hujan deras, malam yang dingin dan semangkuk sop buntut panas plus nasinya.

Tanpa sadar aku bergumam, “Amitabha. Amitabha”

“Ihhhh papah bicara apa sihhhhh?” seru istriku yang keheranan.

“Oh tidak…tidak…… itu artinya mensyukuri hidup kesempatan hidup yang indah ini yang memperkenalkan saya pada hidup yang mulia bersama seorang istri cantik yang setia.” Kataku mencari-cari alasan. Habis mau jelasin panjang lebar gimana?

“Ahhhh papah ini ada-ada saja.” Katanya

“Ayo kita makan bersama di meja makan saja Mah, jangan di ruang kantor.”

Istriku tersenyum, mencoba menebak-nebak apa yang dari tadi ada dalam benakku ini.