Selasa, 07 September 2010

Lutfi As: Apakah Kebenaran Itu? I

Dengan mantap saya melangkahkan kaki menuju kelas yang akan saya ajar. Jarak antara kantor saya yang kecil namun asri dengan kelas memang cukup jauh, melewati beberapa lekukan koridor dan sebuah taman yang cukup luas dimana terdapat beberapa pohon rindang tempat para mahasiswa mengobrol, dan memadu janji kasih tentunya. Ruang kelas yang saya tuju berada di sisi lain dari taman itu.


Ketika kaki ini melenggang di atas rumput nan hijau, langkah saya terhenti.

Seluruh mahasiswa yang akan saya ajar berdiri di taman membentuk ‘barikade’, seakan-akan menghalangi jalan saya masuk.

“Eit….. tunggu dulu Pak Lutfi. Kami semua bersepakat. Kami hanya akan ikut kelas bapak hanya apabila bapak bisa menjawab pertanyaan dari kami. Dan apabila bapak tidak bisa menjawab, maaf-maaf aja nih, kite2 bakal absen satu semester dengan jaminan bapak.” Kata seorang yang paling kritis di antara mereka.


“Betul-betul-betul” seru beberapa mahasiswa penggembira dengan serempak, dengan nada seperti tokoh kartun kembar berkepala pelontos kesayangan anak saya.

Semua mata menatap saya dengan tajam, menantikan jawaban dari saya.

Wah saya tersentak. Rasanya gaya2 narsis, kritis, kocak dan sompral saya dikelas berbalik menjadi pedang bermata dua.


“Oke silahkan. Apa yang kalian akan tanyakan?”


“begini Doktor Lutfi, ada 2 pertanyaan buat bapak:


1. Apakah kebenaran itu?

2. Kenapa kita harus melakukan kebenaran? Jawablah dengan singkat, padat dan jelas.”


Saya menghela nafas panjang. Tidak bergeming untuk seketika. Ini bukan main-main.

Sepanjang pengetahuan untuk pertanyaan yang maha dasyat itu, khususnya yang pertama, saya kira hanya satu orang manusia di muka bumi ini yang pernah tercatat dalam sejarah, dialah Yesus, atau Isa. Dalam pengadilan yang diadakan dengan tergesa-gesa dan tendensius, gubernur jendral Pontius Pilatus mengintrogasi Yesus yang telah dituduh makar terhadap pemerintahan jajahan bentukan Romawi.



“Aku datang ke dalam dunia ini supaya aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraku.” Kata Yesus.

“Apakah kebenaran itu?” Tanya Pontius Pilatus.

Dan Yesus hanya diam. Tidak menjawab apa-apa.

Suasana begitu tegang. Sementara di luar pengadilan banyak orang menanti-nantikan putusan Pilatus.

“Tiada kudapati kesalahan dalam diri orang ini. Apakah yang kamu mau aku lakukan atas orang ini?” kata Pilatus.

“Bebaskan Barabas, dan salibkan dia. Bebaskan Barabas dan salibkan dia” Gema puluhan dan mungkin ratusan orang serempak meminta Yesus disalibkan. Barabas adalah seorang pemberontak yahudi yang ditahan penguasa romawi karena suatu kasus makar.

Kemudian Pilatus menyerahkan Yesus kepada bangsa yahudi. Dengan dilengkapi dengan jubah raja dan mahkota berduri, ia berkata kepada bangsa yahudi itu, sambil telunjuknya mengarah kepada Yesus,

“Lihatlah manusia itu.” maka dibawalah Yesus untuk disalib. Dan itu terjadi kira-kira jam 12 malam.

Mengapa Yesus tidak menjawab? Apakah Yesus tidak tahu jawabannya atau ia pura-pura tidak tahu?

Bukan.

Jawabannya : karena percakapan itu tidak pernah benar-benar terjadi.


Benar bahwa Yesus disalib, namun bukan atas permintaan bangsa Yahudi, melainkan oleh karena konspirasi para agamawan dan Pontius Pilatus sendiri. Karena pergolakan politik yang begitu massive, baitullah yang menjadi kiblat kaum yahudi di hancurkan tentara rumawi tahun 70 M, dan kaum yahudi melemparkan kesalahan ini kepada kaum Kristen. Begitu bencinya kaum yahudi kepada pengikut Yesus ini, sehingga anggota keluarga mereka yang mengikuti sekte ini harus dikeluarkan dari hubungan kekeluargaan dan darah mereka di halalkan untuk dibunuh. Dalam kegalauan yang begitu mencekam, si penulis injil yohanes membawa komunitasnya untuk memahami bahwa dalam kematian Yesus yang tragis itu, termaktublah perjalanan hidup dan iman mereka.

Seiring dengan eskalasi kekejaman kaum yahudi kepada sekte Kristen ini, sadar atau tidak sadar, kekejaman Pilatus ini diperlunak, seakan-akan ia tidak bersalah, dan semua kesalahan atas penyaliban Yesus itu ditimpakan kepada kaum yahudi. Mungkin ini terjadi agar kaum Kristen mendapat tempat bernaung dalam kekuasaan romawi dari ancaman kaum yahudi. Suatu emosi yang berlebihan dari penulis injil yohanes ini, yang mengakibatkan jutaan bangsa yahudi yang tidak tahu apa-apa atas penyaliban itu, harus menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan selama 2 milenia sesudahnya.

Tidak ada murid Yesus yang berani mengikutinya sampai di pengadilan, jadi mana mungkin ada orang yang tahu apa yang sedang terjadi di pengadilan tersebut?

Injil Yohanes ditulis kira-kira 70 tahun setelah Yesus wafat oleh seseorang mistikus yang mungkin tidak pernah melihat Yesus sendiri, namun pasti tergugah luar biasa akan pribadi Yesus yang kharismatik ini.

Dalam ingatannya akan Yesus, sang penulis injil itu melihat manusia sebenar-benarnya yang tulus, apa adanya,berani menolak tradisi dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan atas nama agama. (lihat catatan saya ttg manusia Yesus di note Tuhan itu ada sebanyak mereka yang memikirkannya).

Ia melihat dalam diri guru yang mati begitu muda ini, tersimpan semangat perubahan besar. Dalam kenaifan Yesus yang masih muda ini, mengalir darah pemberontakan kental atas ketidak adilan dan ketidak manusiawian yang dilakukan oleh 2 pilar, pilar keagamaan yang diwujudkan oleh otoritas agama yahudi di yerusalem yang memonopoli apa yang benar dan apa yang salah, dan pilar kekuasaan yang diwujudkan oleh kejumawaan dan kedigdayaan penjajah romawi.

Dalam manusia Yesus yang tidak berdaya ini, ia melihat mereka yang minoritas, miskin, terbuang oleh gerusan budaya feodalis , paternalistic dan male chauvinistik, tercampakan oleh syariat2 agama yang mengutamakan superioritas ras dan gender, terpedaya oleh kebodohan jaman.

Dan dalam manusia Yesus inipun termaktublah mereka yang terpinggirkan dan harus tinggal di bantaran kali-kali Jakarta, mereka yang terusir dari rumah dan tanah mereka demi pembangunan mall-mall, mereka yang tak berumah karena korban lumpur lapindo, mereka - kaum ahmadiah yang mempertaruhkan nyawa mereka suatu keyakinan, para wanita Indonesia yang harus meninggalkan keluarga demi menjadi tkw di luar negeri, penuh dengan bahaya dan taruhan maut. Dalam penderitaan Yesus, termaktub juga penderitaan kaum hawa yang hidup dalam kungkungan agama male chauvinistic yang memaksakan kepada mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dipakai, suatu erangan kesakitan dan kepasrahan kaum hawa yang harus rela diperlakukan tidak senonoh oleh laki-laki. Singkatnya dalam manusia Yesus, kemanusiaan ikut mati tersalib oleh dua pilar ini, kekuasaan dan kepongahan agama.

Manusia Yesus ini, bahkan tidak pernah mengkonsepkan apa kebenaran itu sendiri. Ia tidak pernah tertarik dengan mitos-mitos tentang wahyu ilahi, jibril, syariat dan isu mayoritas-minoritas.Baginya kehidupan adalah untuk dirayakan. Adalah para pengikutnya yang mengkonsepkan kebenaran, surga, kelahiran dari perawan maria, keselamatan surgawi, dsb.

Dalam kesakitan yang amat sangat, jeritan yang menyayat hati keluar dari kejujuran yang tak bisa disembunyikan,

“allahku, allahku mengapa engkau meninggalkan aku?” setelah itu wafatlah manusia Yesus.

Dan tidak ada yang menemaninya, selain ibunya dan para pengikut wanita yang melihat kejadian itu dari kejauhan, dalam ketakutan dan ketidak berpengharapan

Demikianlah takdir tragis sang pembawa keceriaan dunia bagi si miskin, terpinggirkan dan tak berpengharapan.

--------------- +++++ --------------------------
Jika Yesus sendiri tidak menjawab, atau setidaknya si mistikus penulis injil Yohanes sendiri tidak menjawab, maka jawaban apa yang harus saya berikan kepada murid-murid saya?

Suasana begitu hening. Senyap dan mencekam.

Kemudian saya menanggalkan sepatu saya. Saya melonggarkan baju saya. Duduk bersila dengan rileks di atas rumput dan terdiam.

Sambil saling menatap, para mahasiswa mengikuti hal yang sama. Satu persatu mengambil tempat di atas rumput yang hijau indah. Tak seorangpun membuka suara.

Tepat di hadapan saya, ada setangkai bunga Dandelion yang indah. Begitu ringkih dan ignorable, tidak ada yang memperhatikan kehadirannya sampai saya duduk di dekatnya. Bunga dandelion yang tumbuh hari ini dan langsung di injak-injak kaki manusia, tak ada satu orangpun peduli untuk memujinya.

Saya memetik bunga itu, saya tatap dengan lembut. Semua mata memandang bunga itu.

Saya tersenyum kepada bunga itu, dan saya hembuskan nafas saya. Tak terbilang serpihan putik bunga itu bertebaran di atas marcapada. Begitu lambat rasanya waktu berlalu sampai semua serpihan turun menyentuh rumput. Hening. Luruh.Runtuh.

Dan air matapun berderai….. tidak laki-laki -tidak wanita, mereka saling berpelukan. Semua haru-biru diekspresikan saat itu juga.

“Itulah kebenaran, teman”.

Mereka memahami apa yang saya maksud. Tidak dalam kata. Tapi dalam rasa. Suatu yg melampaui bahasa dan penalaran.

Kemudian saya berdiri dengan tegap, dengan telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit dan telapak tangan kiri ini mendekap dada, saya katakan:

“Bintang gemintang di atasku, dan hukum moral ada di dalam dadaku.

Inilah kenapa aku melakukan kebenaran. “

Tanpa di undang semua murid berdiri, berlari dan memeluk, merangkul saya. Kami menangis bersama-sama. Seluruh rasa lebur terkuras dalam momen cinta.

Tiada ruang – tiada waktu – tiada kata yang dapat membatasi rasa itu. It’s a moment of truth.

Setelah itu saya menenangkan mereka. Saya menggugah mereka ke dalam ruang kelas.

Kami memungut sepatu kami, dan sambil langkah kaki ini berderap maju menuju kelas – kami menyanyikan lagu kebangsaan kami


Imagine there's no heaven, It's easy if you try, No hell below us, Above us only sky, Imagine all the people living for today...

Imagine there's no countries, It isn’t hard to do, Nothing to kill or die for, No religion too, Imagine all the people living life in peace...

Imagine no possessions, I wonder if you can, No need for greed or hunger, A brotherhood of man, imagine all the people Sharing all the world...

You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope some day you (FB readers) will join us, And the world will live as one.

Inilah saya dan inilah panggilan dalam hidup saya, menjadikan kelas mahasiswa saya sebagai ladang yang subur, dimana akan saya semai benih-benih kemanusiaan, benih-benih anti diskriminasi ras, agama, dan orientasi seksual, benih-benih rasionalitas , integritas dan kejujuran.

*** (Sebelum beranjak ke bagian ke dua, mohon pembaca pahami bagian 1 dengan seksama, kalau berkenan)


Apakah kebenaran itu? - Senyap dan Sunya (bagian 2 selesai )

Menyusun kembali Puing-puing yang telah diruntuhkan

Dalam notes sebelumnya, saya begitu kritis dan mencemoohkan jargon2 agama yang sudah tidak berdasar. Saya membawa para pembaca kepada pemahaman bahwa agama harus didemitologisasi agar dapat dipahami dengan wajar bagi orang modern. Kita menempatkan mitos sebagai mitos dan pesan moral sebagai pesan moral.

Lewat logika sederhanapun mudah bagi kita untuk mendapati bahwa cerita2 agama berasal dari mitos-mitos dan legenda setempat. Bagaikan memisahkan susu dari buihnya, kita mengias-ias apa yang bisa kita ambil untuk mencari makna hidup kita di bumi ini.

Agama bathin vs agama bentuk

Mengapa dalam note di atas saya menampilkan cuplikan pengadilan Yesus? Tentu bukan tanpa alasan yang jernih.

Bagi para sufis dan spiritualis lainnya ada hal yang menarik dari manusia Yesus yang tidak didapati dalam nabi2 lain baik itu dalam agama yahudi maupun islam. Apakah itu?



Kalau kita perhatikan dengan seksama di seluruh cerita injil baik itu yang diakui ataupun tidak diakui oleh gereja, maka kita akan dapatkan suatu ciri khas yang tidak mungkin kita dapatkan dari nabi-nabi lain sebelum dan sesudah Yesus, yaitu: ketika nabi lain bersabda, “demikianlah firman tuhan …. ," atau mengatakan malaikat anu turun padaku dan menyampaikan pesan anu. Hal tersebut tidak pernah Yesus lakukan. Ia selalu dalam sikap sadar, tidak trance, ketika berkata ….. “aku berkata kepadamu, sesungguhnya kerajaan allah itu ada di antaramu….. “ , “aku berkata kepadamu cintailah sesamamu manusia ...dsb ”


Apakah artinya ini?

Bagi Yesus kebenaran itu bukan terletak pada suatu pribadi di luar sana, kebenaran bukan sesuatu catatan dilangit tentang apa yang halal dan haram, boleh dan tidak boleh , bukan karena adanya pribadi adikodrati yang bertahta di atas arhsy dengan jibril sebagai perantara ke pada manusia, namun suatu keputusan untuk masuk dalam kehidupan nyata dan berbagi kasih dengan sesama Ia tidak peduli dengan syariat dan penyeragaman keyakinan. Bagi Yesus otoritas wahyu tidak berada di balik pengaku-akuan karena si nabi bertemu jibril atau sebagainya. Baginya wahyu adalah kebijaksanaan intuitif dalam hidup sebagai produk dari hidup yang kontemplatif, lembut dan ceria, bukan suatu catatan yang turun dari langit yang hanya bisa ditangkap oleh seorang nabi seperti yang orang islam pahami.


Dalam share hati ke hati dengan seorang romo, beliau pernah mengatakan. “mempelajari ketuhanan tidak akan menambah pengetahuan apa-apa tentang Yesus, justru dengan mempelajari manusia Yesus maka kita akan memahami apa itu idea ketuhanan dalam pemahaman manusia.”


Ketika ketuhanan ini ditelanjangi, maka yang nampak adalah kemanusian dan pencarian makna hidup itu sendiri. Inilah concern kami yang mendalami spritualisme.


Pendekatan hukum – syariah dalam agama, hanyalah negative reinforcement yang menganggap bahwa manusia itu pada dasarnya bodoh, liar dan harus dikekang dan diseragamkan. Pendekatan penyeragaman ini selalu memandang manusia sebagai agen kejahatan dalam dirinya sendiri.


Manusia yang terilusi dengan bentuk dan fenomena akan semakin terpinggir dari gerusan jaman yang begitu cepat berubah. Mungkin dalam abad ini juga, manusia harus hidup di dasar lautan dengan membangun kubah2 besar karena daratan sudah terpolusi dengan zat radioaktif dan penipisan ozon, pada saat itu dimanakah kita berkiblat ketika shalat? Di manakah sungai Gangga? Dimanakah Yerusalem, kota damai yang penuh dengan kutuk kekerasan

Dalam abad2 mendatang manusia akan mengarungi alam semesta, dimanakah manusia relijius akan berkiblat ketika shalat? Mereka yang begitu terilusi dengan agama bentuk, tidak akan mampu menjawab hal ini.

Apa yang mendesak dalam diri kita adalah menemukan makna hakiki dibalik apa yang tersurat. Meretas dari cangkang menuju isi, dari eksoteris menuju esoteric. Beralih dari agama bentuk kepada agama bathin, bahkan bisa saja kita katakan itu bukan agama, namun suatu perjalanan diri atau apapun sebutannya.


Kant, dan realitas kebenaran.

Dalam note sebelumnya saya menyitir kalimat dari Immanuel Kant seorang filsuf Jerman, “Bintang gemintang di atas langit, dan hukum moral ada di dalam dadaku.”

Saya percaya bahwa kebenaran hakiki itu ada, namun sebagai mana bintang gemintang yang begitu jauh dilangit, tak mampu kita raih, begitu pula kebenaran hakiki itu tidak bs kita pahami dengan logika kita yang mencerap dalam pandangan dualistic.



Didalam dunia non saintifik, ding an sich atau realitas pada dirinya sendiri, tidak akan pernah dipahami. Yang bisa kita pahami adalah ding fur uns, realitas kebenaran bagi kita, yang sudah dipermak oleh intelektualitas, budaya, ruang dan waktu. Mencari kebenaran hakiki dalam agama bentuk adalah naïf dan tidak layak diusahakan.



Kebenaran hakiki tersebut hanya bisa kita rasakan dalam keindahan, kelembutan, dan penerimaan diri sebagaimana saya ceritakan ttg bunga Dandelion yang hampir tidak dipedulikan orang namun nampak keindahannya ketika kita duduk tenang. Memandang keindahan dunia dalam kelembutan dan keterpanaan, disanalah tujuan dalam hidup dan kebermaknaan hidup itu didapatkan. Saya pribadi mendapat ilham tersebut dari cerita tentang Buddha yang menjelaskan ttg transmisi kebenaran tertinggi kepada Sariputtra, muridnya yang paling cerdas . Menurut tradisi buddhis, darma yang tertinggi adalah tiada darma itu sendiri, karena darma yang dicerap oleh akal manusia masih merupakan negasi dari a-darma.



Begitu pula dalam mistisme hindu, saya temukan ttg kisah seorang brahmana tua yang ditanya oleh muridnya tentang realitas kebenaran mutlak. Sang brahmana tua tidak menjawab dengan jawaban verbal, namun dengan mengupas sebiji bawang lapisan demi lapisan sampai terus sampai ke lapisan terdalam, dan tiada lagi lapisan apa2. Tiada berinti, sunya.kosong.



Manusia Yesus, manusia Gautama dan manusia Krishna adalah manusia2 lembut yang melihat dan memasuki realitas kebenaran dengan lirih dan manusiawi. Begitu luar biasa orang2 macam mereka sehingga selama ribuan tahun hanya sedikit sekali orang yang memahami dan memasuki kawasan pengalaman mereka. Para pengaggum tokoh2 ini tidak bisa melihat kebenaran ini karena selumbar dogma dan mitos yang tebal di mata mereka. Lebih sukar lagi bagi saya untuk menjelaskan ini bagi umat islam. Karena islam dibentuk dari agama bentuk, bukan agama bathin. Maukah para pembaca menolong saya membagikan ini kepada saudara kita umat islam di negeri ini?



Bagi saya pribadi, melakukan kebajikan dan kebenaran, bukan untuk membuat diri kita sesuai dengan tuntutan agama, syariah, pahala surga dan ancaman neraka.



Saya melakukan kebajikan karena itu sudah terpatri dalam hati dan akal saya. Bukan karena suatu daftar apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan, namun semata-mata sebagai produk dari pembatinan dari kebermaknaan hidup ini. Seperti halnya angin puting beliung yang memuntahkan apa saja yang ada dalam jangkauannya, begitu pula orang yang berintegritas melakukan kebajikan karena memang itu keluar spontan dari dalam bathinnya.



Saya sangat percaya bahwa nature dari manusia adalah baik. Dalam didikan rasionalitas dan kejujuran, manusia justru akan lebih bertanggung jawab ketimbang terus diiming-imingi pahala dan ditakut-takuti neraka abadi.

Hari ini saya mendapat kabar bahwa setelah sekian lama pemerintah Belanda memberlakukan kebebasan bagi para pecandu narkotika, ternyata justru penjara semakin sepi dan beberapa akan ditutup karena tidak ada yang menempatinya. Terbukti bahwa dalam kebebasan dan kedewasaan ada tanggung jawab.



Berbeda jauh dengan masyarakat kita dimana jargon2 agama selalu digembar-gemborkan namun nilai2 kemanusiaan diinjak-injak dan kejujuran di hempaskan jauh-jauh dari kehidupan berbangsa.


Tokoh yang dimunculkan


Sejak tulisan2 saya di FB & SK dipublish, banyak pembaca yang menanyakan sesuatu dan meminta saran. Banyak pula yang ingin copy darat dengan saya. Seakan-akan tokoh lutfi ini tahu segalanya bak juru selamat. Kita tahu bahwa tidak ada juru selamat, satria pininggit, imam mahdi, kalki dsb. Semua agen mitologis itu merujuk pada kedewasaan dan kesadaran tertinggi dalam diri kita sendiri.

Ada yang menebak lutfi ini adalah tokoh ini atau itu, namun hanya sedikit sekali pembaca bisa meraba-raba alasan keberadaan atau raison d’etre dari tokoh narsis, sok tau, polos, sompral dan vocal ini. Dalam note lalu saya mengetengahkan isu tentang teologi cerita , mitos kontra mitos, bahwa lewat cerita dan tokoh2 kita menumbangkan nilai2 lama dan memunculkan nilai2 baru, mengapa anda tidak bisa menjadikan tokoh lutfi ini sebagai bagian dari mitos baru itu sendiri?

Lutfi – yang adalah – yang lembut hatinya, akan muncul dengan sendirinya di dalam hati dan pikiran orang yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas dan kejujuran. Dan pada mereka yang memiliki kualitas inilah maka salam, rahamat dan damai turun atasnya (alaihi salam).

Bertanya pada Lutfi adalah bertanya pada diri sendiri. Menemui lutfi adalah menemui diri anda sendiri. Mencaci lutfi adalah mencaci diri anda sendiri. Tokoh mitologis mistis ini hanya mencoba meretas benih2 potensi terbaik dalam diri anda sendiri agar berkembang. Ia dimunculkan karena kegundahan si penulis akan kehidupan beragama dan berbangsa kita.


Jika sekarang para pembaca menyadari bahwa tokoh Lutfi as hanyalah tokoh mitologis mistis yang mengaduk emosi dan inspriatif karangan sang penulis anonimus, mampukah anda memahami bahwa baik itu Gautama, Musa, Yesus dan Muhammad adalah sangat mungkin tokoh2 mitologis yang dibentuk oleh para pujangga, ahli agama, mistikus dari jaman-jaman tertentu untuk maksud-maksud moral dan politis kaum tertentu?

Suatu saat akun ini akan diblokir karena terlalu kritis. Namun Lutfi – Lutfi lain akan tumbuh dan terus bersemi dalam diri manusia Indonesia yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas, kejujuran dan integritas. Saya sendiri akan tetap berjuang semampu saya dengan satu cara atau lainnya.

Selamat menempuh jalan menuju summum bonum, insan kamil, kesadaran kristus, kebudhaan, moksa, atau tidak sama sekali karena itu cuman pilihan dalam hidup, kita2 sendiri yang menentukan hidup ini. Salam ceria, salam kemanusiaan. Tidak ketinggalan pula … seru sekalian alam.

1 komentar:

  1. Bung Lutfi .... Siapun engkau, terima kasih untuk mutiara kebenaran ini.

    BalasHapus